Di Era Modern, Orang Miskin Tidak Boleh Melanggar Hukum

0 41

Penulis adalah rakyat dengan status ekonomi menengah, tak memiliki jabatan tinggi di pemerintahan, yang miris akan hukum di negaranya, yang bukan lagi seolah-olah, tapi kenyataannya hukum akan tumpul keatas dan semakin runcing kebawah. Sebetulnya, hukum diciptakan sebagai bentuk keadilan yang tak membedakan agama, ras, suku, apalagi status ekonomi, bahkan jabatan. Hukum dibuat seadil-adilnya sehingga akan sama ketika di terapkan pada si kaya, si miskin, si muslim, nonmuslim, petani, buruh, sampai presiden sekalipun.

Jika dikaji dari pengertian dan tujuannya Hukum adalah salah satu dari norma yang ada dalam masyarakat. Norma hukum memiliki hukuman yang lebih tegas. Hukum merupakan bagian untuk menghasilkan keteraturan dalam masyarakat, agar dapat terwujud keseimbangan, dimana masyarakat tidak bisa sebebas-bebasnya dalam bermasyarakat. Mesti ada batasan agar ketidakbebasan tersebut dapat menghasilkan keteraturan.

Hukum di Indonesia merupakan campuran dari sistem hukum Eropa, hukum agama, dan hukum adat. Sebagian besar sistem yang dianut, baik perdata maupun pidana berbasis pada hukum Eropa. Khususnya dari Belanda karena aspek sejarah masa lalu Indonesia yang merupakan wilayah jajahan dengan sebutan Hindia-Belanda (Nederlandsch-Indie). Hukum agama karena sebagian besar masyarakat Indonesia menganut Islam, maka dominasi hukum atau syariat Islam lebih banyak terutama di bidang perkawinan, kekeluargaan, dan warisan. Selain itu, di Indonesia juga berlaku sistem hukum adat yang diserap dalam perundang-undangan atau yurisprudensi, yang merupakan penerusan dari aturan-aturan setempat dari masyarakat dan budaya-budaya yang ada di wilayah nusantara. Hukum adalah keseluruhan norma oleh penguasa masyarakat yang berwenang menetapkan hukum, dinyatakan atau dianggap sebagai peraturan, dengan tujuan untuk mengadakan suatu mengikat bagi sebagian atau seluruh  tata yang dikehendaki oleh penguasa tersebut.

Hukum Diciptakan Untuk Sebuah Keteraturan

Jelas bahwa hukum diciptakan untuk sebuah keteraturan. Namun, sesempurna apapun hukum yang ada disuatu negara, tetap yang menjadi sebuah patokan hukum tersebut berjalan atau tidak adalah dari subjeknya, pelaku penegak hukum dan dari masyarakat tentunya.

Seperti yang dibahas diawal bahwa kita sama-sama menyaksikan hukum dinegara kita, lebih tepatnya hukuman yang diterapkan justru sangat menunjukan ketidakadilan. Bagaimana tidak, kasus-kasus sederhana sangat bisa kita jadikan fakta dan tak perlu orang cerdas akan hukum, orang yang awam tentang hukum pun pasti dapat menafsirkannya.

Misalnya pada kasus-kasus yang menimpa pejabat, orang yang punya jabatan tinggi dan ia tentu datang dari kelas menengah atas. Saat ia terlibat hukum, meski pun betul ia salah untuk meringankan hukumannya ia akan mencari pengacara atau kuasa hukum agar kasusnya dibereskan dan sebisa mungkin diberi hukuman yang ringan. Berbeda dengan si miskin, sekecil apapun kasusnya apalagi kasus-kasus yang besar ia tidak akan mampu menyewa pengacara atau penguasa hukum. Ia hanya akan pasrah dengan hukuman yang di jatuhkan padanya. Bahkan jika ia tidak bersalah, hanya keberuntungan yang akan membelanya.

Kasus lain misalnya, korupsi. Untuk kasus korupsi ini biasanya terjadi di kalangan pejabat. Korupsi yang sering terjadi juga jumlahnya tidak sedikit. Namun anehnya hukuman pada orang yang terlibat kasus korupsi hanya sebentar. Korupsi sama saja dengan mencuri, karena uang yang ia dapat dari korupsi adalah uang yang bukan haknya. Dengan jumlah korupsi yang besar hukuman justru akan jauh lebih sebentar dibandingan dengan kasus pencurian sederhana yang menimpa si miskin. Misal jika si miskin mencuri 1 buah pohon pisang hukuman yang ia terimaakan sama dengan pejabat yang mencuri uang rakyat dengan jumlah ratusan juta. Jadi bagi si miskin yang kelasnya bawah. Bahkan hukum yang ideal diterapkan akan terasa sudah tak adil lagi.***Yayu Handayasari Aspandi


yayu-haspandiTentang Penulis

 Perempuan yang lahir pada 30 Juni 1992 ini bernama Yayu Sri Umaroh Handayasari. Perempuan yang akrab disapa Yayu merupakan putri ke empat dari pasangan H. Maman dan Ibu Umirah. Meski lahir dan besar di Desa terpencil di Kota Kuningan namun semangatnya dalam berkarya dan mengeksplor diri terus ia kembangkan. Pada tahun 2014 ia lulus menjadi Sarjana Pendidikan Matematika di perguruan tinggi negri di Cirebon. Waktunya semasa kuliah tidak hanya dihabiskan untuk belajar di kelas, tapi ia juga senang berinteraksi dengan beberapa mahasiswa-mahasiswa aktifis kampus dengan mengikuti berbagai Organisasi-organisasi baik intra maupun ekstra. Perjalanan karirnya yang baru seumur jagung, mulai dari tour leader, guru prifat, guru di SMK, administasi di sebuah perusahaan yang kesemuanya hanya berlangsung beberapa bulan saja menghantarkannya pada profesi yang berhubungan langsung dengan masyarakat. Tantangannya yang ia hadapi kini adalah bagaimana mengabdikan gelar sarjana nya untuk mengembangkan Desa tempat kelahirannya.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.