Inspirasi Tanpa Batas

Partai Politik Kehilangan Arah Ideologi Perjuangan

0 14

Konten Sponsor

Partai Politik Kehilangan Arah Ideologi Perjuangan. Kanker ganas bernama korupsi, ternyata tidak pernah bisa berakhir. Eskalasinya bahkan terus meningkat meski telah banyak korban yang meruntuhkan sendi-sendi kehidupan dirinya. Tidak sedikit bahkan yang meninggal di dalam penjara, sebelum masa pembebasannya dapat ia peroleh. Berbagai kejadian seperti itu, kini menjadi makanan harian. Bahkan eskalasinya terus menyebar tanpa dapat diduga dan hampir sulit dipercaya.

Jika pelaku korupsi, dulu hanya terdapat di birokrasi, maka hari ini,  koruptor [pelaku korupsi] telah menyebar sampai ke poros yang secara logika tidak mungkin dimasukinya. Pilar demokrasi [salah satunya Partai Politik], saat ini, justru menjadi sumbu utama pertumbuhan korupsi. Partai yang seharusnya menjadi pengubah mindset birokrasi pemerintah malah seperti sedang berlomba mencari dana, meski harus dihasilkan dari apa yang hari ini kita sebut korupsi.

Partai politik menjadi kehilangan terminologi ideologi yang menjadi dasar perjuangan dan pergerakan. Semua partai politik, dalam kaca mata tertentu, seperti bukan sedang memperjuangkan sesuatu yang esensial kebangsaan. Sebut misalnya, perjuangan ideologi; Islami, Nasionalis atau sosialis.  Ideologi partai politik menjadi tunggal, yakni mengumpulkan kekuasaan dan menghimpun uang, sekalipun uang hasil korupsi.

Perjuangan Ideologi

Di masa lalu, ada satu standar baku  ketika akan terjun ke dunia politik. Mereka yang masuk ke Parpol, datang dengan membawa dan memperjuangkan gagasan dan ide politik serta ideologi yang dianutnya. Pilihan atas politik itu, kalau bukan disanjung, ya digantung. Dua ruang pilihan itu siap mereka hadapi, karena demi memperjuangkan ideologi ideal yang dianutnya.

Kita mestinya bangga, terlepas dari soal benar dan salah, apa yang dilakukan teman-teman di Masyumi atau mereka yang bergerak di barisan kiri, seperti PKI. Setidaknya menurut perspektifnya masing-masing, mereka adalah pahlawan. Pahlawan dalam memperjuangkan ideologi yang dianutnya. Dipenjara atau mati, bahkan seolah menjadi kebanggaan, karena mereka merasa sedang memperjuangkan nilai yang menurutnya dapat menumbuhkan perubahan besar dalam konteks kebangsaan.

Hari ini, pilihan antara disandung atau digantung masih tetap berlaku. Hanya saja berbeda dari sisi material yang diperjuangkan. Kalau di masa lalu bersipat values-ideologis, hari ini, ideologi itu bernama kapitalisme. Batas antara disanjung dan digantung begitu tipis dan singkat. Jauh lebih tipis dan jauh lebih singkat dibandingkan dengan lapisan kulit bawang dan jilatan kilat di siang bolong. Partai politik berubah menjadi semacam komoditas yang mengartikulasi bagaimana sebuah partai pada akhirnya, menjadi mesin uang untuk menggerakkan tujuan politik.

Karena itu, menjadi tidak heran, jika ada tokoh politik yang begitu mudah berubah. Misalnya, perubahan dari sikap diri yang semula penuh senyuman kemenangan berubah menjadi getir penuh ketakutan. Perubahan itu, begitu cepat terjadi.

Tangis dan tawa datang silih berganti dan media begitu asyik mengambil berbagai warta untuk membaginya ke dalam slot-slot paling bergengsi. Tujuannya pasti tunggal, yakni keuntungan ekonomi juga.

Masyarakat sendiri sebenarnya banyak yang menikmati beritanya. Walau sekali-kali gerusan dada dilakukan atas rasa sumpeg dan hampiran keputusasaan menerpa jiwa pemirsa. Muncul juga aroma dan kesan membosankan. Mengapa? Karena setiap kasus yang muncul selalu ditutupi oleh kasus lain yang akhirnya tidak ada ujung pangkal penyelesaiannya.

Analisa Ringan

Dari berbagai kejadian di atas, apa yang menimpa Luthfi Hasan Ishak [PKS], Surya Dharma Ali [PPP], Anas Urbaningrum [PD] dan Setya Novanto [PG], serta ribuan pengurus dan anggota Partai politik; nasional dan daerah, dengan ragam masalah yang kompleks. Masalah itulah yang menyebabkan mereka akhirnya harus masuk dalam apa yang disebut dengan penjara. Entah berapa ribu manusia lain, yang bakal menyusul kemudian setelah kasus mereka berjalan.

Mencermati dinamika ini, sesungguhnya di mana yang salah. Tampaknya, jika kita mencoba menganalisa secara jernih, jangan-jangan persoalan semacam ini, ada yang tidak secara sengaja namun sistematis, sudah berada di bawah seluruh alam bawah sadar kita, bahwa sesungguhnya, korupsi telah menjadi sistem yang utuh. Hingga akhirnya, siapapun, dapat berada dalam posisi yang sama seperti mereka.

Pertanyaan berikutnya adalah, jangan-jangan sistem politik kita mesti kembali dirubah. Karena agak sedikit kurang elok, jika dalam aktivitas sehari-hari kita, yang kita tonton mayoritas hanya berurusan dengan soal politik dan korupsi,

Masalah lainnya adalah, kita atau siapapun sesungguhnya, mungkin hanya soal ketahuan atau tidak. Semoga tidak demikian. Prof. Cecep Sumarna

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar