Home » Filsafat » Orientasi Etika: Bagaimana Manusia Harus Bertindak Dalam Kehidupan?

Share This Post

Filsafat

Orientasi Etika: Bagaimana Manusia Harus Bertindak Dalam Kehidupan?

Orientasi Etika: Etika dapat dipandang sebagai sarana orientasi bagi usaha manusia untuk menjawab pertanyaan yang fundamental, yaitu bagaimana manusia harus bertindak dalam kehidupan? Pertanyaan ini sebagaimana diriwayatkan oleh al-Tirmidzi:

Pada hari kiamat kedua kaki hamba senantiasa belum dapat bergerak kecuali setelah ia (hamba) ditanya tentang umurnya dia habiskan untuk apa, tentang ilmunya dalam hal apa dia mengamalkan, tentang hartanya dari mana dia memperoleh dan dalam hal apa dia membelanjakan serta tentang kesehatan badannya dalam hal apa dia pakai. (H.R. Al-Tirmidzi)

Pertanyaan-pertanyaan yang fundamental tersebut akan dijawab secara aksiologis yang diupayakan oleh tindakan manusia yang dikenal dengan nilai. Dalam bahasa Inggris, “nilai” disebut value yang berasal dari bahasa Latin valere, berarti berguna, mampu, berdaya, berlaku dan kuat. Menurut istilah “nilai” dapat dipahami sebagai:

  1. Kualitas, harkat suatu hal, sehingga ia dapat menjadikan sesuatu yang dapat disukai, diingini, berguna serta dapat menjadi objek kepentingan.
  2. Keistimewaan yang selalu dihargai, dianggap tinggi dan dihargai sebagai kebaikan. Konsep tentang nilai merupakan komplemen dan sekaligus lawan dari konsep “fakta”. Manusia hanya mengetahui fakta, oleh karenanya ia mesti mencari nilai, karena sikap, tujuan serta ideal apapun pasti memiliki nilai yang menjadi tujuannya.

Dalam hal ini nilai merupakan preferensi atau penilaian kepentingan. Menurut istilah, “nilai” adalah suatu kualitas tertentu yang memiliki harga yang harus diapresiasikan dan dimiliki oleh manusia. Nilai tersebut bersifat normatif, objektif dan universal yang menjadi cita-cita kehidupan, baik individu maupun sosial. Nilai-nilai tersebut diupayakan karena dua alasan:

Rekomendasi untuk anda !!   Relasi Fungsional | Manusia Dengan Alam

1. Manusia secara intrinsik adalah berharga

Pertama, manusia secara intrinsik adalah berharga, harganya adalah kekudusan baik dalam arti religius maupun skuler. Kekudusan/kesucian secara religius dapat diartikan secara sederhana yaitu sebagai yang tidak boleh dilanggar, tidak dapat dihapuskan, harus dilindungi dan harus dijaga dalam situasi apapun. Sementara itu, kesucian secara sekuler sering bersifat simbolik yang didasarkan pada pertimbangan kegunaan (utilitas) yang juga harus diberikan perlindungan.

Kata “etika” berasal dari bahasa Yunani ethikos  atau ethos yang berarti adat, kebiasaan dan praktik. Kata ini dalam perkembangan pemakaiannya juga menunjuk pada suatu  ide  (karakter) dan  disposisi  (kecondongan). Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata  etika  berasal dari kata  etik  yang diartikan dengan  kumpulan azas atau yang berkenaan dengan akhlak  atau nilai mengenai benar salah yang dianut oleh golongan atau masyarakat tertentu. Jika kata tersebut berbentuk  etika, berarti ilmu tentang apa yang baik dan buruk, serta menunjuk hak dan kewajiban moral seseorang.

Untuk memastikan bahwa kehidupan manusia memiliki nilai intrinsik dapat diketahui melalui pertimbangan-pertimbangan, di antaranya:

  1. Dapat dipastikan bahwa setiap orang ingin hidup, meskipun dalam standar sengsara, terlebih sejahtera. Tabiat manusia mempertahankan kehidupan bersifat instingtif, dipandang melebihi segalanya.
  2. Kehidupan seseorang yang dipandang tidak layak oleh orang lain (miskin, sakit, sengsara, dan lain-lain),  yang bersangkutan masih memandang bahwa hal itu masih lebih baik dari ketiadaan kehidupan itu sendiri.
  3. Alam yang berhubungan dengan sarana hidup, hanyalah sebagai instrumen, bukan instrinsik. Oleh karenanya, ia bukan faktor utama penentu kualitas kehidupan.
  4. Alam yang bersifat instrumental, tidak dapat bernilai jika manusia tidak memiliki nilai instrinsik untuk memberikan penilaiannya.

Baca Juga: Memahami Etika, Moral dan Agama dan  Teori dan Prinsip Tentang Etika 

Rekomendasi untuk anda !!   Agama dan Kekerasan : Bingkai Sosiologis Teologi Islam

2. Manusia adalah makhluk yang memiliki hak-hak kodrati

Kedua, manusia adalah makhluk yang memiliki hak-hak kodrati. Secara umum hak ini bersifat mutlak dan universal yang diakui dan dimiliki oleh seluruh bangsa tanpa terkecuali. Hak kodrati tersebut dimiliki karena kesamaan kodrat manusia sebagai anggota dari sepesis yang sama. Di antara hak tersebut adalah hak hidup, bebas, aman, bahagia, dan hak memiliki. Ada tiga sistem etika yang mendominasi pemikiran etika modern yaitu:

  1. Relativisme yang menekankan bahwa tidak ada kriteria penilaian yang bersifat tunggal. Setiap orang akan mempergunakan kriterianya masing-masing yang selalu berbeda antara satu dengan yang lain. Keputusan etis dalam kelompok ini dibuat berdasarkan pada kepentingan dan kebutuhan pribadi. Konsentrasi penilaian oleh kelompok ini bertumpu pada sejauh mana kepentingan pribadi dapat terpuaskan.
  2. Utilitarianisme yang menyatakan bahwa suatu tindakan dipandang etis jika mampu memberikan hasil yang berupa keuntungan yang besar bagi sebagian besar orang. Keputusan etis dalam kelompok ini dibuat berdasarkan hasil atau keuntungan terbesar bagi sejumlah besar orang. Konsentrasi penilaian pada kelompok ini bertumpu pada kalkulasi untung atau rugi.
  3. Universalisme yang menyatakan bahwa keputusan etis harus selalu menekankan maksud sebuah tindakan dengan tidak mengganggu dan mengurangi hak orang lain untuk bertindak dan mencapai cita-citanya. Penghormatan dan penghargaan antar individu sangat ditekankan sebagai solidaritas kemanusiaan yang sama-sama memiliki hak dan kebebasan unuk bertindak.

** Oleh: Drs. Ahamad Munir

Share This Post

1 Comment

  1. Cahyaning istiqomah
    1415104020
    Tadris ips A3
    Manusia bertindak harus mengikuti nilai dan moral yang ada di sekitar masyarakat
    Walaupun manusia mempunyai hak-hak kodrati

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>