Orang Mukmin Pasti Kaya

0 17

Orang mukmin akan menempatkan Tuhan sebagai pelindung mereka. Manusia beriman tidak akan pernah belindung pada kekuatan apapun, selain kepada Tuhan yang sebenarnya Tuhan. Inilah puncak ketakwaan dan ta’abudi manusia kepada Tuhan.

Secara teologis, manusia beriman pasti akan menempatkan Tuhan sebagai pelindungnya. Manusia sejenis ini, pasti akan ke luar dari dunia ke-dhaliman menuju titik tertentu yang penuh kecahayaan. Sementara itu, yang inkar akan Tuhan adalah mereka yang menempatkan thagut sebagai pelindungnya. Manusia sejenis ini, akan hidup sebaliknya. Ia selalu bergerak dari titik penuh kecahayaan, menuju titik tertentu yang penuh “kegelapan”.

Dalam salah satu surat dan ayat, Allah menjanjikan ampunan dan anugerah yang berlebih kepada mereka yang mengimani-Nya, sedangkan Syaitan menjanjikan kefakiran kepada mereka yang menempatkan dirinya sebagai pelindungnya (QS Al-Baqarah [2]: 258).

Untuk dan karena itu, umat Islam yang beriman wajib hukumnya melakukan penerjemahan terhadap ayat-ayat al Qur’an secara kreatif menurut gaya bahasa yang dimiliki agar Ia dapat menjadi penerang dalam proses perjalanan kehidupan. Al Qur’an turun untuk kepentingan manusia di bumi. Ia tidak bertujuan untuk kepentingan Malaikat apalagi Tuhan. Tujuannya, agar manusia mampu membangun bumi sesuai dengan cita-cita Tuhan ketika Ia menciptakannya.

Tuhan yang seperti apakah yang melekat dengan kelompok entrepreneur. Jawabannya, ternyata konsep Tuhan yang tunggal. Dunia yang justru banyak disebut sebagian orang sebagai aktivitas yang jauh dari Tuhan. Konsep ketawhidan itu melekat dengan dunia entrepreneur. Dunia yang dalam konteks ke-Indonesiaan, justru dianggap jarang diminati, karena anggapan yang kurang baik mengenai doktrin ketuhanan yang diemban kaum entrepreneur, salah satunya.

Seolah kalau menjadi kaya atau menjadi miskin itu dicipta Tuhan secara kaku. Padahal, Tuhan itu kaya. Manusia dituntut optimis dalam hidup, karena ia memiliki Tuhan yang kaya. Karena itu, menjadi tidak pantas, jika harus menyalahkan Tuhan, ketika ternyata kita yang menyatakan diri sebagai manusia beriman hidup dalam kemiskinan. Jika  disadari sepenuhnya, tunggalnya Tuhan mengandung makna bahwa selain Tuhan, tidak boleh ada yang tunggal. Sektor ekonomi menjadi haram hukumnya untuk ditunggalkan.

Jika demikian masalahnya, maka, hypotesisnya adalah, ketika ada orang yang mengaku beriman, tetapi hidupnya miskin, maka, jangan-jangan ia beriman pada sesuatu yang secara konseptual salah. Salah satunya, misalnya jangan-jangan ia tidak pernah beriman kepada Tuhan yang tunggal atau kepada Tuhan yang sesungguhnya Tuhan. (*) **Prof. Dr. H. Cecep Sumarna

Komentar
Memuat...