Pandangan Islam terhadap Perilaku homoseksualitas

1 185

Pada artikel sebelumnya penulis membahas tentang Konsep Perubahan Perilaku Seksual Remaja dan Perilaku Homoseksualitas yang Dianggap Menyimpang pandangan penulis bahwa “Tingkah laku abnormal atau menyimpang adalah tingkah laku yang tidak bisa diterima oleh masyarakat pada umumnya, dan tidak sesuai dengan norma sosial yang ada” (Baca: Perilaku Homoseksual yang Dianggap Menyimpang) dan pada pembahasan kali ini, penulis akan memaparkan pandangan Islam terhadap Perilaku homoseksualitas.

Pandangan Islam terhadap Perilaku homoseksualitas ada dua sudut pandang. Pertama dari segi konsep kejiwaan manusia menurut Islam untuk melihat Perilaku homoseksualitas dari sudut pandang fitrah jiwa manusia. Selanjutnya Perilaku homoseksualitas akan dianalisis dari sudut pandang (tujuan syariah) maqāşid asy-syarīah beserta hukum yang telah ditetapkan wahyu atasnya.

Allah tentu tidak menghukum bila Perilaku homoseksualitas hanya berupa keinginan dalam hati, tapi membiarkannya dan tidak melawannya lalu memperturutkannya adalah sebab turunnya laknat. Oleh karena itu, pada bagian berikutnya akan dibahas tentang pandangan Islam terhadap kecenderungan Perilaku homoseksual yang muncul di dalam hati manusia.

1. Perilaku homoseksualitas dan Konsep Fitrah

Salah satu tema sentral dalam problem homoseksual dari segi teologis adalah bahwa keadaan tersebut orientasi seksual kepada sesama jenis adalah bagian dari kodrat Allah kepada seseorang. Beberapa pemikir liberal pun menghalalkan homoseksual dengan dalih ini. Tim penulis Fiqih Seksualitas misalnya menyatakan bahwa Perilaku homoseksualitas adalah takdir, sehingga harus diterima (rida) oleh yang bersangkutan dan ditolerir oleh masyarakat.

Di dalam Islam, konsep yang memiliki kaitan dengan ini adalah fitrah penciptaan manusia. Sebab term fitrah digunakan untuk menggambarkan keadaan manusia ketika lahir di muka bumi ini. Istilah ini bahkan digunakan di dalam al-Qur’an dalam narasi yang menggambarkan penciptaan langit, bumi, dan manusia.

Secara etimologi fitrah memiliki beberapa makna. Kata fitrah adalah serapan dari bahasa Arab فطرة, sehingga pengertiannya akan dibahas dari sudut pandang bahasa Arab. Kata ini berasal dari فطر  (fa ṭa ra) yang berarti menguak atau membelah. Sementara para ahli bahasa menambahkan bahwa fitrah adalah menciptakan sesuatu untuk pertama kali/tanpa ada bentuk sebelumnya, fitrah juga bisa diartikan asal kejadian, kesucian, dan agama yang benar, fitrah juga bisa diartikan keadilan suci.

Artinya fitrah merupakan penciptaan seseorang yang sesuai dengan agama yang benar dan tuntutan akan hakikat kehidupan yaitu mencari keadilan tentang penyembahan akan Tuhan. Fitrah merupakan sifat bawaan yang ada sejak lahir. Dari sini disimpulkan bahwa dalam konsep fitrah, manusia pada dasarnya sudah memiliki kecenderungan untuk mengikuti kebaikan. Karena itu, konsep fitrah tidak bisa disamakan dengan teori tabularasa bahwa manusia lahir dalam keadaan netral tidak memiliki potensi apa-apa.

Potensi kebaikan yang tertanam di dalam diri manusia sesuai fitrahnya adalah potensi untuk taat kepada Allah. Hal tersebut jelas, sebab tujuan penciptaan manusia adalah menjadi hamba yang taat kepada-Nya. Untuk mencapai ketaatan tersebut tentu saja manusia telah dikaruniai pengetahuan tentang Allah sejak perjanjian primordial.

Al-Attas di dalam penejelasanya mengenai nature of man, menyatakan bahwa agama  dan pengetahuan instrinsik di dalam jiwa manusia merupakan bagian dari fitrah penciptaannya. Penggunaan kata fitrah di dalam surah ar-Rum: 30, menguatkan pengertian ini. Di dalam ayat tersebut, frasa fitratallāhi disandingkan dengan ad-dīn hanīfah. Ketika menafsirkan ayat ini, Ibnu Katsir menegaskan bahwa Allah memang menciptakan (faţara) makhluknya di atas keislaman.

Abu Hurairah mengutip ayat tersebut setelah meriwayatkan hadis pokok tentang fitrah, ini menunjukan bahwa Abu Hurairah memahami fitrah terkait erat dengan kebaikan dan secara khusus kepada Islam.

Berdasarkan konsep fitrah ini, maka dalam konteks normalitas dari perspektif Islam, seorang yang normal adalah seorang yang berada di atas fitrahnya yaitu cenderung kepada kebaikan. Konsep normal dan abnormal sangat penting dipahami sebab dari sinilah akan diputuskan, apakah Perilaku homoseksualitas merupakan keadaan asal yang normal bagi manusia atau bukan. Normalitas dari perspektif para ulama disebut sebagai keadaan hati yang sehat (al-qalb as-salīm). Di dalam karyanya Igāṡah al-Luhfān, Ibn al-Qayyim al-Jauzīyah merangkum pendapat para ulama mengenai karakteristik hati yang sehat, yakni hati yang selamat (salima) dari setiap keinginan (syahwah) yang bertentangan dengan perintah atau melanggar larangan Allah serta hati yang selamat dari keragu-raguan (syubhāt) yang bertentangan dengan kabar dari-Nya. Jadi ada dua penyebab utama hati menjadi sakit penelitian syahwah dan syubhah.

Syahwat di dalam bahasa Indonesia lebih berkonotasi pada nafsu seksual, tapi dalam pengertian al-Qur’an, syahwat pada dasarnya adalah anugerah yang diberikan Allah kepada manusia dan harus digunakan pada jalan kebaikan. Al-Ragib al-Asfahānī di dalam al-Mufradāt fī Garīb al-Qur’ān menjelaskan bahwa syahwat adalah dorongan kuat terhadap jiwa agar meraih yang diinginkannya. Syahwat memiliki dua bentuk, ada yang baik (syahwah ṣādiqah) dan ada pula yang buruk (kāżibah).

Syahwat yang buruk adalah dorongan jiwa untuk meraih sesuatu yang dilarang oleh Allah. Perilaku Homoseksualitas di dalam al-Qur’an disifati sebagai syahwat yang buruk (fāḥisyah). Perbuatan lain yang disifati dengan kata fāḥisyah oleh al-Qur’an adalah perzinaan. Karena itu, beberapa ulama menyamakan antara perbuatan liwāţ kaum homoseks dengan perbuatan zina. Hubungan dari keduanya adalah sama-sama ekspresi syahwat yang keluar dari fitrah manusia.

Godaan untuk menyimpang dari fitrah melalui syahwat adalah bentuk ujian Allah kepada manusia. Manusia tidak diciptakan untuk terus-menerus suci sepanjang hidup mereka. Syed Muhammad Naquib al-Attas menjelaskan bahwa meskipun telah memiliki fitrah yang innate pada dirinya, manusia tetap memiliki potensi untuk berbuat salah. Perbuatan tersebut berasal dari kelupaannya terhadap fitrah dirinya.

Manusia disebut al-insān, karena sebab ini. Insān seakar dengan kata nisyān, yang berarti lupa. Di dalam al-Qur’an sendiri telah disebutkan bahwa Allah mengilhamkan fujūr dan taqwa ke dalam jiwa manusia (nafs). Fujūr menurut ar-Rāgib berarti tercabiknya tabir agama (syaqq satri diyānah). Maka fujūr yang telah diilhamkan Allah kepada jiwa manusia adalah potensi kerusakan fitrah. Namun demikian, Allah pun telah mengilhamkan taqwa yang berarti menjaga diri.

Dari perspektif ini, Perilaku homoseksualitas dipandang sebagai bagian dari fujūr yang harus dilawan dengan taqwa oleh mereka yang merasakan kecenderungannya. Telah dipaparkan pada bagian kajian psikologis, bahwa meskipun ada kemungkinan genetik dalam etiologi homoseksual, faktor lingkungan tetap yang paling dominan. Sebagaimana disebutkan dalam hadis bahwa fitrah bisa berubah karena faktor lingkungan dan pola asuh di keluarganya.

Meski demikian, ia bisa saja berubah jika memiliki motivasi yang kuat. Taqwa adalah sumber motivasi tersebut. Manusia harus melawan semua kecenderungan buruk pada dirinya. Para ulama telah merumuskan upaya beranjaknya jiwa manusia dari tingkatan pergolakan melawan fujūr hingga menjadi jiwa yang tenang (an-nafs al-muţmainnah). Rumusan tersebut diderivasi dari pembagian al-Qur’an atas jiwa manusia menjadi tiga macam penelitian an-nafs al-ammārah bi as-su’, an-nafs al-lawwāmah, dan an-nafs al-muţmainnah.

Pembagian nafsu menjadi tiga di atas sebenarnya adalah entitas yang sangat dinamis, manusia senantiasa berusaha beranjak menjadi lebih baik. Fitrah manusia senantiasa beredar di antara tiga keadaan tersebut. Keadaan pertama adalah an-nafs al-ammārah bi as-su’, secara literal berarti jiwa yang selalu mengarahkan diri pada keburukan.

At-Tustari di dalam tafsirnya menyebutkan empat tabiat dari nafsu ini yang membuatnya menjadi tingkatan terendah penelitian pertama nafsu hewani (bahāim) yang berpusat pada pemuasan birahi seksual dan nafsu makan penelitian kedua nafsu syaitani (tab’u asy-syayāţīn) yang mendorong manusia untuk tenggelam dalam perbuatan yang sia-sia penelitian ketiga nafsu ini akan mendorong orang-orang untuk berbuat licik dan menipu penelitian keempat, nafsu ini selalu mendorong seseorang untuk berlaku sombong dan angkuh seperti Iblis (al-abālisah al-istikbār).

Orientasi homoseksual jelas merupakan dorongan dari nafsu ini, khususnya pada tabiat bahāim yang mendorong seseorang untuk selalu mencari kepuasan seksual. Bila diikuti, maka nafsu ini akan meminta pemenuhan menjadi tindakan homoseksual.  Apabila tidak ada perlawanan, maka seseorang berorientasi homoseksual akan melakukan come out, dan menjadi gay. Ia akan merasa bangga atas maksiat yang dilakukannya. Pada tahap ini, ia telah jatuh di dalam perangkap keempat yakni menjadi angkuh dengan penyimpangannya dari fitrah.

Allah telah memberikan potensi kepada manusia untuk melawan kecenderungan nafsu yang buruk. Meskipun manusia bisa saja jatuh ke dalam keadaan buruk sebab kealpaannya, Allah telah memberikan mereka potensi berupa ilmu serta kemampuan untuk membedakan yang baik dan yang buruk, kemudian manusia diberikan petunjuk langsung berupa wahyu. Allah memberikan manusia kekutan ikhtiyār, yakni kemampuan untuk selalu memilih jalan terbaik. Bahkan manusia yang telah jatuh ke dalam keburukan akan merasa gelisah atas keadannya tersebut. Keadaan gelisah karena penyimpangan ini disebut an-nafs al-lawwāmah.

Secara literal lawwāmah berarti selalu menyalahkan dirinya, menyesali keadannya. Seorang yang berada pada keadaan ini selalu menyesali dirinya sembari terus bersungguh-sungguh melakukan kebaikan. Keadaan ini merupakan langkah besar pertama dalam perkembangan psiko-spritual seseorang. Dari perspektif lain, Ibn al-Qayyim menyebut keadaan ini sebagai hati yang sakit (al-qalb al-marīḍ). Ciri hati sakit adalah padanya ada kecintaan kepada Allah tapi ia senantiasa dibayangi syahwat yang berusaha memalingkannya dan selalu ia lawan dengan gelisah.

Dalam keadaan nafs al-lawwāmah seseorang harus terus menerus mengikuti ilmu dari Allah (wahyu) serta mengikuti akal sehatnya. Al-Attas menegaskan bahwa manusia di dalam tahapan ini sedang berjuang melawan nafsu hewani (animal powers). Untuk memenangkan pertarungan tersebut, ia harus memakai ilmu pengetahuannya, akhlak yang sempurna, serta usaha yang kuat. Muslim yang mengalami keadaan ini juga perlu senantiasa meminta pertolongan kepada Allah, Dia akan senantiasa memenuhi permohonannya.

Seorang yang memiliki kecenderungan Perilaku homoseksualitas di dalam dirinya dan merasa gelisah atas keadaan tersebut sedang berada di fase ini. Maka ia seharusnya mengikuti tuntunan wahyu untuk menjauhinya. Kajian psikologi yang telah disebutkan di atas telah menunjukan bahwa ia bisa berubah bila menguatkan motivasinya. Akal sehat harus didahulukan di atas keinginan nafsunya. Telah terbukti bahwa kaum homoseksual yang berkecimpung di dalam kehidupan gay adalah kelompok paling rentan terhadap penularan penyakit kelamin dan AIDS. Seorang yang memiliki akal sehat akan menghindarkan  dirinya dari kecelakaan dunia dan akhirat.

Manusia yang berhasil melewati tahapan an-nafs al-lawwāmah akan memperolah ketenangan batin di sisi Allah. Keadaan ini disebut a-nafs al-muţmainnah  yang secara literal berarti jiwa yang tenanh. Al-Khāzin di dalam tafsirnya menggambarkan jiwa ini sebagai jiwa yang menetapi keimanan, ketakwaan, membenarkan dan mengikuti apa yang diperintahkan oleh Allah. Ia rida terhadap keadaan dirinya sesuai ciptaan Allah. Bagi seorang yang memiliki kecenderungan homoseksual dan berhasil mengatasinya, ia harus tunduk kepada ketentuan Allah meskipun itu tidak mudah. Ia rida terhadap cobaan dari Allah berupa kecenderungan menyukai sesama jenis.

Bentuk keridaannya ini bukanlah dengan mengikuti kecenderungan tersebut sebagaimana yang disebutkan oleh kaum liberal. Keridaan yang sesungguhnya, sebagaiman ditegaskan al-Khazin, adalah rida mengikuti ketentuan wahyu meskipun ia harus berusaha melawan kecenderungan buruk dalam dirinya. Allah memastikan ujian yang diberikan pasti bisa dilewati oleh hamba-Nya. Apabila dirinya sukar dalam usaha tersebut, ia jatuh kembali di dalam Perilaku homoseksualitas selama terapi, maka ia tidak boleh berputus asa. Allah bersedia senantiasa menerima taubat dari hamba-Nya.

2. Perilaku Homoseksualitas Dari Perspektif Hukum Syariah

Dari perspektif lain, Perilaku homoseksualitas menyalahi fitrah penciptaan tubuh manusia. Secara biologis manusia telah diciptakan saling berpasangan sebagai akomodasi dari kecenderungan untuk saling ketertarikan di antara laki-laki dan perempuan. Struktur tubuh perempuan telah dibuat untuk bisa mengandung dan melahirkan sedangkan laki-laki untuk membuahi perempuan.

Al-Hasan al-Bashri, sebagaimana disebutkan oleh az-Zamakhsyari di dalam tafsirnya, menyebutkan bahwa kata mawaddah di dalam surah Rum ayat 21 yang berbicara tentang pernikahan adalah  kiasan bagi hubungan intim (jima’) sedangkan rahmah adalah kiasan untuk anak keturunan. Karena itu,, fitrah peciptaan syahwat yang disalurkan lewat lembaga pernikahan adalah memperoleh keturunan (prokreasi), selain tentu saja untuk berbagi rasa sayang dan cinta. Aktivitas seksual prokreasi adalah sesuatu yang penting. Dengan memadukan analisa Ibnu Khaldun dan Giambattista Vico, sejarawan Italia Angelo Bertolo memperingatkan kolapsnya peradaban Barat akibat angka kelahiran yang semakin menurun.

Keberlangsungan hidup umat manusia di muka bumi adalah bagian dari fitrah penciptannya. Sejak awal, manusia diberikan amanah untuk menjadi khalīfah di muka bumi. Amanah ini menurut al-Attas bukan hanya berarti penguasaan atas bumi dalam konteks sosiopolitik atau mengontrol alam melalui temuan sains, tapi lebih pada pertanggung jawaban untuk memeliharanya dengan jiwa (nafs) dan akal yang jernih. Beban khalīfah juga termasuk beban memelihara dirinya sendiri. Untuk menjalankan amanah ini maka keberlangsungan hidup umat manusia adalah sebuah priorias penting yang dijaga oleh syariah.

Para ulama telah merumuskan bahwa salah satu tujuan syariah (maqāṣid as-syarī’ah) adalah menjaga keberlangsungan garis keturunan manusia (hifẓ an-nasl). Selain itu, syariah juga bertujuan untuk menjaga keselamatan jiwa manusia (hifẓ an-nafs). Karena itu, perbuatan-perbuatan yang mengancam kedua hal tersebut menjadi tindakan-tindakan terlarang di dalam syariat dan padanya dikenai hukuman. Al-Ghazāli menyebutkan homoseksual sebagai dosa yang diharamkan karena akan memutuskan keuturunan. Selain itu, penemuan sains menunjukan gaya hidup homoseksual beresiko besar terinfeksi virus mematikan, AIDS. Dengan demikian, pada perbuatan ini syariat mengenakan hukuman-hukuman tertentu.

Dalam menjatuhkan hukuman, syariah hanya berkaitan dengan tindakan lahir dan tidak menyentuh keadaan batin manusia. Rasulullah sendiri menegaskan bahwa ia hanya memberikan hukuman bagi sesuatu yang zahir dan membiarkan Allah mengurusi batin manusia. Dengan demikian, aspek Perilaku homoseksualitas yang dikenai hukuman bila terbukti hanyalah dimensi perbuatannya saja yakni praktik hubungan seksual sejenis. Baik antara laki-laki maupun perempuan (lesbianisme). Perilaku Homoseksualitas dalam pengertian orientasi seksual yang masih berupa kecenderungan dalam hati untuk menyukai sesama jenis tidak dikenai hukuman.

Namun demikian, ia tetaplah syahwat terlarang yang harus dilawan,  tidak boleh dibiarkan atau dilampiaskan sebagaiman telah dijelaskan sebelumnya. Hal ini juga menunjukan bahwa hukuman dikenakan kepada siapapun pelaku hubungan seksual sesama jenis (liwāţ atau siḥāq), termasuk laki-laki atau perempuan yang secara psikologis heteroseksual. Hukuman yang disebutkan di sini tidak termasuk anal seks yang dilakukan laki-laki terhadap perempuan (liwāţ as-sugrā).

Di dalam hukum liwāţ dan siḥāq terdapat masalah-masalah yang telah disepakati ulama dan ada pula yang masih menjadi perbedaan pendapat. Para ulama telah sepakat terhadap keharaman perbuatan ini dan bahwa padanya harus dijatuhi hukuman. Dasar pengharamannya adalah ayat-ayat al-Qur’an, hadis, dan ijma’. Mereka juga sepakat bahwa hukuman hanya bisa ditetapkan apabila terdapat saksi yang melihat langsung seperti pada ketentuan zina penelitianImam  Ahmad, Imam Syafi’i dan Imam Malik mensyaratkan saksinya empat sedangkan Imam Abu Hanifah menetapkan dengan dua saksi.

Hukuman juga bisa berlaku dengan pengakuan pelakunya. Di dalam liwāţ atau siḥāq juga berlaku hukuman qażf bagi mereka yang menuduh seseorang melakukan perbuatan tersebut tapi tidak bisa membutikannya. Oleh karena itu, di dalam Islam tidak akan ditemukan tindakan diskriminatif terhadap orang-orang homoseksual hanya karena orientasi atau kecenderungan dalam diri mereka, tapi bila ia melakukan tindakan homoseksual maka ia wajib dikenai hukuman. Seseorang yang secara serampangan menuduh orang lain seorang pelaku praktik homoseksual tanpa bisa membuktikan diancam hukuman cambuk, sebagai realisasi pidana qażf.

Ulama berbeda pendapat dalam bentuk hukuman yang dijatuhkan kepada pelakunya. Jumhur ulama berpendapat bahwa hukuman liwāţ adalah sama dengan hukuman  hadd bagi pezina, yakni rajam bagi pelaku muḥṣān (telah beristri) dan cambuk serta diasingkan bagi pelaku gair muḥṣān (belum beristri). Sedangkan Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa hukuman pelaku liwāţ hanyalah berupa ta’ẓir, dimana bentuk hukumannya diserahkan kepada penguasa atau hakim. Adapun bentuk hukuman bagi pelaku lesbianisme atau sihāq adalah ta’zhir. Para ulama bersepakat bahwa pelaku lesbianisme atau sihāq tidak dikenai hukuman hādd seperti pada pelaku zina. Bagi mereka hanya dikenakan hukuman ta’zhir, yakni bentuk hukuman diserahkan kepada penguasa atau hakim. Hukuman yang diberikan hendaknya bisa membuat jera.

Dua pendapat ini masing-masing memiliki perincian. Meskipun Imam Abu Hanifah menetapkan hukuman ta’zhir kepada pelaku liwāţ, tapi muridnya yakni Abu Yusuf dan Muhammad berpendapat seperti jumhur. Lebih jauh lagi, menurut mereka apabila pelaku liwāţ yang masih bujangan terus-menerus mengulangi perbuatannya meski telah dikenai hukuman cambuk maka orang tersebut boleh dijatuhi hukuman mati. Ulama Malikiyah berpendapat bahwa barang siapa yang melakukan perbuatan kaum Nabi Luth keduanya dikenai hukuman rajam, baik yang melakukan penetrasi (al-fā’il) maupun pasangannya (al-maf’ūl).

Syarat dijatuhkannya hukuman ini menurut mereka hanyalah sampainya umur balig (at-taklīf) tidak disyaratkan harus Islam. Sedangkan mazhab Syafi’iyah juga berpendapat sama, yakni pelaku maupun pasangannya sama-sama dibunuh berdasarkan hadis dari Ibnu Abbas dimana Rasulullah memerintahkan untuk membunuh kedua pasangan yang didapati melakukan perbuatan liwāţ. Ulama Hanabilah sepakat dengan pendapat ini.

Sebagian ulama Syafi’iyah memilih pendapat seperti Imam Abu Hanifah yakni dikenai hukuman ta’zhir kepada pelaku penetrasi (al-fā’il). Adapun pasangan yang padanya dilakukan penetrasi (al-maf’ūl) apabila ia masih anak-anak, atau dipaksa, atau orang gila maka ia tidak dikenai hukuman. Namun apabila ia sudah balig serta melakukannya dengan sukarela maka ia dikenai hukuman cambuk atau diasingkan, baik ia muhsan maupun gair muhsan.

Dari pemaparan di atas, dapat disimplukan bahwa semua ulama sepakat tentang keharaman tindakan Perilaku homoseksualitas, baik liwāţ maupun sihāq. Mereka juga sepakat tentang keharusan menjatuhkan hukuman atas mereka. Perbedaan hanya pada takyīf atau tata cara hukuman yang dijatuhkan. Sebagian berpendapat harus diterapkan hukuman hādd zina dimana bentuk hukumnya sudah tetap penelitian rajam dan cambuk.

Sedangkan ulama lainnnya berpendapat hukumannya berbentuk ta’zhir dimana bentuk hukumannya diserahkan kepada pemerintah. Untuk konteks Indonesia dimana hukum pidana Islam belum diterapkan, hukum ta’zhir lebih aplikatif yakni hukuman bagi pelaku homoseksualitas diserahkan kepada pemerintah melalui penetapan peraturan tertentu. ** Oleh : Subhan Nur.

Sumber Bacaan: 

  • Yasien Mohamed. “Fitrah And Its Bearing On The Principles Of Psychology.”American Journal of Islamic Social Science 12.1 (1995), hal 2
  • Baharuddin, Aktualisasi Psikolog Islam, (Yogyakarta: Pustka Pelajar, 2011)., hal 17
  • Louis Ma’luf dan Fr. Bernard Tottel, Qamus al-Mujid (Bairut:Darul al-Mausyaraq, 2003) hal. 577
  • Dyayadi, M.T, Kamus Lengkap Islamologi, (Yogyakarta, 2009), hal.181
  • Achmad Warson Munawar, Kamus Al-Munawir, (Surabaya: Pustaka Progresif, 1997), hal.1063
  • Al-Qur’an: QS. adz-Dzariyat: 56. QS. Al-A’raf (7): 80-81. QS. Asy-Syams (91). QS. Yusuf (12): 53. QS. Al-Qiyamah (75): 2. QS Al Mukmin:60. QS. Al-Fajr (89): 27. QS. Al-Baqarah (2): 286. QS. Az-Zumar (39): 53- 54. QS. Al-Baqarah (2): 30.
  • Masih banyak sumber yang tidak bisa penulis sebutkan disini karena faktor waktu dan ruang yang terbatas. untuk lebih lengkapnya silahkan download Makalah aslinya di bawah ini.

Download-1

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

  1. ayu heti nursifa berkata

    menurut pandangan islam prilaku homoseksual hukumnya adalah haram di pandang dari segi manapun dan Allah melaknat orang-orang yang berprilaku homoseksual di sebutkan dalam firman allah surah Al- A’raaf ayat 81 ” sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu ( kepada mereka ), bukan wanita malah kamu ini adalah kaum yang melampaui batas ” dan firman Allah juga dalam surah an-naml ayat 55 ” mengapa kamu mendatangi laki-laki untuk ( memenuhi ) syahwat ( mu ) bukan ( mendatangi ) perempuan? sungguh kamu adalah kaum yang tidak mengetahui ( akibat pebuatan mu ). sebenarnya prilaku homoseksual itu sangat tidak masuk akal karena Allah itu sudah menciuptakan manusia itu berpasang pasangan laki-laki dengan permpuan dan sebaliknya perempuan dengan laki-laki. apabila berprilaku homoseksual sama saja orang tersebut menyalahi takdirnya. dan orang yang berprilaku homoseksual itu manis darah nya atau sama saja boleh di hukum mati. wallahu a’lam bishawab.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.