Mengapa Masih Ada Saja Orang Yang Terjebak Investasi Bodong?

0 22

Saat ini Masyarakat Indonesia sudah terbukti, masih banyak yang terjebak investasi bodong dan perusahaan skema piramida. Keuntungan yang tinggi dengan modal awal yang terbilang kecil menjadi salah satu penyebab utama.

Akan tetapi, pertumbuhan perekonomian yang rendah menjadi masalah utama bagi kebanyakan masyarakat Indonesia yang menjadi korban perusahaan investasi bodong. Karena keinginan mereka cepat menjadi kaya dengan cara yang mudah.

Dari 1975 perusahaan investasi bodong dan perusahaan dengan skema piramida pada penjualan langsung sudah memberikan kerugian kepada masyarakat, terbukti sampai 2015 total kerugiannya mencapai Rp126,507 triliun. Dilansir dari okezone.

Rendahnya Perekonomian Nasional

Perekonomian nasional Indonesia yang statusnya rendah juga berpengaruh terhadap pertumbuhan perusahaan investasi bodong di Indonesia. Bahkan, rendahnya perekonomian nasional menjadi kesempatan yang tepat bagi para pelaku untuk mengelabui masyarakat yang ingin mendapatkan uang dengan cara yang mudah. Saat perekonomian rendah, banyak yang dipecat, dan di situ mudah tergiur dengan investasi ini.

Perusahaan investasi bodong ini memang menggoda dengan keuntungan yang nyata. Di mana, masyarakat sudah tinggal memilih ingin berinvestasi dengan nominal jumlah berapa dan sudah ada pula keuntungan yang didapat setiap bulannya. Orang berkata main di awal supaya menang di awal. Itu cita-citanya. Kenyataannya layaknya judi. Jika sudah menang, akan terus bertambah dan bertambah. Pada akhirnya berhenti ketika habis, bukan ketika menang.

Jebol. Contohnya, bunga 30 persen dapat Rp300 ribu. Bagaimana dengan yang Rp10 juta – eh benar, Rp100 juta benar, terus Rp1 miliar dan akhirnya jebol. Nah duit ini menang juga dari siapa? Pasti dari yang buntung, karena bukanlah profit produk. Karena uang panas ini cepat habisnya.

Imbauan yang dilakukan APLI dan juga Satgas Waspada Investasi terhadap masyarakat yang menjadi korban memang sulit untuk terealisasi. Penyebab utamanya, keuntungan yang nyata. Guna memberikan efek jera, APLI masih menunggu PP yang mengatur sanksi mengenai investasi bodong ini dan perusahaan dengan skema piramida.

Tujuan PP tersebut, untuk memberikan keleluasaan bagi para penyidik dalam Kepolisian untuk menindak langsung para pelakunya. Perusahaan penjualan langsung di Indonesia yang tergabung dengan APLI atau memiliki izin usaha resmi jumlahnya sekitar 200-an lebih dari total sekitar 280 perusahaan. Di mana, 60 perusahaan diduga merupakan perusahaan investasi yang bodong. PP sudah jalan tapi law enforcement belum percaya diri melakukan tindakan. Harapannya dengan PP tersebut, polisi PD jadi menindak tanpa aduan.

(keuntungan yang tinggi) (terjebak investasi)

Komentar
Memuat...