Inspirasi Tanpa Batas

Partai tanpa Ideologi | Catatan untuk Partai Golkar Part – 3

0 14

Konten Sponsor

Partai tanpa Ideologi. Sikap Golkar tetap sulit dibaca arah perjuangannya. Termasuk terkait dengan isu kebangkitan PKI. Sikap Golkar yang dingin seperti saat ini, malah tampak lebih ramai berupaya mempertahankan Ketua Umumnya dari jeratan Hukum yang ditersangkakan KPK, sejatinya akan menyebabkan banyak kalangan tua semakin ragu pada eksistensi Golkar sebagai Partai politik. Asumsinya, jika Golkar saja diam, bagaimana dengan partai lain atau organisasi non partai.

Bukankah secara historis, Golkar lahir sebagai antitesis gerakan Komunis. Suatu gerakan yang diasumsikan pemerintah saat itu [Di mana Golkar] menjadi pemain utama, di akhir pemerintahan Orde Lama dan di awal Orde Baru. Sikap dingin Golkar atas isu dimaksud, akan melahirkan sejuta pertanyaan. Misalnya, bagaimana dengan partai lain, atau apalagi ormas yang secara tidak langsung bersinggungan dengan kepentingan kekuasaan? Apa sesungguhnya yang sedang dan selalu dimainkan Golkar? Inilah pertanyaan terpentingnya.

Ini pula mungkin yang menyebabkan Jenderal Nurmantyo, akhirnya mengambil sikap. Sekalipun sikapnya diambil sendirian terkait dengan isu kebangkitan Komunisme dengan sejumlah kontroversi didalamnya tentu saja. Apa yang dia perintahkan terkait dengan keharusan para prajurit menonton film Gestapu PKI, sekalipun kontroversial, dan melorotkan minat sejumlah partai untuk mengusungnya sebagai Calon Presiden atau minimal wakil presiden, dianggap banyak kalangan sebagai tindakan berpolitik di satu sisi, namun dapat menjadi semacam air di padang sahara di sisi lainnya, khususnya dari mereka yang masih trauma atas berbagai tindakan yang dilakukan Komunis di Indonesia.

Jenderal Gatot tampak ingin menunjukkan bahwa institusi yang dipimpinnya, masih konsisten menjadi NKRI dalam Perpektif Pancasila non Komunisme didalamnya. Ia merasa tetap harus mempertahankan sikap ini, sekalipun kita patut menduga bahwa dia sadar, justru secara politik malah merugikan dirinya.

Partai Tanpa Ideologi

Sepinya sikap Golkar tadi, diperkuat dengan ketidakjelasannya dalam membela dan mempertahankan ideologi Soeharto, akan menyebabkan partai ini semakin kehilangan magnetnya. Suatu ideologi pembangunan yang secara filosofis, sejatinya positif. Meski dalam implementasi di sana-sini banyak melakukan tabrakan sehingga melahirkan resistensi yang cukup akut.

Bagi saya, melorotnya terus elektabilitas Golkar dalam berbagai survey, sebenarnya bukan hanya karena faktor Setya Novanto, atau apalagi dalam keterlibatannya di Panita Angket KPK, tetapi justru karena Golkar tidak memiliki ruh ideologi perjuangan.

Sikap Golkar setelah hampir 20 tahun menjadi Partai politik, tetap tampak masih mempertimbangkan resistensi publik atas apa yang dilakukan Soeharto saat yang bersangkutan menjadi Presiden. Menurut saya, ini justru menjadi bumerang bagi keberlangsungan partai ini untuk masa yang akan datang.Publik menjadi semakin tidak jelas, membaca apa sesungguhnya yang diperjuangkan partai berlambang pohon beringin ini.

Energi Partai malah sering hanya dihabiskan untuk selalu menjaga kedekatan hubungan emosional dengan siapapun yang menjadi penguasa. Partai Golkar seringkali akhirnya kehilangan isu strategis sebagai salah satu motor politik penting Indonesia, tentang lakon pembangunan ekonomi, politik dan ideologi berjangka panjang. Golkar lama kelamaan malah akan tumbuh seperti partai politik yang tanpa ideologi.

Betul bahwa Soeharto banyak diasumsikan melakukan “pelanggaran” saat yang bersangkutan menjadi presiden. Tetapi presiden mana saat mereka memimpin yang tidak memiliki resistensi. Sekelas Lenin yang oleh penerusnya dibuat Patung dalam jumlah yang banyak dan jasadnya diawetkan di sebuah Musium sekalipun, bukan berarti ia tidak memiliki masalah.

Sosok ini, malah bukan saja dianggap otoriter dan diktator, tetapi juga banyak melakukan pelanggaran HAM. Lepas soal suka atau tidak suka atas situasi yang terjadi dengan Lenin dan penerusnya, yang pati mereka mampu mempertahankan pola pembangunan negara mereka dalam durasi waktu yang cukup panjang.Dalam periode ini pula, Uni Soviet bukan hanya sejajar dengan USA, tetapi, ia mampu menunjukkan jati dirinya secara esensial.

Perlu dicatatkan bahwa Ideologi Sosialis Kiri Lenin bertahan kisaran 1922 – 1991. Ia justru baru runtuh saat Mikhail Gorbachev melahirkan gerakan Glasnot dan Frestorika. Sejak saat itulah, negara yang hadir tanpa ideologi menjadi kehilangan energinya untuk berkembang. By. Prof. Cecep Sumarna –bersambung

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar