Hasan bin Ali bin Abi Thalib | Para Kekasih Allah Pecinta Kemanusiaan

0 40

Abu Muhammad al-Hasan bin Ali bin Abi Thalib ra. bin Abdul Muthalib bin Hasyim al-Qurasyi al-Hasyimi, adalah putera pertama Fathimah az-Zahra –puteri rasulullah–. Ia menjadi anak yang sangat disayangi [raihanah] Nabi akhir jaman, yakni Muhammad. Banyak kalangan, menganggap bahwa wajah Hasan, relative lebih mirip dengan wajah Rasulullah dan diaggap sebagai sosok yang paling penyayang terhadap sesama manusia.

“Hasan dan Husain adalah pemimpin para pemuda penduduk Surga, dan ayah mereka lebih baik dari mereka.” [Al Hadits]

Hasan lahir pada tahun ke 3 Hijriyah dan meninggal pada usia 47 tahun, yakni pada tahun 50 Hijriyah. Nama Hasan diberi langsung oleh Rasulullah.  Dialah sosok anak yang oleh Rasulullah disebut sebagai calon pemersatu umat Islam. Hal ini menjadi kenyataan, ketika ayahnya meninggal dunia, lalu banyak umat Islam membaiatnya menjadi khalifah. Ia menjadi khalifah ke lima setelah Ali bin Abi Thalib.

Hasan bin Ali Penyayang Umat Islam

Namun Karena ditentang Muawiyah yang saat itu, masih menjadi Gubernur di Damaskus, dan berbagai fitnah muncul di berbagai tempat, Hasan menanggalkan jabatannya itu, dengan memberikannya kepada Muawiyah dengan catatan: “Tidak mencaci maki Ali bin Abi Thalib baik dalam forum resmi kenegaraan maupun dalam khutbah-khutbah, dan; Tidak menjadikan khalifah dalam prinsip turun temurun.

Ia harus dipilih oleh seluruh umat Islam dari seluruh penjuru dunia.”. Dua permohonan ini, disetujui Mu’awiyah meski dalam prakteknya, ia akhirnya mengkhianatinya. Tetapi, dengan memberikan jabatan yang disandang Hasan yang hanya tiga bulan itu, telah menyebabkan tidak terjadinya perang antara sesame umat Islam. Inilah yang disebut dengan tahun persatuan [am al jama’ah].

Sikap yang ditempuh Hasan ini, ditentang Abdurrahman bin Jubair bin Nufair al-Hadhrami, seorang shalih anak dari generasi sahabat. Sosok ini pernah mendengar ayahnya: “Aku bertanya kepada Hasan bin Ali saat dia menanggalkan jabatannya: “Bukankan umat Islam menginginkan engkau menjadi khalifah ya Hasan bin Ali?”  Hasan berkata: “Sesungguhnya orang-orang Arab di bawah kendaliku. Mereka berdamai dengan orang-orang yang berdamai denganku dan mereka memerangi orang-orang yang aku perangi. Namun aku lepaskan jabatan khalifah ini demi mencari ridha Allah SWT. Karena dengan menanggalkan jabatan ini, kedamaian di antara sesame umat Islam dapat terjadi [peny]

Hasan Sosok Dermawan

Rasul sendiri paling suka bercanda dengannya. Karena itu, sering disebut bahwa Hasan kecil adalah anak yang paling manja kepada Rasulullah. Sampai-sampai pada saat Rasul sedang sujud, sering kali ia bersama adiknya, Husein menunggangi punggung Rasulullah. Rasul sendiri membiarkan keduanya menaiki punggungnya itu, meski dengan konsekwensi harus memanjangkan sujudnya.

Dalam cerita lain, Rasul sendiri kadang membawanya ke mimbar, saat sedang melaksanakan khutbah dan ditengarai ia melihat kedua cucunya itu masuk ke dalam masjid. Karena itu, tidak salah jika banyak riwayat menyebut kalua Hasan adalah sosok yang paling banyak memiliki kesamaan sifat dengan Rasulullah.

“Salah satu sipat yang mirip dengan rasulullah itu adalah rasa kasih sayangnya terhadap manusia. Hasan bahkan lebih mementingkan sikap kemanusiaan dibandingkan dengan pelaksanaan ibadah yang dia laksanakan sekalipun. Pernah suatu hari, dalam salah satu pelaksanaan ibadah haji yang dilakukannya sebanyak dua puluh lima kali dengan berjalan kaki tersebut, dengan unta-unta dituntun di depannya itu, sedang melakukan thawaf.

Abu Ja’far al-Baqir berkata, “Seorang pria datang menemui Husain bin Ali meminta bantuan kepadanya untuk suatu kebutuhan. Lelaki itu menemukan beliau sedang i’tikaf. Kemudian Husain menolak secara halus permintaan pria dimaksud Karena dirinya sedang melaksanakan thawaf. Lalu ia pergi menemui Hasan dan meminta bantuan kepadanya.  Hasan memenuhi permintaan pria itu. Beliau berkata, “Membantu kebutuhan saudaraku di jalan Allah, jauh lebih aku sukai dari beri’tikaf sebulan penuh.”

Inilah sosok dermawan yang sulit memperoleh tandingnya. Dalam beberapa periwayatan, ia juga sering disebut suka membagikan uang yang dimilikinya kepada fakir miskin dan anak yatim piatu. Ia hampir tidak biasa menyisakan uangnya, lebih dari kebutuhan sehari-harinya.

Hasan Memiliki Sipat Penyayang

Rasa cinta kemanusiaan inipun, sampai pada saat ajal menjemputnya. Suatu hari Yazid bin Mu’awiyah mengirim perempuan kepada Hasan –tentu karena Hasan dikenal suka berganti-ganti istri—bernama Ja’dah binti al-Asy’ats, dengan perintah meracuni Hasan. Yajid menjanjikan kepada perempuan dimaksud akan menikahinya ketika Hasan meninggal. Lalu Ja’dah berhasil menemui Hasan dan memberinya minum yang dibubuhi racun mematikan. Hasanpun pingsa dan meninggal dunia beberapa saat kemudian. Menjelang kewafatannya, seorang dokter keluarga ahlul bayt itu berkata: “Orang ini telah diputus-putus ususnya oleh racun sehingga sulit diobati.”

Husain –adik Hasan– ketika mendengar pernyataan dokter keluarga itu bertanya kepada Hasan: “Wahai Abu Muhammad, katakan padaku, siapakah yang menyuguhimu minuman beracun ini!” Dengan sengai nafas yang mulai lemah, Hasan bertanya balik: “Mengapa wahai adikku?”  Ia menjawab: “Demi Allah SWT. aku akan membunuhnya sebelum aku mengubur jenazahmu, sekalipun ia sulit dicari karena bersembunyi, aku akan mencari dan menemukannya!” Di luar dugaan, Hasan berkata:

Wahai saudaraku, dunia ini hanyalah malam-malam yang fana, biarkanlah ia sampai kelak aku dan dia bertemu di hadapan Allah SWT.” Dengan pernyataannya ini, Hasan tidak mau menunjukkan nama itu. Ia malah minta kepada adiknya agar mengeluarkannya dari rumah supaya dapat menyaksikan luasnya langit. Lalu dia dikeluarkan dan Hasan berdo’a: “Ya Allah, aku memurnikan jiwaku berada di sisi-Mu, karena jiwaku adalah yang paling berharga bagiku.”

Itulah Hasan. Ia ingin memahami kematiannya sebagai keinginan atau kuasa Allah. Ia tidak mau kematiannya dapat mendorong umat manusia satu sama lain, mengakibatkan lahirnya fitnah, sekalipun ia tahu dan sadar bahwa dia diracun. Ia ingin tetap umat dalam kedamaian sekalipun dirinya sudah meninggalkan alam yang fana’. By. Prof. Cecep Sumarna

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.