Antara Partai Politik dan Dunia Koruptif

Partai Politik dan Dunia Koruptif, Menjadi Nalar yang Sulit Dihindari
0 6

Korupsi yang saat ini melanda bangsa Indonesia, persis seperti kanker ganas. Menyebar tanpa dapat diduga dan dalam stadium tertentu, hampir sulit untuk disembuhkan. Penyakit ini hanya dapat disembuhkan ketika, datang keajaiban Tuhan.

Indonesia, tampaknya sedang berada dalam sakit kangker akut yang hanya dapat sembuh jika keajaiban Tuhan muncul tanpa diduga. Kangker itu bernama korupsi. Kata ini, dulu hanya dilekatkan kepada mereka yang bergulat dalam dunia birokrasi. Dunia yang ditentang keras salah satunya oleh kelompok politik, melalui partai politik. Tetapi, fakta bahwa hari ini, kata dimaksud telah menyebar sampai ke poros yang secara logika tidak mungkin dimasukinya.

Sarang-sarang korupsi dimaksud, kini bukan hanya ada dalam dunia birokrasi, tetapi mulai terbuka. Jendela utamanya, justru berasal dari pilar demokrasi dan sumbu pengubah negara, yakni Partai Politik. Partai Politik dan dunia Koruptik, tampak seperti sulit dipisahkan. Kondisi ini telah membuat nalar kita menjadi sulit memahaminya.

Korupsi Partai Politik

Bergulat dalam partai politik, dari dulu dan tampaknya dipertahankan sampai sekarang, selalu mengandung dua ruang pilihan, disanjung dan digantung. Dua ruang pilihan itu, tampaknya hari-hari ini sedang mengitari mereka yang bergiat dalam Partai Politik. Batas antara disanjung dan digantung begitu tipis dan singkat. Jauh lebih tipis dan jauh lebih singkat dibandingkan dengan lapisan kulit bawang dan jilatan kilat di siang bolong.

Perubahan senyum kemenangan dengan senyum getir penuh ketakutan begitu cepat terjadi. Tangis dan tawa datang silih berganti dan media begitu asyik mengambil berbagai warta untuk membaginya ke dalam slot-slot paling bergengsi. Tujuannya pasti tunggal, yakni keuntungan ekonomi.

Masyarakat sendiri sebenarnya banyak yang menikmati beritanya. Walau sekali-kali gerusan dada dilakukan atas rasa sumpeg dan hampiran keputusasaan menerpa jiwa pemirsa. Muncul juga aroma dan kesan membosankan. Mengapa? Karena setiap kasus yang muncul selalu ditutupi oleh kasus lain yang akhirnya tidak ada ujung pangkal penyelesaiannya.

Fenomena yang menimpa beberapa tokoh muda, yang belakangan ini banyak disebut terlibat dalam beberapa proyek berbau suap, dalam banyak hal bukan hanya telah menyentakkan publik aktivis sosial, tetapi, juga menyentakkan mereka yang selama ini menjadi pengagum berat mereka. Meskipun, secara hukum tampaknya belum dalam waktu singkat memperoleh keputusan apapun, tetapi, belitan persoalan yang menyertai kelompok muda ini, secara sosial agak sulit untuk dilepaskan.

Keterlibatan Tokoh-tokoh Muda dalam Korupsi

Publik secara umum menyadari bahwa, persoalan yang menimpa tokoh-tokoh muda ini, sebenarnya terjadi di beberapa pimpinan Partai Politik lain yang usianya tidak lagi muda. Tetapi, lilitan persoalan yang menimpa sosok-sosok muda dan dikenal sebelumnya sebagai tokoh-tokoh santun dan dianggap memiliki idealisme tinggi yang jujur dan relatif bersih, sedikit banyak telah menyiratkan bahwa bangsa ini memang sedang sakit. Sakit yang bukan hanya sulit disembuhkan para ahli ruwat tingkat desa, tetapi bahkan sangat menyulitkan mereka yang cukup ahli hasil besutan para ahli Perguruan Tinggi luar negeri bergengsi sekalipun.

Beberapa kalangan muda yang di kalangan tertentu sering ditahbiskan sebagai lokomotif kalangan progresif dan sejumlah harapan besar atas perbaikan bangsa ke depan, dikenal dengan kesantunan politik dan diakui kedermawanan sosial sejak dia masih mahasiswa, kritis dan sensitif melihat persoalan bangsa serta tenang dalam memberikan argumentasi, kini diposisikan persis seperti burung Camar yang sarap-sarap lidah suara merdunya mulai pada bengkok. Mereka yang dikenal tajam mengomentari senior-seniornya yang terlibat dugaan korupsi di tahun 1998, beberapa saat setelah proses reformasi terjadi, kini seolah terulang menghunjam dirinya.

Komentar
Memuat...