Inspirasi Tanpa Batas

Nisfu Sya’ban Di Antara Perubahan Arah Kiblat atau Ganti Buku

0 4

Konten Sponsor

Nisfu Sya’ban Di Antara Perubahan Arah Kiblat atau Ganti Buku. Peristiwa apa yang paling herois di malam Nisfu Sya’ban? Jika menalar peristiwa sejarah, malam ini, ternyata adalah waktu di mana Tuhan memerintahkan kepada Nabi Muhammad akan pentingnya melakukan perubahan arah kiblat. Arah yang sebelumnya menghadap ke Bayt al maqdis, berubah penghadapannya ke Ka’bah [Masjid al Haram].

Hal ini dapat dibaca dari tulisan Abu Hatim al Bistiy. Ia menyebut bahwa umat Islam melaksanakan shalat dengan menghadap ke bayt al Makdis selama 17 bulan 3 hari. Ketika dia menghitung dari kedatangan Rasul ke Madinah pada hari senin, malam ke 12 bulan Rabi’ul Awal, maka, hal itu genap di pertengahan bulan Sya’ban.

Pernyataan Abu Hatim ini didukung Al Qurthubi [tt] yang menyebut bahwa 16 atau 17 bulan setelah Rasul Hijrahlah perubahan kiblat itu terjadi. Hal ini diukur dari lamanya sahabat mengikuti shalat bersama Nabi di Medinah selama 16 bulan dimaksud dengan menghadap ke Bayt al Maqdis. Selama enam bulan dimaksud, Allah swt mengetahui keinginan nabi Muhammad untuk memindahkan arah Kiblat. Jika ukurannya 16 bulan dimaksud, maka, malam nisfu Sya’ban adalah malam di mana perubahan kiblat itu terjadi.

Anggapan ini ditolak Imam Malik. Ia menyatakan melalui suatu periwayatan dari Yahya bin Said dari Said bin al Musayyib, perpindahan arah kiblat terjadi dua bulan sebelum PerangBadar berlangsung. Jika itu sandarannya, maka, menurut Ibrahim bin Ishaq, perubahan arah kiblat itu terjadi pada bulan rajab tahun kedua Hijriyah.

Nash tentang Perubahan Arah Kiblat

Lepas dari kontroversi tadi, al Qur’an surat al Baqarah [2]: 142-144 menjelaskan perubahan arah kiblat ini sebagai berikut:

“Orang-orang yang kurang akalnya diantara manusia akan berkata: “Apakah yang memalingkan mereka (umat Islam) dari kiblatnya (Baitul Maqdis) yang dahulu mereka Telah berkiblat kepadanya?” Katakanlah: “Kepunyaan Allah-lah Timur dan Barat. Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus.

Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. Dan Kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar Kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot. Dan sungguh (pemindahan kiblat) itu terasa amat berat, kecuali bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah; dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia.

Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.

Disebutkan dalam berbagai hadits yang mutawatir bahwa, pada bulan Sya’ban, Rasulullah banyak melakukan puasa. Hal ini dapat dibaca dari hadits Bukhari dan Muslim dari sanad Aisyah. Ia  berkata,”Tidaklah aku melihat Rasulullah saw menyempurnakan puasa satu bulan kecuali bulan Ramadhan. Dan aku menyaksikan bulan yang paling banyak beliau berpuasa adalah sya’ban. Beliau saw berpuasa (selama) bulan sya’ban kecuali hanya sedikit.

Lepas dari kontroversi soal ganti buku atau ganti arah Kiblat, yang pasti memang di bulan dan malam ini, Rasul banyak melakukan kegiatan sunnah. Salah satunya tentu shalat malam dan sunnah muakadah. Karena itu, mengikuti tradisi ini, sebetapapun lemahnya dalil yang digunakan, tetapi, pasti mengandung manfaat. Team lyceum.id dari berbagai sumber

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar