Pengertian dan Sejarah Patologi Sosial

0 5.446

Patologi Sosial: Di Indonesia, arus reformasi berjalan begitu cepat. Dideklarasikan sejak tahun 1998 oleh para reformis dari unsur akademik, politisi, tokoh masyarakat, tentara, kepolisian dan media massa. Reformasi, telah menyebabkan perubahan arus yang cukup signifikan. Situasi ini telah mengubah jarum jam sejarah dalam tata lakon kebangsaan Indonesia dari sentralisme ke desentralisme. Dari otoritarianisme  ke demokratisme. Dari birokratisasi ke debirokratisasi. Tetapi ada juga yang lupa dan jarang diulas yaitu perubahan dari eksploitasi (umum dilakukan birokrasi terhadap publik) ke anarki yakni kekerasan yang dilakukan publik terhadap publik atau dari publik ke birokrasi.  Pada aspek yang terakhir ini, penulis melihat bahwa perubahan ini belum menempati posisi keseimbangan dalam berbagai kajian publik.

Pengertian Patologi Sosial

Patologi berasal dari kata phatos (Yunani)  berarti: disease (penderitaan atau penyakit)  dan logos yang berarti ilmu. Penyakit dimaksud  dapat berupa lahir dapat pula bersipat bathin. Karena itu, secara bahasa kata patologi dapat diterjemahkan dengan ilmu tentang penyakit.  Jika kata patologi disandingkan dengan kata sosial, maka, ia menjadi salah satu disiplin  ilmu tersendiri, yakni kajian tentang gejala-gejala sosial yang dianggap sakit.

Kata sosial dapat diterjemahkan sebagai tempat atau wadah pergaulan hidup antar manusia yang perwujudannya berupa kelompok manusia atau organisasi yakni individu atau manusia yang berinteraksi atau berhubungan secara timbal balik. Di sisi ini, hubungan dimaksud bukan dalam konteks manusia dalam arti fisik, tetapi ia dalam arti yang lebih luas yaitu comunity atau masyarakat.  Dengan demikian, patologi sosial dapat diartikan  sebagai ilmu tentang gejala-gejala sosial yang dianggap “sakit” yang sakitnya dimaksud disebabkan faktor-faktor sosial atau Ilmu tentang asal usul dan sifat-sifatnya, penyakit yang berhubungan dengan hakikat adanya mnusia dalam hidup masyarakat.

“Sakit” dimaksud, tentu disebabkan karena faktor-faktor sosial atau berbagai dimensi yang berkaitan dengan dimensi-dimensi sosial. Madsud dari pengertian di atas bahwa patologi adalah ilmu yang membicarakan tentang asal usul dan sifat-sifat yang menjadi sebab munculnya penyakit. Konsep ini bermula dari pengertian penyakit di bidang ilmu kedokteran dan biologi yang kemudian diberlakukan pula untuk masyarakat.

Disebut demikian, karena masyarakat itu tidak ada bedanya dengan organisme atau biologi.  Dalam konteks ini, di lingkungan masyarakat dikenal dengan konsep penyakit Karena itu, kata patologi sering oleh para sosilog diterjemahkan dengan: Semua tingkah laku yang bertentangan dengan norma kebaikan dan stabilitas lokal yang tumbuh dan berkembang di lingkungan masyarakat.

Pola kesederhanaan, moral, hak milik, solidariatas, kekeluargaan, hidup rukun dalam bertetangga, disiplin, kebaikan dan hukum formal, jika dilanggar dapat menjadi apa yang disebut dengan patologi sosial. Dalam definisi ini, patologi sosial dapat pula digambarkan sebagai suatu gejala di mana tidak ada persesuaian antara berbagai unsur dari suatu keseluruhan, sehingga dapat membahayakan kehidupan kelompok, atau yang sangat merintangi pemuasan keinginan fundamental dari anggota-anggotanya. Konsekwensi dari dinamika yang demikian, adalah ikatan sosial menjadi patah.

Sejarah Patologi Sosial

Pada awal ke-19 sampai awal abad ke 20, para sosilog mendefinisikan patologi sosial sebagai semua tingkah laku yang bertentangan dengan norma kebaikan, stabilitas lokal, pola kesederhanaan, moral, hak milik, solidaritas, kekeluargaan, hidup rukun dengan tetangga, disiplin, kebaikan, dan taat pada hukum formal.

Beberapa faktor yang menjadi sebab utama lahirnya patologi sosial, sebenarnya berakar dari posisi manusia sebagai makhluk yang cenderung progresif dalam berbagai bentuk dan jenisnya. Karakter manusia yang ingin memenuhi kebutuhan hidup misalnya, secara faktual telah menghasilkan teknologi yang demikian pesat. Pertumbuhan dan perkembangan teknologi yang demikian, telah melahirkan masyarakat modern yang serba kompleks, seperti terjadinya mekanisasi, industrialisasi, dan bahkan urbanisasi.

Hal ini di samping mampu memberikan berbagai alternative kemudahan bagi kehidupan manusia juga dapat menimbulkan hal-hal yang berakibat negatif kepada manusia dan kemanusiaan itu sendiri yang biasa disebut masalah sosial. Adanya revolusi industri telah menunjukan betapa cepatnya perkembangan ilmu-ilmu alam dan eksakta yang tidak seimbang dengan berkembangnya ilmu-ilmu sosial telah menimbulkan berbagai kesulitan yang nyaris dapat menghancurkan umat manusia. Misalnya, Pemkaian mesin-mesin industri di pabrik-pabrik, mengubah cara bekerja manusia yang dulu memakai banyak tenaga manusia sekarang diperkecil, terjadinya pemecatan buruh sehingga pengangguran meningkat (terutama tenaga kerja yang tidak terampil), dengan timbulnya kota-kota industri cenderung melahirkan terjadinya urbanisasi besar-besaran.

Penduduk desa yang tidak terampil dibidang industri mengalir ke kota-kota industri, jumlah pengangguran di kota semakin besar, adanya kecenderungan pengusaha lebih menyukai tenaga kerja wanita dan anak-anak (lebih murah dan lebih rendah upahnya). Pada akhirnya, keadaan ini semakin menambah banyaknya masalah kemasyarakatan (social problem) terutama pada buruh rendah yang berkaitan dengan kebutuhan sandang pangannya seperti, perumahan, pendidikan, perlindungan hokum, kesejahteraan social, dll. Kesulitan mengadakan adaptasi dan adjustment menyebabkan kebingungan, kecemasan, dan konflik-konflik. Baik yang bersifat internal dalam batinnya sendiri maupun bersifat terbuka atau eksternalnya sehingga manusia cenderung banyak melakukan pola tingkah laku yang menyimpang dari pola yang umum dan melkuikan sesuatu apapun demukepentingannya sendiri bahkan cenderung dapat merugikan orang lain.

Beberapa contoh di antara perilaku yang mengandung dimensi patologi sosial, berdasarkan kategori dalam tindakan, dapat dijelaskan beberapa hal. misalnya: 1). Kontak fisik langsung seperti memukul, menendang, mendorong dan tindakan kekerasan lain yang mengakibatkan seseorang mengalami gangguan secara fisik atau kesehatan secara umum; 2). Kontak verbal langsung seperti memaki, mencela, memberi panggilan jelek, dan ungkapan-ungkapan lain yang mengakibatkan menurunnya keadaan psikologis dan penyesuaian sosial; 3). Prilaku non verbal langsung seperti sinis dan mengintimidasi yang dapat mengganggu seseorang untuk memperoleh prestasi dalam berbagai jenis dan jenjangnnya; 4). Prilaku non verbal tidak langsung seperti mendiamkan dan menjauhi yang mengakibatkan rasa cemas berlebihan, rasa takut dan bahkan ada keiinginan untuk melakukan bunuh diri, dan; 5). Pelecehan seksual patologi ini sering dilakukan di dunia pendidikan baik sekolah atau kampus, mungkin yang lebih terkenal yaitu perpeloncoan.

Latar Belakang Patologi Sosial

Sejarah mencatat bahwa orang menyebut suatu peristiwa sebagai penyakit social murni dengan ukuran moralistic. Sehiongga apa yang dinamakan dengan kemiskinan, pelacuran, alkoholisme, perjudian, dsb adalah sebagai gejala penyuakit social yang harus segera dihilangkan dimuka bumi. Kemudian pada awal abad 19-an sampai awal abad 20-an, para sosiolog mendefinisikan yang sedikit berbeda antara patologi social dan masalah social.

Masalahnya adalah kapan kita berhak menyebutkan peristiwa itu sebagai gejala patologis atau sebagai masalah social? Menurut kartini dalam bukunya “patologi social” menyatakan bahwa orang yang dianggap kompeten dalam menilai tingkah laku orang lain adalah pejabat, politisi, pengacara, hakim, polisi, dokter, rohaniawan, dan kaum ilmuan dibidang social. Sekalipun adakalanya mereka membuat kekeliruan dalam membuat analisis dan penilaian tehadap gejala social, tetapi pada umumnya mereka dianggap mempunyai peranan menentukan dalam memastikan baik buruknya pola tingkah laku masyarakat. Mereka juga berhak menunjuk aspek-aspek kehidupan social yang harus atau perlu diubah dan diperbaiki.

Ada orang yang berpendapat bahwa pertimbangan nilai (value, judgement, mengenai baik dan buruk) sebenarnya bertentangan dengan ilmu pengetahuan yang objektif sebab penilaian itu sifatnya sangat subjektif. Karena itu, ilmu pengetahuan murni harus meninggalkan generalisasi-generalisasi etis dan penilaian etis (susila, baik dan buruk). Sebaliknya kelompok lain berpendapat bahwa dalam kehidupan sehari-hari, manusia dan kaum ilmuan tidak mungkin tidak menggunakan pertimbnagan nilai sebab opini mereka selalu saja merupakan keputusan yang dimuati dengan penilaian-penilaian tertentu. Untuk menjawab dua pendirian yang kontroversial tersebut, kita dapat meninjau kembali masalah ini secara mendalam dari beberapa point yang disebutkan oleh Kartini Kartono dalam bukunya yang berjudul Patologi social, sebagai berikut:

  1. ilmu pengetahuan itu sendiri selalu mengandung nilai-nilai tertentu. Hal ini dikarenakan ilmu pengetahuan menyangkut masalah mempertanyakan dan memecahkan lesulitan hidup secara sistematis selalu dengan jalan menggunakan metode dan teknik-teknik yang berguna dan bernilai. Disebut bernilai karena dapat memenuhi kebutuhan manusiawi yang universal ini, baik yang individual maupun social sifatnya, selalu diarahkan untuk mencapai tujuan-tujuan yang bernilai.
  2. ada keyakinan etis pada diri manusia bahwa penggunaan teknologi dan ilmu pengetahuan modern untuk menguasai alam (kosmos,jagad) sangatlah diperlukan demi kesejahteraan dan pemuasan kebutuhan hidup pada umumnya. Jadi ilmu pengetahuan dengan sendirinya memiliki system nilai. Lagi pula kaum ilmuan selalu saja memilih dan mengembangkan usaha/aktivitas yang menyangkut kepentingan orang banyak. jadi memilih masalah dan usaha yang mempunyai nilai praktis.
  3. falsafah yuang demokratis sebagaimana tercantum dalam pancasila menyatakan bahwa baik individu maupun kelompok dalam masyarakat Indonesia, pasti mampu memformulasikan serta menentukan system nilai masing-masing dan sanggup menentukan tujuan serta sasaran yang bernilai bagi hidupnya.

** Team Lyceum | Referensi: Taufiqjournal’s

 

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.