Inspirasi Tanpa Batas

Opini: Benarkah Kita Manusia Beragama

Benarkah Kita Manusia Beragama – Ketakutan adalah ibu dari semua bentuk kekerasan. Ketika orang takut, mereka akan menyerang dan menghancurkan. Akal sehat dan sikap beradab lenyap digantikan keberingasan dan kebiadaban.

0 49

Konten Sponsor

Benarkah Kita Manusia Beragama – Sulit rasanya menemukan ketenangan di tengah hiruk pikuk permasalah yang begitu menganga. Sulit rasanya menggunakan akal sehat di tengah keadaan yang penuh dengan ketegangan. Nampaknya kita tidak lagi bisa hidup tanpa memiliki keberanian.

Karena saat ini dari hal kecil semacam antrian lampu merah sampai hal besar antrian kursi dewan dihiasi dengan sikut-sikutan saling memangsa satu sama lain. Saya rasa di negeri ini keberanian dan keberimanan harus sama sama kita pegang dan perjuangkan. Jika tidak maka bersiaplah untuk merancang kematian.

Diatara Kekuasaan dan Agama

Kini, kelembutan diganti keberingasan. Kearifan berubah menjadi kedzaliman, Ketulusan direngut semangat pencitraan, Tekhnologi dipakai alat saling menghujat, Medsos menjelma menjadi arena adu domba. Homo homini lupus, manusia menjadi serigala bagi sesamanya, begitu kata diktum Latin klasik tentang keadaan alamiah (Naturzustand) manusia yang saling berperang satu sama lain.

Peraturan hanya menjadi hiasan semata. Ketika ada kesempatan, orang pun tak ragu untuk melanggar. Otak atik regulasi sepintar mungkin untuk melanggar setiap aturan, sehingga penegak hukum tunduk dan tak mampu mengungkapnya. Jiwa pencuri bercokol di dalam diri orang-orang macam ini. Apakah manusia manusia kita keturunan Bathara Kala ? Raksasa liar, jahat dan sakti dalam cerita leluhur jawa ? Entahlah.

Di sisi lain, orang-orang kaya memilih berlindung di balik dinginnya gedung pencakar langit. Mereka seolah tak peduli, bahwa dunia di sekitar mereka sudah kacau oleh keberingasan dan kebiadaban. Kebutaan dan kedunguan  merupakan buah dari kekayaan mereka.

Dipikirannya hanya satu, yakni menumpuk harta sebanyak-banyaknya. Mendapat tahta setinggi tingginya. Jika perlu, cara curang dan biadab dilakukan, guna meraih kekuasaan lebih tinggi lagi. Hidup manusia yang luas dan kaya dipersempit semata ke unsur material semata, yakni pencarian dan penumpukan harta dan tahta tanpa batas. Segala nilai lain, yang membuat hidup manusia mendalam, kaya dan bermakna, dianggap tiada.

Agama Menjadi Tirai Penutup Kebusukan

Agama juga menjadi tirai penutup kebusukan ini. Ayat-Ayat agama dipelintir untuk melegalkan hasrat dan pemenuhan kepentingan dangkal semata. Agama tidak lagi menjadi sumber kebenaran, tetapi justru menjadi sumber pembenaran dan menggiring masyarakat ke dalam kemunafikan akut. Tandanya adalah kehidupan yang agamis, namun itu hanya hiasan berisi penipuan, penindasan, dan kerakusan yang tanpa batas.

Penguasa kawin dengan tokoh agama untuk mendapat simpati masyarakat dan demi lebel halal bagi kebijakan yang menguntungkan diri pribadinya.

Pemangku kebijakan sibuk membangun sistem tidak memiliki kekokohan dan kepastian, orang akan gelisah. Itulah yang terjadi di Indonesia. Sistem raksasa dibangun, baik di bidang kesehatan, politik, pendidikan sampai tek tek bengeknga. Namun, kadar kepastiannya rendah, sehingga keadaan tetap kacau dan orang tetap gelisah, walaupun sistem sudah ada.

Ketika segalanya menjadi amat tidak pasti, ketakutan pun muncul. Ketakutan adalah ibu dari semua bentuk kekerasan. Ketika orang takut, mereka akan menyerang dan menghancurkan. Akal sehat dan sikap beradab lenyap digantikan keberingasan dan kebiadaban.

Manusia pun lalu menjadi serigala bagi sesamanya. Keadaan seperti ini melahirkan sikap biadab yang tak pas untuk tata hidup bersama. Hanya ada dua hal yang bisa memperbaikinya. Perubahan kesadaran pribadi lalu saling mengorganisir diri untuk mendorong perubahan bersama. Jika tidak, kita akan kehilangan  ideologi kesejatian kita sebagai manusia yang beragama. Oleh : Fajar Rahmawan.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar