Take a fresh look at your lifestyle.

Palestina di antara Tanah Biasa atau The Promise Land of Yahudi

0 64

The Promise Land [Tanah yang Dijanjikan Tuhan]. Itulah kalimat sakti orang Yahudi [Israil] atas klaim kepemilikan mereka pada tanah Palestina. Inilah yang menyebabkan mengapa orang Yahudi, dengan cara apapun, harus mengusir mereka yang tinggal di Palestina. Mereka menganggap Palestina hanya cocok untuk dihuni oleh umat yang menjadi pilihan terbaik Tuhan. Mereka harus tinggal di sana, karena Tuhan telah memilihnya untuk mereka. Mereka sendiri menganggapnya sebagai manusia pilihan Tuhan.

Islam sendiri, melalui berbagi ayat di dalam al Qur’an menyatakan kelebihan mereka. Di Surat al Baqarah saja, serendahnya terdapat 15 ayat yang menerangkan tentang kelebihan mereka. Tentu masih banyak ayat lain dalam al Qur’an. Ini juga yang menjadi salah satu kehebatan al Qur’an. Ia mengakui sisi diametral dengan Islam sendiri ketika harus menyebutkan kelebihan yang lain. Ini juga yang justru membuat umat al Qur’an diakui kehandalannya.

Ayat al Qur’an yang Menerangkan Kehebatan Israil

Ayat yang menerangkan kelebihan bani Israil cukup banyak. Di antaranya adalah ayat: 40, 47, 52, 54-61, 64 surat al Baqarah. Belum lagi tentu di banyak ayat lain dalam surat lain di luar surat al Baqarah. Berikut arti beberapa ayat dimaksud yang terdapat dalam surat dimaksud yang mampu dianalisa penulis.

Hai Bani Israil, ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu, dan penuhilah janjimu kepada-Ku, niscaya Aku penuhi janji-Ku kepadamu; dan hanya kepada-Ku-lah kamu harus takut (tunduk).

Hai Bani Israil, ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu dan (ingatlah pula) bahwasanya Aku telah melebihkan kamu atas segala umat.

Kemudian sesudah itu Kami maafkan kesalahanmu, agar kamu bersyukur.

Setelah itu Kami bangkitkan kamu sesudah kamu mati, supaya kamu bersyukur.

Dan Kami naungi kamu dengan awan, dan Kami turunkan kepadamu “manna“ dan “salwa“. Makanlah dari makanan yang baik-baik yang telah Kami berikan kepadamu; dan tidaklah mereka menganiaya Kami; akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.

Dan (ingatlah), ketika Kami berfirman: “Masuklah kamu ke negeri ini (Baitul Maqdis), dan makanlah dari hasil buminya, yang banyak lagi enak dimana yang kamu sukai, dan masukilah pintu gerbangnya sambil bersujud, dan katakanlah: “Bebaskanlah kami dari dosa“, niscaya Kami ampuni kesalahan-kesalahanmu, dan kelak Kami akan menambah (pemberian Kami) kepada orang-orang yang berbuat baik“.

Dan (ingatlah), ketika kamu berkata: “Hai Musa, kami tidak bisa sabar (tahan) dengan satu macam makanan saja. Sebab itu mohonkanlah untuk kami kepada Tuhanmu, agar Dia mengeluarkan bagi kami dari apa yang ditumbuhkan bumi, yaitu sayur-mayurnya, ketimunnya, bawang putihnya, kacang adasnya, dan bawang merahnya“. Musa berkata: “Maukah kamu mengambil yang rendah sebagai pengganti yang lebih baik? Pergilah kamu ke suatu kota, pasti kamu memperoleh apa yang kamu minta“. Lalu ditimpahkanlah kepada mereka nista dan kehinaan, serta mereka mendapat kemurkaan dari Allah. Hal itu (terjadi) karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para Nabi yang memang tidak dibenarkan. Demikian itu (terjadi) karena mereka selalu berbuat durhaka dan melampaui batas.

Hai Bani Israil, ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Ku-anugerahkan kepadamu dan Aku telah melabihkan kamu atas segala umat.

Klaim Berlebihan Menyebabkan Peperangan

Dengan asumsi bahwa Palestina adalah tanah yang dijanjikan untuk mereka, kaum Yahudi Israil bukan saja mengabaikan umat Islam atau masyarakat Kristen yang mendiami tanah dimaksud setelah mereka meninggalkannya. Tetapi juga, penolakan mereka terhadap peran suku Kuna Arab seperti Kanaan. Padahal sesungguhnya, mereka itulah yang telah mendiami tanah ini beberapa milenium sebelum mereka ada. Yang demikianpun ditolak mereka dan dianggap tidak ada. Mereka hanya mengasumsikan diri mereka sendiri.

Pengakuan atas situasi seperti ini, setidaknya dapat dibaca dalam tulisan  Karen Armstrong dalam suatu buku berjudul: Jerusalem: Satu Kota Tiga Iman. Dalam buku dimaksud, dia menyatakan bahwa, meski tidak banyak informasi tentang negeri Kanaan sebelum abad ke-20 SM, namun fakta menunjukkan bahwa bangsa Kanaan ternyata lebih dahulu mendiami Palestina. Bahkan jauh sebelum kehadiran masyarakat Yahudi di sana. Karena itu, banyak pihak menganggap bahwa sikap Yahudi Israil dianggap berlebihan dalam memahami peta Palestina hanya sebagai tanah milik mereka.

Bukti bahwa Kanaan telah memajukan Palestina akan terlihat dari hasil penggalian para arkeologis dunia di beberapa Kota Kanaan, seperti di: Megiddo, Hazor, dan Sikhem. Di bekas kota-kota ini, mereka menemukan situs-situs, perabotan, keramik dan permata yang cukup berharga. Benda-benda itu diperkirakan dibuat sebelum abad ke-17 SM. Dan penemuan arkeologis dimaksud, ternyata mengandung makna bahwa, saat kemajuan dimaksud berlangsung, bangsa Yahudi belum mendiami Palestina. Banyak antitesis yang justru menyatakan bahwa pemukiman Arab –semistis purba di Palestina– Kota ini justru didirikan suku Jebus, yaitu cabang dari bangsa Kanaan yang hidup sekitar 5000 tahun lalu. Tulisan bersambung –Prof. Cecep Sumarna

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar