Para Wali (Sunan) itu Ternyata Satu Darah

0 73

SIAPA para sunan (waliyullah) yang meng Islamkan Tanah Jawa? Kata sunan berasal kata dari susuhunan (sansekerta) yang berarti junjungan. Cerita beredar tentang penggunaan teladan wayang oleh Sunan Kalijaga. Salah satu sosok semi-legendaris Waliyullah yang dalam pandangan. Cohen dianggap sebagai “friend of Allah” atau “Sahabat Allah” memperkenalkan Islam ke Jawa pada abad kelima belas dan keenam belas. Satu kisah terkenal menjelaskan bagaimana Sunan Kalijaga memberikan pertunjukan wayang untuk deklarasi keyakinan Islam: “Tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasul-Nya.” (Cohen, Semar Makes the Hajj Shadow Puppet Theatre and Islam in Indonesia (ISIM News Letter 1 / 9 8).

Mathew Isaac Cohen berpendapat, “Islam dipraktekkan orang Indonesia berbeda dari yang dipraktekkan di negara-negara Timur Tengah dan Timur Dekat. Pasa masa pra-Islam bentuk-bentuk budaya dalam wayang teater kontemporer ternama Indonesia Jawa atau wayang dengan cerita-cerita berdasarkan karakter dan situasi epos India dari Mahabharata dan Ramayana, di atas segalanya. Fakta, banyak orang yang tinggal di Jawa (yang berisi hampir setengah dari penduduk Indonesia) menikmati tontonan petualangan Arjuna dan Gatotkaca sebagai pertunjukkan diambil sebagai bukti tak terbantahkan, bahwa Indonesia, sebagai orang” kurang Islam dari anggota-bangsa lain pada masyarakat dunia Islam.

Sosok yang ditinggikan derajatnya. Mereka memiliki kelebihan dari masyarakat yang waktu itu masih menganut agam lama. Karena mereka dipandang sebagai orang-orang terdekat, bahkan para kekasih Allah, mereka diyakini memeroleh karunia yang sangat berlebih, berilmu sangat tinggi, saktu Berjaya kawijayan (Saksono, 1995). Waliyullah (kata Arab) berarti wali Allah. Kata wali (jamaknya ; awliya) dalam al-Quran, umumnya dipergunakan dengan rti “penolong” atau “pelindung”, sehingga secara bahasa, waliyullah berarti penolong Allah atau orang yang selalu dalam pertolongan/perlindungan Allah (Ensiklopedia Islam Indonesia, Djambatan, 2002). Keturunan siapa para wali itu ?

Dalam Kitab Pustaka Negarakretabhumi (1670) diberitakan :
Hana pwa putra-ning imam jamaluddin al husén ikang tritya yata/ ibrahim jainuddin al akbar athawa maulana syamsu tamrés ngaranira wanéh/ tamolah ing campa nagari// ateher ibrahim jainuddin al akbar mastri lawa n putri raja campa yatiku déwi candrawulan ngaranira// i sedeng rayining déwi candrawulan yatiku déwi darawatipinaka stri dé ning raja wilwatikta wang sira tamolah ing jawa dwipa//

ing pasanggamanira ibrahim jainuddin al akbar lawan déwi candrawulan manak tapirang siki/ rwang siki pantaranya yata ali al mustada ngaranira/ mwang ali rahmatullah ngaranira// ali al mustada tekéng jawadwipa sinebut tubagus ngalimin i sedeng rayinira ali rahmatullah sinebut tubagus rahmat athawa susuhunan ampél/ ikang sayuktinya sakwéhing sang kamastwing athawa (sine)but wali/ kumwa juga sunan la(wa)n dang acaryāgaméslam ri nusa-nu(sa) i bhumi nusāntara mwang (na) gari yatiku hujung mendini/ campa/ kamboja/ bharata nagari/ parsi/ (atha)wa sakéng masarik tekaning magribi mwang lénya wanéh/ hana ta putropādananing rasul muhammad mangkana juga sira séh datuk kahphi lawan wali-wali lénya/ kumwa juga lawan séh lemah abang/ mankana pasanaknira//

séh sayid abdul malik yata maulana abdul malik ikang tamolah ing bhārata nagari manak pirang siki/ pantaranya al amir abdullah khanuddin/ rasika man(ak) ta pirang siki/ rwang siki panta-ranya yatiku prathama al amir ahmad syah jalaluddin/dwitya séh kadir kaélani satuluynya séh kadir kaélani manak yata maulana isa yata séh datuk isa/// (Wangsakerta, Pustaka Rajya Rajya i Bhumi Nusantara Parwa 2, 1670)

(Adapun putra Imam Jamaluddin al Husen yang ketiga, yaitu Ibrahim Jainuddin al Akbar alias Maulana Syamsu Tamres namanya yang lain, tinggal di negeri Campa. Kemudian Ibrahim Jainuddin al Akbar menikah dengan puteri raja Campa yaitu Dewi Candrawulan namanya. Sedangkan adik Dewi Candrawulan, yaitu Dewi Darawati dijadikan isteri oleh raja Wilwatikta dan ia tinggal di pulau Jawa. Dari pernikahannya, Ibrahim Jainuddin al Akbar dengan Dewi Candrawulan lahirlah beberapa orang anak. Dua orang di antaranya, yaitu Ali al Mustada namanya, dan Ali Rahmatullah namanya Ali al Mustada datang ke pulau Jawa disebut Tubagus Ngalimin, sedangkan adiknya, Ali Rahmatullah disebut Tubagus Rahmat atau Sunan Ampel.

Sesungguhnya, semua yang digelari atau yang disebut wali termasuk pula sunan dengan para pemuka agama Islam di pulau-pulau di bumi Nusantara dan negeri-negeri lain di Hujung Mendini, Campa, Kamboja, negeri India, Parsi atau dari timur sampai ke barat serta yang lainnya lagi, adalah keturunan Rasul Muhammad.

Demikian pula Syeh Datuk Kahfi dengan wali-wali lainnya. Juga dengan Syeh Lemah Abang yang masih kerabatnya. Syeh Sayid Abdul Malik, yaitu Abdul Malik yang tinggal di negeri India memiliki beberapa orang anak, di antaranya al Amir Abdullah Khanuddin. Dia memiliki beberapa orang anak. Dua orang di antaranya yaitu, pertama al Amir Ahmad Syah Jalaluddin, kedua, Syeh Kadir Kailani. Kemudian Syeh Kadir Kailani mempunyai anak, yaitu Maulana Isa atau Syeh Datuk Isa. )

Dalam NKB, dinyatakan Ali Rahmatullah pergi ke Pulau Jawa dalam perjalanannya berhenti di Palembang untuk mengajarkan agama Islam kepada seluruh rakyat. Lalu Bupati Majapahit di Palembang yaitu Arya Damar memeluk agama Islam. Arya Damar beristri dengan putri Cina yaitu Siu Ban Ci juga ibu Raden Patah dari perkawinannya dengan Prabhu Kretabhumi. Selanjutnya Ali Rahmatullah pergi ke Banten, di sini ia pun mengajarkan agama Rasul kepada rakyat, tidak lama ia pergi lagi ke Jawa Timur lalu berjodoh dengan Nay Mas Ratu Dwarawati adik ibunya. Ali Rahmatullah tinggal di Ampel Denta Surabaya untuk mengajarkan agama Islam juga, banyaknya rakyat yang memeluk agama Islam yaitu tiga ribu orang.

Lalu Ali Rahmatullah/Sunan Ampel berjodoh dengan putri Raden Teja Ariya Bupati Tuban yaitu Nay Mas Retnawati/Nay Ageung Maloka dan beranak empat orang, yaitu Maulana Makdum Ibrahim/Sunan Bonang. Maulana Syarifuddin/Sunan Drajat, Nay Ageung Maloka/Nay Ageung Tendes, dan perempuan yang berjodoh dengan Raden Sahid/Sunan Kalijaga. Raden Sahid adalah putra Bupati Tuban Tumenggung Majapahit. Lalu ia berjodoh dengan Dewi Saroh putri Maulana Ishak. Dan beranak 3 orang yaitu Raden Umar Sahid/Sunan Murya, Dewi Rukayah, dan Dewi Sofiyah. Raden Umar Sahid/Sunan Murya beristri dengan Dewi Sujinah putri Sunan Undung lalu beranak Pangeran Santri/Sunan Kadilangu.

Adapun istri Sunan Ampel yang kedua. Yaitu Siti Korimah putri Ki Wiryo Sarojo lalu beranak Siti Murtasiyah yang berjodoh dengan Raden Paku dan kedua Siti Mursimah. Begitu juga Sunan Ghiri, berjodoh dengan Siti Wardah. Wardah adalah putri Ki Ageung Bungkul. lalu putri Sunan Bonang yaitu Nay Dewi Rukil berjodoh dengan Jafar Syadik dan beranak Raden Amir Hassan. Sunan Kudus beristri dengan putri Pangeran Pecat Tanda Terung lalu beranak delapan orang yaitu Nay Ageung Pembayun. Panembahan Palembang, Panembahan Mekaos Honggo Kusuma. Panembahan Kodhi, Panembahan Karimun, Panembahan Joko, Ratu Pakojo, dan Nay Ratu Prodo Binabar yang berjodoh dengan Pangeran Poncowati yang menjadi senapati di Sumur Kudus. (NKB hal. 158-167)

Penaklukan Majapahit

Raja Majapahit Prabhu Purwawiçesa/Prabhu Kreta-bhumi/Prabhu Brawijaya ke-5 beristri dengan Nay Endang Sasmitapura lalu beranak Arya Damar. Lalu istrinya yang kedua yaitu Nay Retna Siu Ban Ci putri Tanghowat/Ki Banthong dan beranak Raden Praba/Raden Patah. Istrinya yang ketiga yaitu Nay Wandan Bondri Cemara lalu beranak Raden Bondan Kejawan yang berjodoh dengan Dewi Nawang Wulan. Pada perkawinan Raden Bondan beranak Nay Mas Ratu Angin Angin lalu berjodoh dengan Sutawijaya yang mendirikan Mataram baru. Raden Patah berjodoh dengan Nay Ageung Maloka putri gurunya/Sunan Ampel, ia menjadi Raja Demak dan berniat untuk mengakhiri kekuasaan Majapahit.

Maka dari itu bersama sembilan wali dan bala tentara dari negara lain menyerang Majapahit, lalu terjadilah peperangan. Setelah itu Majapahit kalah, orang-orang yang tersisa melarikan diri timur. Dipati Terung ditangkap oleh tentara Demak lalu ia memeluk agama Islam. Prabhu Brawijaya lari ke hutan, sedangkan Raden Baribin lari ke desa Ngayah lalu ke Pajajaran. Adapun Raja Pajajaran banyak putranya yaitu Raden Banyak Catra menjadi Raja Pasir Luhur. Raden Banyak Ngampar menjadi Raja Dayeuh Luhur dan Nay Retna Ayu Kirana yang dinikahkan dengan Raden Baribin. Lalu Raden Baribin beranak Raden Katuhu. (hal. 167-179).- *** Nurdin M. Noer, wartawan senior,pemerhati kebudayaan lokal.

Rujukan :
Cohen, Matthew Isaac, Semar Makes the Hajj Shadow Puppet Theatre and Islam in Indonesia (ISIM News Letter 1/98),
Ensiklopedia Islam Indonesia, Djambatan, 2002.
Negara Kerttabumi (Wangsakerta, 1670) alihbasa dan alihaksara Manassa 2008.
Saksono, Widji, Mengislamkan Tanah Jawa, Mizan, 1995.

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.