Orientasi dan Pemikiran Filsafat Pendidikan

2 420

Adapun dalam kaitannya dengan muatan filsafat pendidikan, orang-orang yang berseteru juga terbagi menjadi dua kelompok besar yang masing-masing menghimpun berbagai macam orientasi dan pemikiran.

Filsafat Pendidikan Dalam Konsep Aristotelian

Kelompok pertama didukung oleh pendukung filsafat –dengan konsep-konsepnya yang Aristotelian, dan mereka telah bekerja keras dalam memperjelas hubungan antara filsafat dan pendidikan. Hal ini untuk menjustifikasi keharusan mengadopsi filsafat pendidikan melalui hubungan antara filsafat dan pendidikan.

Di antara yang mendukung orientasi ini adalah Professor Kingsley Price. Ia mencoba mengidentifikasi filsafat pendidikan. Ia menyebutkan bahwa untuk mengidentifikasi apa yang dimaksud filsafat pendidikan kita harus menentukan apa yang kita maksud dengan istilah filsafat dan pendidikan.

Disamping itu juga, pendidikan menunjuk pada proses akademik yang menyangkut transmisi pengetahuan dan sastra dari satu generasi dan generasi lainnya. Hal ini dilakukan melalui orang-orang yang ditangannya ilmu terbuka dan berkembang. Filsafat adalah kata yang menunjuk pada dua jenis aktivitas. Pertama adalah analisis yang bertujuan identifikasi pemahaman kata-kata, penejelasan pemikiran dan memahami konsep-konsep secara akurat. Kedua adalah aktivitas yang dengannya kita sampai kepada teori-teori tertentu pada metafizika (metafisika), akhlaqiyat (etika), nazhariyah ma’rifah (epitemologi), jamal (estetika) dan manthiq (logika).

Proses Pendidikan dan Kaitannya dengan Metafisika, Etika dan Epistemologi

Dalam hal ini Price menyimpulkan pengertian pendidikan dengan: “Analisis proses pendidikan kemudian berusaha mengaitkannya dengan metafisika, etika dan epistemologi”.

Dalam menganalisis proses pendidikan kita bisa memahami istilah-istilah pendidikan yang diperlukan. Melalui kaitannya dengan metafisika kita bisa menjelaskan sisi hakikat dalam pendidikan. Melalui kaitannya dengan etika kita bisa sampai kepada penjelasan dan justifikasi saran-saran yang dikandung pendidikan. Sedangkan melalui kaitannya dengan epistemologi kita bisa sampai pada teori belajar.

Price memberikan contoh untuk menganalisis proses pendidikan dengan pernyataan bahwa kebanyakan istilah yang digunakan para pendidik adalah istilah-istilah yang kabur yang sulit ditransformasikan menjadi pandangan praktis seperti kata “pengalaman”, “partisipasi”, “kewarganegaraan”, “loyalitas” dan “demokrasi”. Ini semua adalah masalah yang kebanyakan realisasinya diasumsikan melalui pengajarannya di sekolah-sekolah. Akan tetapi para pendidik menerimanya dengan penuh kekaburan tidak mengarah kepada pengajaran satu pun darinya kecuali jika filosuf pendidikan telah menganalisisnya.

Terdapat sejumlah pendukung kaitan antara filsafat dan pendidikan yang berpartisipasi dalam perdebatan yang terjadi sekitar filsafat pendidikan, sumber dan muatannya yang di antaranya adalah Harold H. Titus dalam pembahasannya “Filsafat dan Masyrakat Modern”, Okner dalam pembahasannya “Watak Filsafat” dan Sydney Hook dalam pembahasannya “Apakah Filsafat Memiliki Masa Depan?”.

Filsafat Sebagai Model Klasik

Kemudian bangkit kelompok kedua yang menganggap filsafat sebagai model klasik. Filsafat yang demikian menyerupai pemikiran gereja karena membahas tentang masalah-masalah ghaib yang tidak memiliki bukti, dan tentang nilai dan akhlak, yang semuanya adalah nisbi yang terpengaruh dengan keputusan pribadi dan pandangan personal dan tidak mungkin dipelajari dengan teknik ilmiah.

Di antara yang merefleksikan orientasi ini adalah profesor Albert Taylor yang menuduh para pemilik pandangan filosofis mendorong filsafat pendidikan pada bidang yang tidak terbatas. Mereka menuntut filsafat pendidikan menyelesaikan metafisika, epistemologi dan sistem nilai dan pennyelesaiannya bersifat ilmiah. Akan tetapi filsafat tidak bisa memberikan jawaban yang bermanfaat tentang yang ghaib, Tuhan dan masalah-masalah metafisika lainnya.

Ia tidak memberikan sesuatu yang memiliki hubungan dengan pendidikan. Adapun tentang epistemologi maka yang lebih utama adalah mentransformasikannya menjadi data dan hasil ilmu psikologi. Hal ini seperti yang ditegaskan oleh misalnya Dewey, Bernard Russel dan Felix Adler. Sedangkan mengenai nilai maka ini bersifat nisbi yang diperselisihkan dan ia adalah akibat keadaan dan lingkungan dan tidak mungkin menganalogikannya dengan kriteria ilmiah.

Taylor menyimpulkan bahwa lebih baik tidak ada pembahasan tentang masalah yang ghaib dan etika, dan kemudian menginternalisasikan filsafat pendidikan dengan mekanisme ilmiah dan empirik dan bukan dengan logika filosuf.

Kritik Terhadap Orientasi Filosofis

Di antara yang turut mengkritik orientasi filosofis adalah S.D. Hardy yang mengatakan bahwa filsafat tidak harus mengarah kepada filsafat pendidikan. Hal ini karena filsafat berinteraksi dengan masalah-masalah umum seperti kelahiran dan kematian manusia, formasi dan penciptaan alam, makna kehidupan dan kematian, dan apakah kehidupan memiliki tujuan atau ia tidak memiliki makna. Oleh karena itu tidak harus bergantung kepada filsafat dalam pembentukan filsafat pendidikan.

Dengan keikutsertaan Hardy terhadap orientasi yang anti filsafat hanya saja ia berbeda dengan pemilik orientasi ini ketika menyatakan bahwa sama sekali tidak diperlukan filsafat pendidikan. Dan penggantinya cukup filsafat metode belajar seperti halnya filsafat bahasa, filsafat matematika, filsafat ilmu dan filsafat sejarah. Filsafat-filsafat seperti ini bisa diselesaikan dengan mekanisme ilmiah dan proses mencapai akibat-akibat yang memberikan andil dalam memperbaiki pendidikan.

Menentang Orientasi Filosofis Tanpa Alternatif

Terdapat ahli lain yang menentang orientasi filosofis akan tetapi mereka tidak memberikan alternatif bahkan berhenti dalam posisi kebingungan dan bertanya-tanya. Di antara mereka adalah semisal Evett J. Kircher yang bertanya tentang cara meletakkan filsafat pendidikan. Apakah akan dijelaskan terlebih dahulu dan kemudian mengembangkan model individu yang diinginkan pendidikan. Dan dalam keadaan ini filsafat pendidikan disebut “keyakinan yang diarahkan” atau membiarkan untuk diletakkan sesuai dengan analisis dan studi atas realitas?

Mekanisme pertama dicontohkan oleh filsafat Marxisme, dan mekanisme yang kedua dicontohkan oleh pendidikan Amerika. Ia menyatakan bahwa kedua mekanisme ini tidak berhasil dalam merealisasikan tujuannya. Buah Marxisme muncul secara bertentangan dengan janji-janji Marx. Demikian juga berturut-turut lingkaran kegagalan dalam data pendidikan Amerika dan memaksa masyarakat Amerika merubah filsafat pendidikan dari satu waktu ke waktu lainnya.

Di antara pengaruh kebingungan akibat polemik yang beredar di sekitar filsafat pendidikan -Abraham Edel- membuat kesimpulan dengan menyatakan:

“Dengan demikian, apa yang harus menjadi tujuan dan muatan filsafat pendidikan?”

Tidak ada jawaban sederhana karena hakikat manusia tidak ditawarkan oleh gudang filosofis dan tidak ditemukannya teori pendidikan yang memberikan sekumpulan tujuan pendidikan. Sebabnya adalah karena para filosuf tidak memiliki gambaran yang tunggal tentang alam dan eksistensi.***Dr. Majid Irsani Al Kailani

Bahan Bacaan

Kingsley Price, “Is Philosophy of Education Necessary” dalam The Journal of Philosophy, October, 1955

Christopher J. Lucas, What is Philosophy of Education (USA: Toronto, 1969)

Albert J. Taylor, “What is Philosophy of Education” dalam Educational Theory, April, 1963

C.D. Haxdie, “The Philosophy of Education in a New Key” dalam Educational Theory, Oktober, 1960

Evett J. Kircher “Philosophy of Education: Directive Doctrine or Liberal Discipline?” dalam Educational Theory, No. 5, Oktober 1955

Abraham Edel, “What Should be the Aims and Content of Philosophy of Education” dalam Harvard Educational Review, No. 26, Musim Semi, 1956,

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

  1. Koko Santoso berkata

    disamping resume dari pandangan berbagai ahli terkait filsafat dan pendidikan, sebaiknya penulis juga mengungkapkan pandangannya karena pada artikel ini saya tidak menemukan alternatif berupa gagasan-gagasan terkait kritik pada orientasi filosofis.

  2. syamsul ma'arif berkata

    Assalamualaikum, Wr.Wb.
    masih banyak yang menganggap filsafat dalam dunia pendidikan itu perbeda arah. padahal setelah di jelaskan filasafat dan pendidikan itu bisa saling menguatkan 1 dengan yang lain asal dengan penjelasan yang mudah di fahami semua orang.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.