Pasrah Pada Keadaan | Nokhtah Kerinduan Tuhan Part – 16

Pasrah Pada Keadaan | Nokhtah Kerinduan Tuhan Part – 16
0 125

Pasrah Pada Keadaan. Setelah ketiganya bergabung dalam komunikasi yang sangat intens, entah mengapa, tiba-tiba mereka diam dan senyap. Terlebih ketika Yanti yang sedang hamil itu, ikut bergabung dan seperti merasakan apa yang sesungguhnya dirasakan dua kawannya. Suasana mereka menyatu dalam lautan psikologis yang sangat dalam.

Dalam bathin, Yanti berkata: “Sesungguhnya bukan hanya kalian yang sedang bermasalah dengan asmara. Tetapi, akupun sama! Air mata Yanti-pun meleleh dengan lelehan yang pelan. Persis seperti butiran air embun di pagi hari yang disorot sinar surya yang mulai terang. Jatuh dengan cara yang sangat pelan meski pasti.

Ghina langsung menggapai Yanti dan berkata: “Hai kamu mengapa menangis? Ada apa …. kamu jangan larut dalam kesedihanmu. Nikmatilah, ini suasana jarang sekali kita miliki”. Yanti mengusap muka dan menggesekkan tangan di matanya. Ia lantas berkata: Terima kasih Ghina dan Linda. Hanya karena kalian berdualah yang membuat aku harus yakin bahwa perjalanan yang kulalui ini menjadi baik.

Keduanya menggelengkan kepala. Keduanya serempak berkata, bukan! Berkat kamulah semua keberkahan hidupmu menjadi baik. Jika bukan karena kebaikanmu atas dirimu sendiri, mana mungkin kamu tumbuh menjadi seorang profesional seperti saat ini. Dalam banyak kasus, sejak di SMA dulu, kamu adalah orang hebat. Dan kehebatan kamu menjadi nyata ketika kamu berdiri sendiri.

Linda Memulai Kejujuran

Untuk membunuh suasana senyap itu, Lindalah yang memulai segalanya. Linda mengajak kedua kawannya untuk jujur pada keadaan. Dan dialah, sang dosen Aritmatika ini yang memulai mengisyahkan perjalanan cinta dengan kekasihnya di kampus di mana dia mengabdi. Sejujurnya, ya aku tak mau berbohong, aku tak mau di dunia ini tidak ada saksi yang mendengar jeritan cintaku pada sang masestro cinta. Cinta yang bukan saja membenamkan cintaku kepada suamiku, tetapi, cinta yang mengaransemen masa depanku.

Cinta ini akan mengabadikan aku dalam segenap rasa. Dulu mungkin kita pernah merasakan cinta kepada lawan jenis kita. Tetapi, cinta di masa lalu, sering muncul, tetapi begitu mudah terlupakan. Tetapi, cinta kali ini, cinta yang tak mungkin mampu kulupakan apalagi kutinggalkan, meski mungkin kami tak pernah menyatu dalam satu rumpun keluarga layaknya, mereka yang saling mencintai.

Aku telah memiliki suami. Sama seperti dia. Dia juga telah memiliki istri. Aku meminta kepadanya, demi cintaku dan demi cintanya, biarlah kami mengabadikan cinta ini dalam naluri kami.

Ghina dan Yanti dengarkanlah aku. “Sejujurnya kini aku mabuk asmara! Ya mabuk asmara. Bukan mabuk cinta lagi. Semuanya bermula ketika secara tidak disengaja, kami bertemu di sebuah tempat yang sangat jauh dari tempat di mana kami bekerja. Aku sedang melakukan riset dan aku tidak tahu kalau dia juga sama riset di Kalimantan. Malam di mana kami bertemu, dengan guyuran hujan yang sangat dahsyat, kami tak kuasa, kami melakukan cumbu asmara”.

Dalam batas-batas tertentu, cumbuan itu, sejujurnya telah mengabadikan aku akan suatu rasa yang tampaknya tak pernah aku miliki dan tak pernah aku nikmati sebelumnya.

Ghina Juga sama Mabuk Asmara

Belum juga Linda selesai bicara, Ghina langsung tertawa lebar dan terbahak. Dia yang terbiasa hanya senyum simpul kali ini dia tertawa lebar dan terbahak-bahak. Linda dan Yanti bingung … mengapa dia tersenyum sedemikian bahagianya. Selidik punya selidik, ternyara dia juga sama. Ia bersama Lutphy bukan hanya sekedar mabuk cinta, tetapi, entah berapa kali dia juga melakukan hubungan asamara gelap dengannya.

Yanti hanya diam dan bengong. Ia bingung untuk mengutarakan bahwa sesungguhnya bayi dalam kandungannya, bukanlah hasil dari hubungan syah dirinya dengan suaminya. Tetapi, bayi dalam kandungannya adalah hasil hubungan tidak syah yang tidak secara sengaja dia lakukan bersama Alamsyah yang menjadi boss sekaligus atasannya.

Yantilah yang mengakhiri segalanya. Ia tetap tidak jujur mengutarakan sejumlah rasa dan apa yang sedang terjadi pada dirinya. Tetapi, ia berkata: “Saudaraku… jagalah rahasia cintamu sampai kapanpun. Aku pernah berada dalam suasana bathin di mana dulu suamiku “berselingkuh” dengan perempuan lain. Demi menjaga pasangan kita, biarlah hak cinta kita hanya menjadi milik kita. Selebihnya kita pasrah saja pada Tuhan. By. Charly Siera –bersambung.

Komentar
Memuat...