Nilai Guna Internalisasi Nilai | Interactive Learning Part – 8

Nilai Guna Internalisasi Nilai
0 1.007

Ada beberapa nilai guna yang dapat diperoleh dengan melaksanakan model pendekatan internalisasi dalam pembelajaran. Nilai-nilai dimaksud antara lain: a). Membangun integritas; b). membangun profesionalisme; c). Menumbuhkan Karakter Inovatif, dan; d). Mengembangkan prinsip kerjasama (team work). Penjelasan keempat nilai guna dimaksud adalah sebagai berikut:

 Membangun Integritas

Menjalankan Tugas dan Pekerjaan dengan selalu memegang teguh kode etik dan prinsip-prinsip moral, yang diterjemahkan dengan bertindak jujur, menepati janji dan bertindak konsisten. Prinsip ini akan berkaitan langsung dengan kepribadian seseorang. Berikut akan digambarkan beberapa tipe kepribadian, di antaranya:

  1. Peserta didik yang suka menuntut lebih jauh. Hal ini akan dicirikan dengan kecenderungannya yang vokal dan cenderung emosional, tidak peduli (corporate) dengan aturan dan cenderung demonstratif. Bila berhadapan dengan siswa model demikian, guru yang menjadi pengajar tentu tidak perlu menghadapi siswa seperti dengan cara yang berlebihan. Hanya saja dalam internalisasi, guru diperlukan berjabat tangan dengan tegas, tatap mata secara langsung, jaga jarak, jaga penampilan dan tentu menjaga wibawa.
  2. Peserta didik yang cenderung menciptakan kehebohan. Hal ini akan dipercirikan dengan keinginanya untuk berbicara, butuh pengakuan sosial, bicara penuh antusias dan murah senyum. Sikap guru terhadap siswa model demikian dilakukan dengan cara: interupsi, panggil nama, sering simpulkan pembicaraan, kontrol pembicaraan dengan pertanyaan tertutup.
  3. Peserta didik yang tenang. Hal ini akan dicirikan dengan stabilitas emosi yang tinggi, memiliki loyalitas yang baik, santai dan tidak suka perubahan. Terhadap siswa atau peserta didik yang demikian, guru sebaiknya menawarkan solusi praktis, bersikaplah santai, jaga suasana dan tetap tenang.
  4. Peserta didik yang patuh. Hal ini dipercirikan dengan kebiasannya yang perfeksionis, selalu sesuai dengan aturan, butuh informasi dan solusi. Sikap guru ketika berhadapan dengan siswa yang demikian adalah jangan mengajak dia untuk ngobrol (Guru harus lebih banyak meng-iya-kan tanda setuju terhadap siswa dimaksud) dan selalu menjaga jarak.

Sikap Guru

Karakter peserta didik di atas, ditambah dengan sikap guru yang harus ditempuh, tujuan akhirnya adalah agar guru tetap mampu terus menciptakan suasana yang  cool and calm karena amarah tidak menyelesaikan masalah. Ingat pula bahwa peserta didik adalah, Customer Service guru dan ia adalah juga manusia, punya rasa punya hati, jangan samakan dengan pisau belati.

Sikap ini, tetap penting dipertahankan, dan guru terus diupayakan untuk “menjaga” dan “melindungi” peserta didik agar tetap dapat dianggap: Penting, ditanggapi secara serius, diperlakukan dengan hormat,  memberikan pelayanan yang efisien dan terbaik, merasa tetap didengarkan, solutif dalam memecahkan masalah, dan tetap merasa memperoleh bantuan yang kompeten. Intinya guru harus memuaskan klien peserta didik sebagai klinnya.

Solusi lain yang dapat ditawarkan kepada siswa dengan cara kerja di atas, adalah peserta didik harus terus memperoleh pertolongan dari guru dalam bentuk: Bantuan, penghargaan dan pengakuan, rasa simpati dan dukungan, dengarkan dengan penuh empati dan pengertian, kepuasan, saling percaya, tampilkan wajah yang bersahabat, anggap peserta didik sebagai orang penting, dan pelayanan dan pembelajaran yang berkualitas. Tujuan dengan sejumlah cara yang ditempuh di atas, dalam implementasi internalisasi, guru juga dituntut memiliki kemampuan menangani keluhan mereka dengan cara:

  1. Tenang dan dengarkan dengan baik
  2. Jangan tunda penanganan
  3. Cari akar masalah (istilah komputernya : explore clien)
  4. Akui perasaan peserta didik dalam bentuk empati
  5. Tanyakan solusi yang diinginkan peserta didik
  6. Guru perlu mengunakan solusi
  7. Upaya guru tidak “mempermalukan” peserta didik, baik langsung maupun tidak langsung.[16]

Internalisasi dan Teori Skiner

Teori lain yang dapat digunakan untuk menganliasis fungsi atau manfaat internalisasi, dapat dilacak dari teori penguatan yang dikembangkan Skiner. Teori ini lebih banyak menekankan pada aspek-aspek yang berkaitan dengan faktor-faktor yang dapat memperkuat atau memperlemah seseorang dalam melakukan suatu tindakan. Menurut teori ini, kuat atau lemahnya dorongan bagi seseorang melakukan suatu tindakan banyak tergantung pada faktor-faktor yang memperkuat atau memperlemah dari hasil tindakannya.[17]

Apabila suatu tindakan menghasilkan suatu yang memuaskan, maka tindakan itu cenderung akan diperkuat. Dan sebaliknya, apabila suatu tindakan menghasilkan sesuatu yang kurang memuaskan, maka tindakan itu cenderung akan diperlemah. Perinsip ini oleh sekiner disebut sebagai operant conditioning. Berdasarkan teori ini setiap rangsangan atau setimulus yang sampai pada diri seseorang akan diberi sambutan atau respon. Respon yang meberikan kepuasan akan diperkuat dan respon yang tidak memuaskan akan diperlemah.

Menurut Skiner, setiap respon yang terjadi dari suatu setimulukan, akan menjadi setimulus baru yang mendorong berperilaku. Dalam konseling klien hendaknya diberikan setimulus atau rangsangan yang dapat memberikan kepuasan, dan selanjutnya diberikan penguatan terhadap respon-respon yang dinilai baik.

 Menumbuhkan Karakter Inovatif

Memiliki pemikiran yang bersifat terobosan dan atau alternatif pemecahan masalah yang kreatif, dengan memperhatikan aturan dan norma yang berlaku. Dalam posisi ini, internalisasi nilai-nilai pendidikan keagamaan menjadi penting dilakukan. Di letak ini, internalisasi harus dianggap sebagai visi baru pendidikan dalam kerangka meningkatkan budaya inovatif di kalangan peserta didik.

Pencapaian visi adalah proses yang terus berjalan. Karena itu, visi yang telah dirumuskan tidak cukup jika hanya diumumkan satu kali untuk kemudian dilupakan, melainkan harus disampaikan berulang-ulang. Baik itu di awal pembelajaran, setiap pertemuan dengan peserta didik bahkan bila perlu melalui  surat, memo, ­e-mail, kartu anggota atau ditempel pada dinding sekolah. Hal ini berguna untuk mengingatkan peserta didik tentang visi pendidikan dalam menanamkan pemahaman akan pentingnya visi baru tersebut yang hendak dicapai dunia pendidikan.

Visi pendidikan dan pembelajaran yang demikian tentu untuk dicapai. Ia  bukan hanya sekedar dibuat. Hidupkan visi internalize niali dimaksud dalam setiap aktivitas pendidikan.

Guru sendiri baik dalam pengambilan keputusan, penentuan target, maupun dalam tingkah laku sehari-hari, harus menunjukkan visi baru dimaksud. Visi baru dimaksud, tentu akan terasa lebih penting untuk mereka yang menjadi pemimpin di lembaga pendidikan. Penting bagi para pemimpin organisasi untuk bertindak sesuai dengan nilai-nilai dan visi pendidikan. Saat peserta didik melihat pemimpin mereka menjiwai visi tersebut, mereka akan memiliki rasa percaya terhadap pemimpin dan termotivasi untuk meniru apa yang dilakukan pemimpin mereka.

Mengembangkan Teamwork.

Nilai guna lain dari diimplementasikan model pembelajaran dengan menggunakan pendekatan internalisasi adalah untuk meningkatkan kemampuan kerjasama anak didik dengan dengan orang. Kemampuan mereka dalam membangun network berfungsi untuk menunjang tugas dan pekerjaan yang akan diemban mereka.

Secara sederhana, lembaga pendidikan sebagai sebuah produsen sumber daya manusia adalah organisasi yakni sekumpulan orang yang memiliki tujuan yang sama, yakni peningkatan kemampuan memiliki sikap kebersamaan. Dalam implementasinya, organisasi di lembaga pendidikan akan muncul elemen-elemen seperti pemimpin, sistem, komunikasi dan sebagainya.

Jika tujuan sudah ditetapkan, maka pergerakan sepelan apapun adalah sebuah kemajuan. Namun jika tidak punya tujuan, bergerak sekencang apa pun bisa jadi malah menuju kehancuran. Ketidakpahaman akan visi rawan terjadi pada organisasi yang melakukan pergantian kepengurusan setiap periode waktu tertentu. Yang berarti dalam organisasi tersebut selalu muncul orang-orang baru, dan kehilangan pemain-pemain lama. Orang-orang baru tersebut biasanya datang dengan visi dan tujuan yang ada di kepala mereka masing-masing. Nah, penanaman visi dan tujuan organisasi ini menjadi suatu tantangan tersendiri dalam organisasi.

Mengembangkan prinsip kebersamaan ini, sejalan dengan suatu rumusan manusia sebagai homo social. Konsep ini mengacu pada perilaku manusia yang menuntut kerjasama dan melakukan hubungan dengan lingkungan sosial untuk mandiri dan dapat berinteraksi atau untuk menjadi manusia sosial. Interaksi adalah komunikasi dengan manusia lain, suatu hubungan yang menimbulkan perasaan sosial yang mengikatkan individu dengan sesama manusia, perasaan hidup bermasyarakat seperti tolong menolong, saling memberi dan menerima, simpati dan empati, rasa setia kawan dan sebagainya.[24]

Internalisasi dalam Interaksi Sosial

Melalui proses interaksi sosial tersebutlah seorang anak akan memperoleh pengetahuan, nilai-nilai, sikap dan perilaku-perilaku penting yang diperlukan dalam partisipasinya di masyarakat kelak. Hal ini sejalan dengan yang dikatakan Zanden (1986) bahwa kita terlahir bukan sebagai manusia, dan baru akan menjadi manusia hanya jika melalui proses interaksi dengan orang lain.

Artinya, sosialisasi merupakan suatu cara untuk membuat seseorang menjadi manusia atau untuk menjadi mahluk sosial yang sesungguhnya. Pengaruh paling besar selama perkembangan anak pada lima tahun pertama kehidupannya terjadi dalam keluarga. Orangtua, khususnya ibu mempunyai peranan penting dalam pembentukan kepribadian anak, walaupun kualitas kodrati dan kemauan anak akan ikut menentukan proses perkembangannya. Sedang kepribadian orangtua sangat besar pengaruhnya pada pembentukan pribadi anak.

Beberapa hasil penelitian yang dilakukan Rohner, dkk (1986) di Amerika menunjukkan bahwa seorang ibu yang memperlakukan anak dengan kasar, baik fisik maupun verbal akan menghasilkan pribadi anak yang cenderung kasar setelah dia dewasa kelak . Sampai saat ini, keluarga masih tetap menerapkan bagian terpenting dari jaringan sosial anak sekaligus sebagai lingkungan pertama anak selama tahun-tahun formatif awal untuk memperoleh pengalaman sosial dini, yang berperan penting dalam menentukan hubungan sosial di masa depan dan juga perilakunya terhadap orang lain

Komentar
Memuat...