Take a fresh look at your lifestyle.

Pasang Surut Hubungan Cina – Islam

0 12

PASANG Surut Hubungan Cina – Islam. Sejarah Cina Islam di Jawa adalah bagian dari sisi terang yang sekian lama “dimumikan” oleh rezim (Orde Baru). Fakta historis Cina – Islam dianggap bukan fakta, melainkan bualan sejarah. “Sang rezim tanpa kenalletih terus menerus menghembuskan aroma borok-borok Cina tentang komunisme, tentang keserakahan,  tentang keculasan,  tentang kekikiran dan seterusnya.  Seolah tidak ada sisi baik dari mereka,  meskihanya secuil.  Propaganda ini begitu ampuh, menyentuh ke dalam relung-relung kalbu paling dalam dari masyarakat pribumi.” (Al  Qurtuby.2003).

Soal perlakukan diskriminatif dan citra negatif itu, oleh penulis (Sumanto Al Qurtubi) buku Aris Cina- Islam – Jawaini dalam tajuk abstrak yang tidak dipublikasikan (Dawam Ainuroofiq dan Alafsana Sirsaeba, dalam penghampiran editor buku Al Qurtubi.

Hubungan yang pertama kali dilakukan antara kaum Muslim Arab dan bangsa Cina melalui dunia dagang lintas daratan (negara). Ini terjadi setelah tahun-tahun pertama wafatnya Nabi Muhammad Saw. Bukan hanya untuk  berdagang, namun kalangan penyebar agama lainnya seperti Yahudi dan Kristen, para saudagar itu pun melakukan dakwah Islamiyah di negeri tersebut. Karena itulah sebagian peneliti sejarah berpendapat, bahwa Cina merupakan bangsa pertama yang menganut Islam di luar bangsa Arab. Dan Islam telah dianggap sebagai agama leluhur bangsa Cina di samping agama-agama dan keyakinan lainnya.

Rossabi, ahli sejarah dari Universitas New York (2003) memberikan gambaran, kejatuhan dinasti Han pada awal abad ke-3 merupakan penyebab kemunduran perdagangan “jalur sutera”. Meski demikian, kebangkitan dinasti Tang pada abad ke-7 membangkitkan kembali dunia komersial.  Sebagai fakta, pada periode Tang bisa disaksikan satu even dalam jumlah besar arus barang dagangan melintasi Asia.  Sebagai dampaknya terjadi peningkatan hubungan antarbudaya, seperti Islam, yang banyak dipengaruhi peradaban Cina pada tari-tarian dan musik  terutama pada bangsa-bangsa Asia Tengah.

Jalur Sutera

Membuka peta Timur Tengah pada masa lalu berarti membuka peta agama, dagang, politik dan budaya.  Agama-agama dan pengikutnya dalam lingkaran wilayah itu, ternyata merupakan pedagang dan misionaris agama-agama besar dunia. Ini terjadi mulai tahun 1.000 SM hingga 1.400 M. Sekira 2.400 tahun lamanya mereka bergumul dalam dunia dagang dan membentuk suatu jalur yang dikenal sebagai “Jalur Sutera” (Silk Road). Mulai agama Yahudi, Kristen, Islam, Hindu, Budha, Zoroaster dan Manichaeis terlibat dalam pergumulan tersebut.

Timur Tengah memang peta yang paling rawan di dunia dalam berbagai konflik kepentingan. Agama-agama ternyata memiliki peran luarbiasa dalam memberikan warna pada wilayah itu. Hingga kini konflik di wilayah itu pun terpaku pada empat masalah, yakni agama, dagang, politik dan budaya. Ada kalanya konflik berhasil diredam. Namun ada kalanya pula meletus menjadi peperangan.

Foltz, ahli sejarah dari Universitas Columbia (2003),  membentangkan analisanya dengan menarik. Pada permulaan abad masehi yang lalu, beberapa pengikut agama dunia melakukan pola yang serupa pada pertumbuhan dan penyebaran dari barat ke timur hingga rute perdagangan trans-Asia yang dikenal sebagai “jalur sutera”. Budha, Kristen, Manichaeism – salah satu kepercayaan yang berkembang luas yang hilang pada abad ke-16), dan Islam mengirimkan sebagian besar melalui para saudagar dan misionaris yang bergabung dengan kafilah saudagar.

Sebagai komunitas agama baru yang timbul melintasi Asia, mereka secara kontinyu menunjukkan jatidirinya menjamin perluasan bagi semangat dari sesama saudagar tersebut. Dus, hubungan tradisi keagamaan terhadap perdagangan satu sama lain saling bergantung; perkataan sejarah, selalu ada pada gagasan dunia keagamaan dan budaya sebagai hubungan yang dapat dipahami melalui aktivitas komersial jarak jauh.

Misi dagang kaum Muslim Arab menjangkau Cina dalam satu golongan kecil setelah tahun-tahun awal wafatnya Nabi Muhammad saw. Mereka mengadakan hubungan antara Muslim Persia dan Sogdian yang sangat terpelihara. Seluruh penganut kepercayaan di Barat mencapai posisi di Cina di bawah Mongol pada tahun 1200an dan 1300an, tetapi nasib mereka mempertalikan terhadap pelindungnya (Foltz).

Perlu dicatat antara tahun 1200an hingga 1300an merupakan abad invasi Bangsa Mongol, seperti yang dilakukan Jengis Khan pada 1227 di Kerajaan Singasari. Meski invasi itu gagal, namun sebagai dampaknya telah mempertemukan dua budaya besar, antara Cina dan Jawa yang menyatu dengan tentara Mongol yang tersisa dengan penduduk pribumi. Pertemuan budaya ini – seperti banyak diceritakan dalam babad (tradition of Java) – diprakirakan mulai berkembangnya ilmu pertabiban Cina. Tradisi pembuatan jamu yang berpusat di keraton-keraton Jawa diduga berasal dari abad ke-11.

Dengan kejatuhan dinasti Mongol, Yuan pada tahun 1368, seperti dijelaskan Foltz, merupakan periode damai yang juga sebagai hadiah perdagangan lintas-Asia sejak kedatangan hingga akhir. Dengan hubungan mereka pada pusat-pusat budaya dalam pecahan barat, Zoroaster, Yahudi, Manichaeis, dan Kristen memudar dari layar di Asia Selatan. Sisa-sisa Islam sebagai satu kepercayaan minoritas di Turki dan Cina Hui muslim. Hanya Budha yang bisa beradaptasi dan mereka menyatu secukupnya pada sisa-sisa sebuah kekuatan vital dalam masyarakat Cina. Hingga kini Xin Juan merupakan provinsi yang dihuni umat Islam paling besar di Cina. Diduga ketika Nabi Muhammad mengurus Abu Waqosh ke Cina, terjadi pertemuan di tempat itu. Di sinilah terjadi persahabatan abadi antara Islam dan Kong Hu Chu. (Nurdin M. Noer)- pemerhati kebudayaan lokal.***

Sumber pustaka :

Al  Qurtubi,  Sumanto. Arus Cina –Islam –  Jawa (INSPEAL Press, INTI, 2003).

Foltz, Richard, Religion and Overland Trade in Asia, 1000 BC to AD 1400  (Encarta Reference Library 2003),

Rossabi, Morris (Encarta 2003).

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar