Obor Sesungguhnya adalah Hati Nurani

0 160

Obor Sesungguhnya adalah Hati Nurani. Hati manusia, adalah tempat di mana Tuhan menunjukkan eksistensiNya. Itulah yang dalam bahasa agama [Islam] disebut fitrah. Posisinya selalu suci. Mengapa? Karena hati selalu condong dengan kebaikan dan ketulusan.Hati tidak pernah mendorong manusia untuk berpikir dan bertindak buruk.

Hati dapat menggerakan semua hal dalam hidup. Semua hal dapat dirasakan hati. Ia mampu melihat aspek terkecil sekalipun dalam hidup. Gerakan tidak didorong kaki. Rasa sesuatu tidak didorong lidah dan penglihatan terhadap sesuatu tidak didorong mata. Semua, secara fisik ternyata didorong hati.

Karena itu, tidak salah, jika hati disebut sebagai penentu segala arah dan patokan dalam mengukur setiap kebenaran. Apa yang disebut dengan kebenaran yang sumbernya dari hati, menurut Ali Syari’ati [1992] kadang lebih menjanjikan dibandingkan dengan kebenaran yang dibawa oleh apa yang dalam perspektif tertentu disebut sebagai ajaran agama. Apalagi tentu jika harus dibandingkan dengan logika.

Hati dan Driving Post Ketuhanan

Hati adalah driving post ketuhanan. Sakit kaki, tangan, mata dan organ-organ tubuh lain, obatnya lebih gampang dibandingkan dengan obat hati. Bahkan semua yang terasa sakit ditubuh, sumbernya satu, yakni hati. Orang berpenyakit jantung, gula dan ginjal sekalipun, terjadi karena dorongan hati yang tidak sehat. Kalau ingin menikmati hidup dengan baik, karena itu, maka, sehatkanlah hati. Inilah yang dalam teori al Ghazali [tt] disebut dengan pengobatan hati.

Untuk menjaga hati agar tetap bening, jangan berani tinggal di sebuah tempat di mana tempat itu tidak dapat difahami. Apalagi membuat hati dan pikiran menjadi tidak sehat. Kita harus pergi jauh berhijrah baik dari sisi fisik maupun dari sisi pikiran. Kenapa hal itu harus dilakukan? Agar hati tetap terjaga esksistensinya dan dapat meneruskan karakternya yang hanief.

Tuhan akan senang hidup bersama mereka yang dapat membersihkan hatinya. Pada saat lelah, cara yang dilakukan adalah menghadap Tuhan. Di saat lelah, Tuhan yang ramah terhadap mereka dengan hati bersih, akan mengurangi beban hidup. Beban berat terasa ringan untuk dipikul. Manusia akan dengan mudah bercurhat kepada Tuhan.

Bagi saya sendiri, mencurhati dan mengeluhkan masalah kepada sesama makhluk, adalah langkah buruk. Aku lebih sering duduk bersila, bertafakur, mengevaluasi diri dan menata kembali langkah-langkah yang harus dilalui diiringi dengan membaca berbagai kitab suci yang diperintahkan Nabi saya untuk dibaca. Bersihkanlah selalu hati, agar komunikasi ketuhanan menjadi nyaman.

Lambatkan tidur di malam hari, bahkan bila perlu sampai larut, meski konsekwensinya menerlambatkan bangun di pagi hari. Kalau suasana kebathinan terasa lebih berat lagi untuk dihadapi, lebih baik pergi mengunjungi tempat-tempat suci bekas para wali dan para Nabi.

Kunjungan Mekkah dan Medinah. agar Tuhan kita dapat kembali dihidupkan dalam hati. Aku selalu menemukan Tuhan yang sesungguhnya Tuhan, justru pada saat lawatan-lawatan spiritual. Ketika kita merasa bahwa dosa-dosa terasa begitu bertumpuk, memilih diam dan membisu adalah jalan terbaik. Kenapa? Sebab malu terhadap Tuhan kita. Tumpukan-tumpukan dosa ketuhanan, semakin hari rasanya semakin berat dipikul.

Tuhan adalah tempat di mana kita kembali merasa yakin bahwa langkah yang dilakukan itu tepat. Tuhan adalah wujud di mana harapan harus kembali hidup dan menata kembali setiap puing-puing kehidupan yang retak atau bahkan hancur. Tuhan adalah tujuan di mana setiap apapun yang didapatkan harus dalam kerangka menuju satu titik, yakni Tuhan itu sendiri. Karena itu, apapun yang terjadi, itulah pilihan terhadap Tuhanku. Akibatnya, saat di mana Tuhan menitipkan keberkahan hidup, kita tidak menjadi pongah, kita tidak lupa diri, kita tidak menjadi pesaing Tuhan, kita tidak menjadi firaun, kita tetap menjadi kita. Kita tetap menjadi makhluk yang lemah.

Sebaliknya, jika, Tuhan sedang menitipkan sesuatu yang secara kasat mata terasa menyakitkan, kita tidak menjadi lemah, kita tidak menjadi putus asa dan kita tidak kehilangan harapan. Harapan selalu tersedia, sepanjang Tuhan masih ada. Dan karena kita yakin bahwa Tuhan itu ada dan akan tetap ada, maka, harapan itu akan selalu ada dan tidak akan pernah hilang. Karena itu bersihkanlah hati. Itulah jalan kebahagiaan. By. Prof. Cecep Sumarna

Komentar
Memuat...