Home » Pendidikan » Tafisr Al Quran » Pandangan Al-Qur’an Tentang Konsep Kebahagiaan

Share This Post

Tafisr Al Quran

Pandangan Al-Qur’an Tentang Konsep Kebahagiaan

Pandangan Al-Qur’an Tentang Konsep Kebahagiaan

(kajian tafsir dengan pendekatan tematik)

Kebahagiaan adalah masalah hakiki yang dihadapi manusia. Segala yang dikerjakan manusia dalam kehidupan, baik langsung maupun tidak langsung, dalam rangka mencari kebahagiaan. Sebaliknya segala yang dihindari,  dalam rangka menjauhkan dari kesengsaraan. Banyak hal yang dirasa tidak berkenan, tetapi terpaksa dilakukan manusia, karena mengejar adanya kebahagiaan. Demikian juga ada hal yang dirasa sebagai kenyamanan tetapi ditinggalkan, untuk menjauhkan dari kesengsaraan. Dari realitas psikologis tersebut, semua ajaran menawarkan masalah kebahagiaan. Dalam Islam, kebahagiaan disimbolkan dengan surga. Sejak dini Islam telah menyodorkan konsep akhir perjalanan kehidupan yang membaginya ke dalam dua kelompok; yaitu kelompok penyandang kesengsaraan (saqiyy), dan kelompok bahagia (sa’îd).

Secara spesifik, al-Qur’an menyinggung kebahagiaan dengan istilah al-falâh. Melalui pendekatan tematik, penelitian mengungkap konsep kebahagiaan yang diungkapkan oleh al-Qur’an dengan istilah al-falâh melalui penelaahan tentang; (1)konsep medan semantik isyarat ayat ayat tentang   kebahagiaan, (2)kontekstualisasi penafsiran ayat ayat tentang kebahagiaan, serta (3)relevansi konsep kebahagiaan dengan etos produktivitas manusia.

Hasil pembahasan dirumuskan kesimpulan; 1)Ada  delapan terma yang memiliki relasi makna dengan kebahagiaan (al-falâh) yaitu:  al-farahthayyib, sakînah, surûr, sa’âdah, na’îm atau na’mâ’, fauz, al-hanâ. 2) Dari delapan istilah tersebut, kebahagiaan dikaitkan dengan beberapa faktor yang berkaitan dengan kesiapan batin untuk; terbebas  dari tekanan (farah), kepuasan (surûr),  kenyamanan objek (thayyib),  patuh terhadap aturan ilahi (sakînah), megendalikan pemanfaatan materi kehidupan (sa’îd), merasa cukup (na’îm/na’mâ’), tidak adanya kesusahan dalam pencarian (al-hanâ’). 3)Kebahagiaan yang ditawarkan al-Qur’an memiliki  relevansi dengan etos dan gerak kehidupan yang disimbolkan dengan penyebutan pelakunya dengan kata muflih dalam posisi manshûb.  Sebaliknya, al-Qur’an menyatakan tegas bahwa kebahagiaan tidak akan diperoleh oleh para pendusta (kadzib),  penganiaya (dzulm), ingkar (kufr),  pecundang (mujrim) dan pensihir (sâhir).

Pendahuluan

Kebahagiaan adalah masalah hakiki yang dihadapi manusia dalam kehidupan, baik langsung maupun tidak langsung. Dalam Islam, konsep kebahagiaan disimbolkan dengan konsep surga dengan ilustrasi yang beragam.. Namun intinya adalah kenikmatan yang  menyenangkan. Islam telah menyodorkan konsep tentang akhir perjalanan kehidupan   dalam dua kelompok; yaitu kelompok pesimis calon penyandang kesengsaraan (saqiyy), dan kelompok optimis dengan harapan kebahagiaan (sa’îd) (Hûd/9: 105-108)

Statatemen al-Qur’an tentang ending perjalanan kehidupan, direspon oleh agamawan tentang konsep kebahagiaan dan kesengsaraan, apakah kebahagiaan dan kesengsaraan tersebut semata mata bersifat jasmani saja atau rohani saja atau kedua duanya? Respon dari kelompok agamawan memandang bahwa kebahagiaan dan kesengsaraan bersifat rohaniah.

Jasmani atau fisik dipandang sebagai belenggu kesengsaraan  yang menghalangi kemerdekan sukma. Oleh karenanya harapan kebahagiaan hanya diorientasikan kepada kebahagiaan rohani. (Baca: Budhy Munawar Rachman (ed), Kontekstualisasi   h.105) Kelompok Marxisme mengajarkan bahwa kebahagiaan dan kesengsaraan bersifat jasmani. Oleh karenanya hal tersebut   hanya terjadi dalam kehidupan dunia ini saja. (Baca: Erich Fromm, Konsep Manusia Menurut Mrx, terj. Agung Prihantoro, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002), h. v)

Dalam konteks lain, al-Qur’an juga sering menyinggung tentang kebahagiaan melalui istilah tertentu, di antaranya adalah dengan istilah al-falâh (Lihat  Q.S. Al-Ma’idah/5: 25). Secara bahasa, kata al-falâh bermakna; kemakmuran, keberhasilan, atau pencapaian dari apa yang diinginkan dan dicari setelah melakukan sebuah upaya, sesuatu yang dengannya orang merasa senang dan bahagia, menimati ketenteraman dan ketenangan, atau kehidupan yang penuh keberkahan yang secara terus menerus dan berkelanjutan. (Baca: Jamâluddîn Muhammad Ibn Mukarram Ibn Manzhûr al-Ifrîqî, Lisân al-‘Arab, (Kairo: Dâr al-Hadîts, 2002), juz. 7, h. 155.)

Data sementara bahwa  kebahagiaan yang disebut dengan istilah al-falâh, dikaitkan dengan beberapa sikap. Di antaranya adalah; sikap kehati hatian terhadap segala hal yang akan berpotensi untuk menyengsarakan yang dikenal dengan konsep taqwâ.

Sikap kreatif dan inovatif untuk mengambil sikap dan peran yang diprediksikan dapat dijadikan sebagai alat untuk mencapai kesuksesan yang ingin dituju. Dan sikap kesungguhan serta keseriusan dalam koredor keahlian sesuai dengan kapasitasnya. Ketiga konteks tersebut kesuksesan dan kebahagiaan diharapkan dapat diraih. Dan masih banyak konteks konteks lain, yang dikaitkan dengan konsep al-falâh.

Dari data tersebut, dimunculkan pertanyaan bagaimana sesungguhnya konsep kebahagiaan menurut al-Qur’an? Dan bagaimana hubungannya dengan upaya dan kesungguhan manusia dalam kehidupan?  Problem akademik tersebut  dirumuskan tiga pertanyaan   yaitu;  bagaimana konsep medan semantik isyarat ayat ayat tentang   kebahagiaan,  bagaimana kontekstualisasi penafsiran ayat ayat tentang kebahagiaan, dan  bagaimana relevansi konsep kebahagiaan   dengan etos produktivitas usaha manusia?

Mekanisme Penetapan dan Perumusan Makna

Al-Qur’an hadir dihadapan ummatnya berposisi sebagai petunjuk (al-hudâ). Urgen dari suatu petunjuk  adalah arah yang ingin dicapai oleh orang yang sedang berkepentingan dengan petunjuk itu sendiri. Meskipun petunjuk itu sendiri bisa jadi hal awal yang dikenali berupa simbol dan arti dari sebuah arah itu sendiri.  Dalam hal ini, agamawan yang berpedoman pada al-Qur’an, semestinya tidak menyibukkan untuk memaknai  tanda,   melainkan pada tujuan yang hendak ditunjuki oleh petunjuk itu sendiri.

Rekomendasi untuk anda !!   Manifestasi Dzikir dalam Ibadah Shalat, Puasa dan Haji

 Pada paruh pertama abad ke dua Hijriah, penafsiran al-Qur’an mulai berbicara tentang aspek gramatis, stilistik, maupun semantik sebagai salah satu aspek keindahan dan kesem­purnaan al-Qur’an. Dalam konteks ini akan dibahas bagaimana aspek-aspek al-Qur’an yang meliputi mikrostruktur, stilistik, dan semantik dipahami dan dipakai oleh para mufassir klasik untuk membedah makna yang dimiliki oleh teks.

(Mikrostruktur adalah sebuah instrumen untuk melacak bagaimana makna al-Qur’an, melalui relasi-relasi struk­tural dalam kata maupun kalimat, bisa dijelaskan berdasarkan hukum-hukum serta batas-batas kebahasaan. Elemen stilistik adalah bagaimana ke­unikan gaya tutur yang dimiliki al-Qur’an bisa dipahami serta masuk dalam wilayah kebahasaan. Sedangkan elemen semantik adalah bagaimana makna yang ada dalam teks bisa dilahirkan melalui alat bantu semantik.)

1. Aspek Mikrostruktur Makna

Salah satu model perkembangan  tafsir al-Qur’an dari generasi awwal adalah ma’ânî al-Qurâ’n, yang banyak mendiskusikan aspek kebahasaan al-Qur’an. Karya-karya tersebut mengulas pelbagai gaya dan seni bertutur al-Qur’an dari perspektif struktur kata dan kalimat serta kekhasan lainnya. Ulasannya tidak saja tertokus kepada struktur dalam kalimat, melainkan juga kemungkinan “peralihan” makna sebuah kosa kata yang pada gilirannya bisa memberikan pengaruh pada perubahan makna.

Ma’ânî al-Qur’ân tidak saja bergelut dengan mikrostruktur al-Qur’an, tetapi juga membahas kemungkinan perubahan makna.  Di antara termin tersebut adalah elliptik (al-hazf) susun balik (taqdîm wa ta’khîr), negasi (al-nafi) dan lain sebagainya.  Unsur lain dari mikrostruktur makna adalah konsep taqdîm wa al-ta’khîr, seperti dalam surat al-Anbiyâ’: 3. (وَأَسَرُّوا النَّجْوَى الَّذِينَ ظَلَمُوا هَلْ هَذَا إِلَّا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ) Dengan pola ini menunjukkan bahwa frase pertama dianggap lebih penting dari frase kedua. Makna yang dihadirkan dari ayat tersebut bahwa perbuatan yang dilakukan, lebih penting dari pelakunya itu sendiri. (Lihat Hamza al-Kîsâ’î, Ma’ânî al-Qur’ân, (Kairo: Isa Dihata, 1998), h.195)

2. Aspek Stilistik Kata

Stilistik atau stilistika adalah ilmu tentang penggunaan bahasa dan gaya bahasa di dalam karya sastra. (Depdiknas, Kamus Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 2003), h. 1091) Dalam konteks ini, yang dikehendaki dengan stilistik adalah pemilihan dan pemakaian kata secara tepat. Al-Qur’an yang secara lahir berstruktur dengan kata dan bahasa Arab, namun dalam kenyataannya terdapat msiteri dalam ke-arabannya jika disbanding dengan struktur ke-Araban yang berlaku saat itu. Salah satunya adalah  al-Qur’an sering memakai kata yang tidak digunakan oleh budaya bahasa secara umum.

 Disamping pemilihan kosa kata, stilistika al-Qur’an juga merambah dalam konteks ekonomi kata (îjâz). Prinsip ini memberikan kesan efektifitas penggunaan bahasa yang diharapkan tidak memberikan kejenuhan pembaca, disamping untuk mempertegas maksud penunjukan oleh kata yang digunakan. Disamping îjâz, stilistika juga bekecimpung dalam model sintagmatik, yaitu susunan kata dalam kalimat yang mempengaruhi peralihan makna dari kosa kata. Salah satu contoh dalam konteks ini adalah kata kufr. Kata ini memiliki makna dasar; menutupi, melindungi, mengatapi. Dalam artian kata kufr tidak selalu bermakna tidak bertuhan. Tetapi akan tergantung pada konteks susunan di mana kosa kata tersebut digunakan. Sebagai contoh QS. Al-Hadid: 20. dalam ayat ini kata kuffâr bermakna petani. (اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ)

3. Aspek Medan Semantik

Istilah semantik dalam kajian ini dibatasi hanya pada kajian analitik terhadap istilah istilah kunci suatu bahasa dengan suatu pandangan yang akhirnya sampai kepada konseptual dari pengguna bahasa. Salah satu aspek yang diangkat dalam konteks semantic ini adalah pembedaan antara makna dasar dan makna relasional. Makna dasar dalam konteks ini adalah kandungan kontekstual dari kosa kata yang melekat pada kata, meskipun kata tersebut dipisahkan dari konteks pembicaraan kalimat. Sebagai contoh kata kitâb. Kata ini memiliki makna fundamental yaitu “kitab” dimanapun ditemukan, baik di dalam al-Qur’an maupun di luar al-Qur’an. Sementara makna relasional adalah makna konotatif, yang sangat bergantung pada konteks dan relasi dengan kata lainnya dalam kalimat. Sebagai contoh kata kitâb yang memiliki makna dasar tersebut, akan menghadirkan makna lain ketika dikaitkan dengan kosa kata lain dalam kalimat dan dalam struktur kalimat yang berbeda. (Lihat Nur Kholis Setiawan,  Al-Qur’an,……h.167.)

Pemenuhan kebutuhan akan makna melalui  pengembangan makna lebih dapat diterima secara logika dari pada menggunakan eksekusi melalui ta’wîl. Karena takwil lebih mengedepankan otoritas yang sangat subjektif yang tergantung pada kekuatan yang berkepentingan, tanpa memberikan ruang dialog dan menghargai dinamika rasional. Melalui pengembangan semantik   tafsir semakin menyajikan akan kekayaan makna yang diharapkan mampu menyesuaikan antara universalitas ayat dengan perkembangan zaman.

Tradisi semantik yang dikembangkan oleh mufassir awal memberikan ruang gerak bahwa makna semata mata tidak terpaku dengan ujaran kosa kata. Sebaliknya, makna yang dimiliki oleh kosa kata akan dipilih oleh pengguna kosa kata. Dalam tradisi mufassir awal, semantik yang merupakan istilah belakangan lebih dikenal dengan istilah siyâq (konteks) yang terbagi menjadi tiga yaitu; 1). Siyâq al-Hâl (konteks situasi). 2). Siyâq al-Lughawy (konteks bahasa). 3). Siyâq al-Tsaqafî (konteks kultur). (Baca: Al-Asbâh wa al-Ndlâ’ir,… h. 62) Dari sini akhirnya disepakati bahwa kosa kata dalam al-Qur’an ada yang hanya memiliki satu tunjukan makna, ada yang memiliki dua tunjukan makna dan ada yang memiliki lebih dari dua tunjukan makna.

Rekomendasi untuk anda !!   Eksistensi dan Fungsi Kekayaan | Pandangan al-Qur'an

Persepsi Dan Motivasi

Kata persepsi, berasal dari bahasa Latin perceptio, percipio, yang berarti  tindakan menyusun, mengenali, dan menafsirkan informasi sensoris guna memeberikan gambaran dan pemahaman tentang lingkungan.  Persepsi meliputi semua sinyal dalam sistem saraf, yang merupakan hasil dari stimulasi fisik atau kimia dari organ pengindra. Persepsi bukanlah penerimaan isyarat secara pasif, tetapi dibentuk oleh pembelajaran, ingatan, harapan, dan perhatian. (Sumber: Wikipedia.com diakses 15 Oktober 2014)

 Dari beberapa makna, kata persepsi akan didefinisikan sesuai dengan konteks dimana konteks kata tersebut digunakan. Walgito mendefinisikan bahwa persepsi adalah suatu proses pemberian arti atau proses kognitif dari seseorang terhadap lingkungannya, yang dipergunakan untuk menafsirkan dan memahami dunia sekitarnya. Dengan demikian setiap orang akan berbeda cara pandang dan penafsirannya terhadap suatu objek/fenomena tertentu. Persepsi berkaitan dengan cara mendapatkan pengetahuan khusus tentang suatu fenomena pada saat tertentu dan mencakup pula pada aspek kognitif/pengetahuan. (Baca: Walgito, Bimo, Psikologi Sosial: Suatu Pengantar, (Yogyakarta: Andi Offset, 2001), h. 54.)

  Dari berbagai konsep tentang persepsi di atas, dapat disederhanakan bahwa persepsi merupakan suatu proses perjalanan sejak dikenalnya suatu objek melalui organ-organ indera sampai diperolehnya gambaran yang jelas dan dapat dimengerti serta diterimanya objek tersebut.

Dalam proses persepsi, terdapat tiga komponen utama yaitu:

  1. Seleksi. Yaitu proses penyaringan oleh indera terhadap rangsangan dari luar, intensitas dan sejenisnya banyak banyak maupun yang sedikit.
  2. Interpretasi. Yaitu proses pengorganisasian informasi sehingga mempunyai arti bagi seseorang. Interpretasi ini dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti pengalaman masa lalu, sistem yang dianut, motivasi, kepribadian, serta kecerdasan.
  3. Interpretasi dan persepsi kemudian diterjemahkan dalam bentuk tingkah laku sebagai reaksi. Dalam hal ini, proses persepsi melakukan seleksi, interpretasi dan pembulatan terhadap informasi yang sampai. (Baca: Alex Sobur, Psikologi Umum, (Bandung: Pustaka Setia, 2003), h. 448.)

Sementara motivasi berasal dari kata Latin movere yang berarti dorongan. Dalam bahasa inggris kata ini diasumsikan berasal dari kata to move yang berarti mengubah atau menggerakkan. Motivasi adalah kondisi mental yang mendorong aktivitas dan memberi energi yang mengarah kepada pencapaian kebutuhan memberi kepuasan atau mengurangi ketidak seimbangan. Sedangkan motivasi diri adalah suatu usaha yang dapat menyebabkan seseorang tergerak melakukan sesuatu karena ingin mencapai tujuan yang dikehendaki atau mendapat kepuasan atas perbuatan tersebut. (Baca: Hadari Nawawi dan Mimi Martini, Penelitian Terapan, (Yogyakarta: Gajah Mada University Press, 1996), 58)

Untuk membahas motivasi, ada beberapa teori yang dapat digunakan. Diantaranya teori Maslow yang membagi kebutuhan manusia:

  1. Kebutuhan Fisiologis, (Fa’ali) merupakan hirarki kebutuhan manusia yang paling dasar yang merupakan kebutuhan untuk dapat hidup, seperti makan, minum, perumahan, oksigen, tidur dan sebagainya. Kebutuhan ini kepuasannya tidak dapat ditunda. Kebutuhan ini mengharuskan untuk diprioritaskan dari kebutuhan lain. (Baca: Maslow, Motivasi dan Kepribadian, (Bandung: Pustaka Binaman Pressindo, 1993), h. 43)
  2. Kebutuhan rasa aman   merupakan kebutuhan kelanjutan, setelah kebutuhan fisiologis terpenuhi. Apabila kebutuhan fisiologis relatif sudah terpuaskan, maka muncul kebutuhan yang kedua yaitu kebutuhan akan rasa aman. Kebutuhan rasa aman meliputi keamanan dari bahaya kecelakaan kerja, jaminan akan kelangsungan pekerjaannya dan jaminan akan hari tuanya pada saat mereka tidak lagi bekerja. (Baca: Hasyim Muhammad, Dialog Antara Tasawuf dan Psikologi, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002), h.75)
  3. Kebutuhan Sosial. Yaitu kebutuhan untuk persahabatan, afiliasi dan interaksi dengan orang lain. Kebutuhan ini  juga terlihat dalam hal mencintai dan memiliki. Dalam organisasi akan berkaitan dengan kebutuhan akan adanya kelompok kerja yang kompak, supervisi yang baik, rekreasi bersama dan sebagainya.
  4. Kebutuhan Penghargaan. Kebutuhan ini meliputi kebutuhan keinginan untuk dihormati, dihargai atas prestasi seseorang, pengakuan atas kemampuan dan keahlian seseorang serta efektifitas kerja seseorang. (Baca: Maslow, Motivasi,… h. 55)
  5. Kebutuhan Aktualisasi Diri. Maslow mengasumsikan bahwa orang berkuasa memenuhi kebutuhan yang lebih pokok (fisiologis) sebelum mengarahkan perilaku memenuhi kebutuhan yang lebih tinggi. Kebutuhan yang lebih rendah harus dipenuhi terlebih dahulu sebelum kebutuhan yang lebih tinggi seperti perwujudan diri mulai mengembalikan perilaku seseorang. (Baca: E. Koeswara, Teori-Teori Kepribadian, (Bandung: Uresco, 1991), h. 126)

Selanjutnya Baca : Pandangan Al-Qur’an Tentang Kebahagiaan

Oleh: Ahmad Munir (Baca: Biografi Ahmad Munir)

Share This Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>