Nilai Guna Filsafat Metafisika | Lyceum Indonesia

Nilai Guna Filsafat Metafisika | Lyceum Indonesia
8 1.062

Metafisika dapat digunakan sebagai studi atau pemikiran tentang sifat tertinggi atau terdalam (ultimate nature). Keadaan atau kenyataan alam yang tampak nyata dan variatif, tidak mungkin didalami secara utuh jika tidak menggunakan metafisika. Melalui pengkajian dan penghayatan terhadap metafisika, ilmuan dituntun pada jalan dan penumbuhan moralitas hidup.

Bertens (1975: 154) karena itu, menyebut bahwa metafisika dapat diterjemahkan sebagai kebijaksanaan (shopia) tertinggi. Metafisika akan membawa manusia pada pencapaian prinsip dan penyebab tertinggi yang melatarbelakangi lahir dan munculnya seluruh eksistensi yang tampak. Termasuk didalamnya eksistensi manusia yang sudah lama lupa dan mengasingkan bahkan membuang eksistensi tertinggi [Tuhan] dalam hingar bingar kehidupan.

Di ranah yang lebih praksis, metafisika dapat mendorong orang untuk berlaku bijak. Sipat kebijaksanaan yang paling prinsip dan paling fundamental akan mampu diurai, jika kajian metafisika mampu diinternalisasi. Melalui kajian metafisika, penyebab pertama (penyebab, efisien, final dan material formal) dari segala yang ada akan dikaji. Melalui kajian ini, manusia diharapkan dapat kembali menemukan fitrah dasarnya sebagai hamba Allah. Ia akan dituntut memiliki tanggungjawab dan menunaikan kewajiban dalam berbagai sisi kehidupan.

Tujuan Kajian Metafisika

Hubungan metafisika dengan filsafat ilmu dapat diibaratkan seperti hubungan dua sisi mata uang yang sulit dipisahkan meski gampang dibedakan. Filsafat ilmu membicangkan persoalan metafisika lebih karena hampir tidak ada satu ilmupun yang terlepas dari persoalan metafisika. Dalam banyak hal, ilmu dan pengkaji ilmu (ilmuwan) yang kering metafisika berakibat pada hampanya ilmu. Tentu ini subjektif. Tetapi, kelihatannya sangat sulit ditolak.

Pendapat demikian, diakui Jujun S. Suriasumantri (1982: 69-70). la melihat ilmu sebagai sesuatu yang berfungsi menafsirkan alam dan segala dinamikanya. Setiap dinamika, tidak dilihat hanya dalam pengertian apa adanya. Atau tidak harus sesuai dengan apa yang dapat dilihat, didengar, diraba dan dicerap. Sebab jika ilmu hanya sebatas itu, maka mengutif Jujun S. Suriasumantri, akan terjadi proses pendangkalan terhadap ilmu itu sendiri. Dalam perspektif ini, saya memahami ilmu yang lahir dengan semangat metafisik. akan mendorong timbulnya ilmu yang jauh lebih substantif. Ia akan tampak lebih eternal dan dalam beberapa hal dapat juga disebut sakral.

Itulah tujuan yang hendak digulirkan dari pengkajian terhadap metafisika. Jika benar itu tujuannya, maka ilmuwan tidak dapat melepaskan diri dari masalah-masalah yang dihadapi dalam kajian metafisika. Makin jauh ilmuwan melakukan avountur, maka akan semakin dekat dan mendesak terhadap pemahaman yang utuh tentang metafisika.

Ilmuwan yang endak meneliti bebatuan di labolatorium misalnya, pasti melakukan pertanyaan, apakah dalam batu itu terpendam proses kimia fisika? Atau di dalam batu itu bersembunyi roh halus? Atau bahkan mungkin akan muncul pertanyaan bagaimanakah sebenarnya atau hakikat dari batu itu? Apakah manusia yang tertawa, menangis dan jatuh cinta; semua itu hanya merupakan proses kimia-fisika belaka seperti difahami Sigmun Frued atau ada wujud hakiki di balik manusia itu yang menggerakkan seluruh gerak dinamiknya?

Apakah pengetahuan yang manusia dapatkan ini bersumber pada kesadaran mental atau hanya rangsangan penginderaan belaka? Kajian terhadap soal- soal dimaksud, hanya ada dalam ruang lingkup kajian metafisika.

Aliran Metafisika

Meski demikian, harus pula diakui bahwa jawaban terhadap pertanyaan tadi tentu akan direspon secara beragam oleh ahli-ahli filsafat dan para saintis. Perbedaan itu dilatar belakangi faham yang dianut serta latar belakang pemikiran masing-masing filosofdan ilmuwan yang memberikan jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan tadi.

Bagi ilmuwan yang berpaham materialisme, memahami aspek lain di luar benda terwujud, tentu tidak mungkin mempercayai adanya sesuatu di balik yang terwujud. Ia dengan sekuat tenaga akan mencari berbagai penemuan sesuai dengan standar dasar kefilsafatan yang dianutnya tadi, yakni materi atau sesuatu yang dapat dicerap dan dirasa.

Hal yang sama, berlaku dalam soal-soal yang melingkupi kehidupan manusia. Misalnya apakah rasa gila yang dimiliki manusia terjadi karena proses kimiawi, yakni terjadinya perubahan pada benda-benda fisik yang dimiliki manusia, seperti difahami oleh Sigmund Frued bahwa rasa gila, senang, bahagia dan sedih seseorang dipengaruhi oleh faktor kimiawi? Atau ada faktor lain yang menjadi penyebab utama di luar dimensi fisik?

Bagi kelompok materialis tentu akan mengatakan bahwa perasaan dan kenyataan tadi, bukan digerakan wujud absolute, yakni Tuhan atau apapun namanya. Jenis aliran ini menolak pemikiran keberadaan wujud absolut di balik yang fisik. Mereka akan memahami persoalan tadi sebagai proses kimiawi-fisik belaka. Tanpa sedikitpun dibauri apek-aspek lain.

Ilmuwan yang berfikir faham ini akan membatasi alatrt sebagai objek ilmu pada lingkup pengalaman yang bersifat rasional-empiris atau sebaliknya (deduksi vs induksi vs deduksi). Bagi kelompok ini, ilmu tidak berpaling pada perasaan tetapi terfokus pada objek-objek yang bersifat konkret, nyata dan rasional. Secara etimologis, ilmuwan dengan jenis ini akan membatasi hakikat keilmuan dalam jangkauan pengalaman manusia semata. la tidak berani menerobos binding kekuatan keilmuan di luar batas tadi.

Tidak heran juga jika dalam perspektif ini, sebetapapun sistematisnya Ilmu Kalam atau Ilmu teologi, ia tetap tidak akan disebut sebagai ilmu. Mereka menganggap bahwa ilmu-ilmu tadi, bukan dunia nyata. Padahal standarisasi keilmuan kaum materialis selalu akan menempatkan ilmu hanya untuk mencari jawaban terhadap masalah-masalah dunia yang nyata. Ilmu diawali dengan fakta dan dianggapnya harus diakhiri dengan fakta pula.

Metafisika Ilmu dan Nilai Transenden

Kondisi demikian, dalam beberapa hal akan merugikan umat manusia sebagai “creator” ilmu. Sebab ilmu akan kesepian dari nilai-nilai transendental. Manusia akan menjadi lebih congkak dan sulit peduli terhadap aspek-aspek non fisik. Pada akhirnya, ilmuan dengan tipologi semacam ini akan berujung pada hilangnya nilai-nilai dasar dalam pengetahuan.

Perkembangan ilmu; baik ilmu-ilmu fisika, biologi dan ilmu sosial, yang dihasilkan ilmuwan dengan jenis ini, berujung pada menjauhnya manusia dari sifat transedenental, ketuhanan. Dan itu telah dibuktikan dengan munculnya paham ateisme serta nilai-nilai pengetahuan sekular yang diangun ilmuwan dengan jenis ini. Harus juga diakui bahwa meski aliran tadi berdampak sangat negative terhadap runtuhnya nilai-nilai kemanusiaan

dan nilai-nilai ketuhanan, secara pragmatis, faham ini dapat pula berdampak positif. Sebab ketika aspek metafisik keilmuan difahami sebagai dinamika materi, konsekwensinya manusia tidak akan pernah puas untuk terus melakukan penelanjangan terhadap basis keilmuan. Manusia merasa berhak untuk terus mengembarigkan ilmu dari satu tepian menuju ke tepian lain. Ujungnya, ilmu akan berkembang dengan tingkat perkembangan yang sangat pesat.

Berbeda dengan ilmuwan yang berhaluan tadi, ilmuwan yang berpedoman pada filsafat idealisme, usaha mencari tahu tentang berbagai informasi yang ada dalam objek empiris rasional itu, tentu saja akan dibarengi dengan mencoba melakukan kajian ulang dalam perspektif yang agak berbeda. Ia menyadari akan keterbatasan dirinya sebagai manusia dan mengakui kehadiran satu Dzat yang Maha Besar di balik berbagai realitas yang ada. Manusia dituntut untuk memberikan perigertian dan pendalaman terhadap objek material yang terlihat.

Peran Ilmu Pengetahuan Melalui Pengkajian Terhadap Metafisika

Selain kegunaan metafisika dan hubungannya dengan ilmu pengetahuan sebagaimana dijelaskan di atas, ada juga beberapa peran yang diperoleh ilmu pengetahuan melalui pengkajian terhadap metafisika. Di antara peran-peran itu adalah:

Pertama, metafisika mengajarkan tentang cara berfikir yang cermat dan tidak kenal lelah dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Seorang metafisikus selalu mengembangkan pemikirannya untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang bersifat enigmatik (teka-teki) yang belum pernah diobservasi sekalipun sampai pada titik yang tidak berujung. Persoalan- persoalan semacam itu, menurut alur berfikir yang serius dan sungguh-sungguh dengan tujuan memperoleh jawaban memuaskan.

Kedua, metafisika menurut originalitas berfikir yang sangat diperlukan bagi ilmu pengetahuan. Seorang rnetafisikus senantiasa berupaya menemukan hal-hal baru yang belum pernah diungkap. Sikap semacam ini menuntut kreativitas dan rasa ingin tahu besar terhadap suatu persoalan. Pematangan sikap semacam ini akan mendidik seseorang untuk selalu berkiprah pada lingkup penemuan (contexc of discovery), bukan lingkup pembenaran semata (context a/justification). Di sini dan dalam konteks ini, penemuan ilmiah selalu akan menghasilkan up to date-nya (daya barunya) dan memberikan keterkejutan baru atas satu capaian menuju capaian lain.

Ketiga, metafisika memberikan bahan pertimbangan yang matang bagi pengembangan ilmu pengetahuan, terutama pada wilayah pra anggapan-pra anggapan, sehingga persoalan yang diajukan memiliki landasan berpijak yang kuat. Asurnsi ini muncul dilatari oleh sebuah semangat bahwa aspek fisik- rasional, dalam banyak hal tetap akan memberi keterbatasan tertentu, karena ada dalam kondisi terbatas pula. Sifat terbatas dimaksud, menyangkut sisi objek sekaligus masing-masing orang.

Keempat, metafisika membuka peluang bagi terjadinya perbedaan visi dalam melihat realitas. Ia tidak memiliki kebenaran yang benar-benar absolute. Konsekwensi paling positif dari berkembangnya corak demikian adalah terjadinya visi ilmu pengetahuan dengan perkembangannya menurut ramifikasi (cabang) yang sangat kaya dan beraneka ragam. Hal terlihat dalam perkembangan ilmu pengetahuan dewasa ini (Lihat Rizal Muntasyir, 2003: 15-16).

Akhirnya Metafisika Memang Sangat dibutuhkan

Memperhatikan demikian kompleksnya kegunaan kajian metafisika jika dihubungkan dengan ilmu pengetahuan, atau pengaruhnya terhadap ilmu pengetahuan, maka rnetafisikus dapat membantu ilmuwan untuk menunjukkan asumsi-asumsi metafisis yang diperlukan bagi pengembangan dan

pembentukan teori atau paradigma ilmu pengetahuan. la menurut secara berkelanjutan terhadap sejumlah pengetahuan yang telah berhasil ditemukannya untuk terus dilakukan pengkajian. Jika ini terjadi, maka metafisika dapat membantu ilmuwan untuk meneruskan ciri dan sifat ilmu yang menuntut adanya tindak lanjut melalui observasi dan penelitian lanjutan yang jua sulit berkesudahan. Kecuali dunia ini benar-benar musnah dan tidak ada lagi penghuni dengan genus bernama manusia.*** Prof. Dr. H. Cecep Sumarna

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

  1. Amin Suhaemin Mahasiswa Pasca Sarjana IAI BBC berkata

    Dalam kesempatan yg berbeda ketika menjelaskan di ruang kuliah prof. cecep pernah menjelaskan bahwa filsafat ilmu adalah ilmu yang mempelajari ilmu-ilmu dari sudut pandang filsafat., kalau saya mengutip tulisan profesor Ahmad Tafsir perbedaan antara filsafat dan ilmu/sains adalah empiris dan tidak empiris. ilmu itu sesuatu yg empiris, dan filsafat tidak pernah empiris, kalau konsep/teori itu sudah ada bukti empirisnya maka itu tidak bisa lagi disebut filsafat sesuai dg ciri filsafat itu sendiri yang spekulatif dan radikal. dalam hal ini saya ingin menanyakan sejauh mana batasan-batasan filsafat dalam membantu sebuah penelitian ilmu apalagi kalau dikaitkan dengan filsafat metafisika, sehinga ilmu itu tidak terjebak dalam ranah filsafat karena sifat ilmu itu sendiri adalah empiris. maaf kalau sy gagal faham, karena sangat tertarik mempelajari filsafat ilmu sehingga muncul pertanyaan ini dalam benak saya.

  2. makrubin nim 14166310040 PAI /A semester satu. berkata

    apakah ada relasi atau hubungan metafisika dengan materialisme , karena ada yg mengatakan ada dan ada yang mengatakan tidak ada? kalau dari yang saya baca yaitu menurut FRANCIS BACON ada hubungannya, karena antara ide dan materialisme lebih dulu ada materialisme dari pada ide. benarkah pemahaman demikian ?

  3. ANI AZKIYATUL MA'RIFAH berkata

    Assalamu’alaikum
    Bapak punten minta poin-poin dari kegunaan-kegunaan metafisika nya 🙂
    Terimakasih
    Wassalamu’alaikun

    1. AML | Lyceum.id berkata

      Insyaallah kami akan memuatnya pada artikel selanjutnya.
      terimakasih telah bersedia mengunjungi website kami. 🙂

  4. Zahuro berkata

    Assalamualaikum wr.wb
    Pak saya mau bertanya jelaskan hubungan antara ilmu dengan filsafat

    1. AML | Lyceum.id berkata

      Coba baca artikel ini https://www.lyceum.id/memahami-ilmu-dan-pengetahuan-perspektif-filsafat/
      Semoga bisa membantu menjawab pertanyaan anda.
      terimakasih telah berkunjung.. 🙂

  5. MUFLIHAH AWALIYAH berkata

    *NAMA : MUFLIHAH AWALIYAH
    KELAS : IPS B / SEMESTER 1
    NIM : 1608104049
    Assalamualikum wr.wb
    Maaf pa sebelum nya saya mau bertanya
    metode apa sajakah yang dipakai dalam berfilsafat ?

    1. MUFLIHAH AWALIYAH berkata

      NaMA : MUFLIHAH AWALIYAH
      KELAS : IPS B / SEMESTER 1
      NIM : 1608104049
      Assalamualikum wr.wb
      Maaf pa sebelum nya saya mau bertanya
      metode apa sajakah yang dipakai dalam berfilsafat ?

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.