Take a fresh look at your lifestyle.

Para Intelektual Tidak Selalu Sukses

0 18

Intelektual. Suatu istilah yang tidak lagi asing meskipun sejatinya mengandung makna elitis. Disebut elitis sebab tidak banyak kelompok masyarakat yang masuk dalam kategori intelektual. Dalam kasus tertentu kata intelektual bahkan terkesan sakral karena tidak banyak orang yang mampu menyentuhnya.

Intelektualisme, lahir dari komunitas kecil dan tumbuh dari balutan mercusuar para akademisi dan menjulangnya dinding bangunan Pendidikan Tinggi. Berkembang dalam kancah pergulatan pemikiran dan berdiri dalam harapan umat untuk melahirkan sejumlah perubahan. Intelektualisme dengan kata lain diharap mampu menjadi pencerah dan penentu segala dinamika yang berkembang di tengah umat.

Harapan itu sebenarnya wajar. Sebab mereka bukan hanya dididik para teknisi, tetapi juga diterapi para ahli. Ia persis seperti pohon rindang yang memiliki banyak daun dengan buah-buah yang besar dan banyak. Dipupuk, disiram dan diurus seperti bayi kecil yang baru lahir. Ia diharapkan tumbuh untuk menjadi sandaran kepentingan konsumtif pemiliknya dan menjadi bahan untuk bibit selanjutnya. Problemnya, betulkah itu terjadi?

Para Intelektual Tidak Selalu Sukses

Harapan itu, ternyata tidak selamanya benar. Intelektualis bahkan sering muncul menjadi beban baru. Suatu beban yang dalam istilah Harian Kabar Cirebon, 22 Januari 2011 disebut dengan pengangguran intelektual. Para intelektual berdasarkan data statistic Koran dimaksud, lebih dari 1.2 juta menjadi blind yang seolah-olah kehilangan obor kehidupannya dalam konteks menatap masa depan yang lebih baik sesuai dengan gelar akademik yang disandangnya.

Problem itu, sesungguhnya mungkin terlalu subjektif karena mengukur intelektualisme hanya dengan rumus gelar kesarjanaan. Padahal kalau mau jujur, intelektualisme itu adalah sesuatu yang neutral yang tidak selalu identik dengan gelar tertentu apalagi dengan pekerjaan tertentu.

Di mana letak kesalahan ini terjadi? Di perguruan tinggi, di sarjana atau dipengguna lulusan, atau di kebijakan pemerintah? Kalau menurut saya, sebenarnya semua memiliki andil yang plus minus sama. Pada tingkat pendidikan tinggi; negeri atau swasta “pengangguran” itu muncul karena hampir jarang pendidikan tinggi yang mempertimbang-kan seberapa banyak seharusnya dia mengeluarkan alumni. Faktor lainnya, program-program studi yang dilahirkan, cederung menjadi pengguna bukan sebagai produsen tenaga kerja baru. ** (Cecep Sumarna)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar