PAUD Dalam Kekeliuran Klasifikasi dan Subtansi

0 80

Pandangan sebagian besar masyarakat Gorontalo yang menganggap bahwa Pendidikan Anak Usia Dini merupakan lembaga terpisah dari Taman Kanak-Kanak sangat menggelitik hati penulis. Mereka memisahkannya berdasarkan rentang usia. Yakni, anak PAUD merupakan anak yang bersekolah pada usia 2-4 tahun. Sementara TK adalah anak yang telah selesai mengenyam PAUD yakni anak yang berusia 4-6 tahun. Hal yang keliru ini terkuak oleh penulis berawal dari diskusi santai bersama teman-teman dan beberapa wawancara yang penulis lakukan pada orang-orang tertentu. Dari teman-teman kuliah, adik kelas mahasiswa S1 PAUD dan bahkan ada oknum pejabat Gorontalo yang juga berpandangan demikian.

Kekeliruan TK dan PAUD

Perihal diatas menjadi sebuah kegalauan dan tanda tanya besar bagi penulis, betapa tidak dari segi lembaga saja PAUD sudah dipisahkan dengan TK bagaimana mau bicara substansi pentingnya anak mengenyam dunia Pendidikan Anak Usia Dini. Hal ini kemudian menjadi renungan penulis bahwa betapa minimnya sosialisasi yang dilakukan terhadap masyarakat, edukasi nonformal yang dilakukan oleh stekholder PAUD masih sangat jauh dari kata maksimal.

Undang-undang SISDIKNAS Nomor 20 tahun 2003 telah jelas menerangkan bahwa Pendidikan Anak Usia Dini adalah mereka (anak-anak) yang berusia 0-8 tahun. Sehingga PAUD terbagi atas tiga lembaga sekaligus yakni Nonformal (TPA/KB), Informal (Keluarga) dan Formal (TK/RA/SD kelas awal). Anak berusia 0-2 tahun terdapat dua pilihan Pendidikan yakni TPA (taman penitipan anak) atau bersama keluarga. Anak yang berusia 2-3 tahun hendaknya dimasukan ke Kelompok Bermain (KB). Sedangkan anak berusia 3-4 tahun masuk TK kelompok A, dan anak yang berusia 4-5 tahun masuk TK kelompok B, sampai anak usia 6-8 tahun ia masuk kelas awal SD yakni kelas 1, 2, dan 3. Kesemuanya masih masuk dalam ruang lingkup PAUD. Kesimpulannya PAUD adalah lembaga besar yang menaungi TPA, KB, RA, dan termasuk TK.

Hal ini sangat penting diketahui oleh masyarakat yang notabenenya adalah orang tua. Karena jika anak dimasukan di lembaga yang belum sesuai dengan tahap perkembangannya maka yang terjadi adalah kejenuhan belajar yang akan dialami oleh seorang anak. Jangan heran ketika anak menanjak Sekolah Dasar sangat sulit diajak belajar.  Bahkan “kebandelan” anak SD saat ini sudah sangat memprihatinkan. Ini dikarenakan ketika anak diwaktu kecil tidak merasa puas dalam bermain. Sehingga ketika menemukan pembelajaran berhitung awal diwaktu SD misalnya ia akan merasa bosan didalam kelas sehingga ia akan mencari kesenangan diluar kelas. Contoh sederhanaya Pergi bermain Playstation dan tak jarang mengajak teman-temannya jalan-jalan ke Mall, walau hanya sekedar melihat-lihat untuk memuaskan dahaga bermainnya.

Anak Usia 0-2 Tahun

Anak usia 0-2 tahun ada baiknya menjadi tanggung jawab orang tua. Tanggung jawab tersebut ada terutama bagi ibu untuk mengawasi dan menstimulasi tahap perkembangannya. Ibu haruslah cuti bekerja dan membiasakan anak dengan hal-hal baik. Misalnya memperdengarkan lantunan ayat suci Al-Quran dan shalawat Nabi. Hal ini sangat membekas pada anak untuk membentuk respek mentalnya. Sehingga ketika ia besar nanti jiwa religiusnya akan terbentuk secara otomatis. Sebab, dia akan suka belajar membaca Al-Quran dan membaca shalawat nabi.

Anak Usia 2-3 Tahun

Setelah anak berusia 2-3 tahun atau lebih. Maka, sebaiknya anak dibiarkan bermain sebebas-bebasnya namun masih dalam kontrol dan pengawasan orang tua ataupun pendidik ketika ia berada di satuan PAUD yakni Kelompok Bermain (KB). Jangan pernah melarang anak bermain, biarkan ia mengeksplorasi dirinya dengan kemerdekaannya. Namun, tetap dijaga sekiranya ada hal negatif yang dilakukan anak maka orang tua atau guru harus segera memberitahu bahwa hal tersebut tidak baik dengan memberikan alasan-alasan sederhana yang masuk akal bagi anak.

Anak Usia 3-4 Tahun

Selanjutnya anak yang berusia 3-4 tahun sebaiknya sudah masuk TK kelompok A. Sekali lagi penulis tekankan bahwa “TK masih dalam naungan PAUD”. Dimasa ini anak diajak untuk bermain sambil belajar, artinya permainan anak sudah dikontruksi sedemikian rupa untuk dijadikan sebagai pembelajaran agar tahap perkembangannya dapat tumbuh dengan optimal. Misalnya ketika anak bermain balok maka pada saat yang bersamaan anak dikenalkan dengan bentuk-bentuk bangun ruang dan bangun datar.

Anak Usia 4-5 Tahun

Pada saat anak berusia 4-5 tahun, anak sudah memasuki TK kelompok B. Nah disini anak masih dengan semboyan bermain sambil belajar. Bedanya dengan kelompok A dan kelompok B adalah tahap perkembangannya kelompok B lebih meningkat. Misalnya pada aspek kognitif anak, anak kelompok A sudah mampu membedakan rasa manis dan rasa asam maka pada saat anak kelompok B sudah bisa memadukan antara beberapa rasa sehingga menjadi rasa yang pas mantap, hal ini bisa dikenalkan oleh guru pada anak di sentra memasak. Perbedaan kelompok A dan kelompok B bukan pada kemampuan calistung (membaca, menulis, berhitung), hal itu adalah penyiksaan buat anak, kecuali anda mengetahui metodenya.

anak Usia 6-8 Tahun

Akhirnya tibalah anak berusia 6-8 tahun, dimana masa ini adalah masa akhir dari Pendidikan Anak Usia Dini. Dimasa ini anak sudah masuk sekolah dasar kelas awal, masa dimana anak sudah bisa dikenalkan dengan membaca menulis dan berhitung. Jadi jika ada Sekolah Dasar yang mempersyaratkan anak masuk Sekolah Dasar harus sudah menguasai calistung maka hal tersebut bisa dipidana karena melanggar Peraturan Pemerintah Nomor 17 tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan yang mengacu pada Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Dasar 1945 serta Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang sistem Pendidikan Nasional pasal 69 ayat (5) :

“Penerimaan peserta didik kelas 1 (satu) SD/MI atau bentuk lain yang sederajat tidak didasarkan pada hasil tes kemampuan membaca, menulis, dan berhitung, atau bentuk tes lain”.

Orang tua pula harus mendukung hal ini, jangan bangga dengan anak yang sudah bisa membaca menulis dan berhitung sebelum waktunya. Karena efeknya anak rentan akan perilaku sosial yang negatif ketika ia besar nanti.

Demikian kiranya, Betapa kita perlu mengetahui Pentingnya Pendidikan Anak Usia Dini dan pengklasifikasiannya serta substansinya. Anak hari ini adalah pemimipin dimasa yang akan datang. Negara-Negara maju seperti Jepang, German, dan Amerika, Guru PAUDnya adalah para Professor. Hal ini mereka lakukan karena mereka sadar bahwa untuk memajukan bangsa dimasa yang akan datang adalah dengan mempersiapkan Sumber Daya Manusia sejak dini. Olehnya, mari kita hadiahi satu abad kemerdekaan Indonesia nanti dengan generasi yang mumpuni yang kita persiapkan mulai saat ini. Yaitu, dengan memaksimalkan kualitas Pendidikan Anak Usia Dini.***Ahmad Hiola


ahmad-hiolaTentang Penulis

Penulis kelahiran Gorontalo, 18 September 1992 ini seorang aktivis dan pemerhati sosial masyarakat. Jebolan S1 Universitas Negri Gorontalo memilih hijrah ke pulau jawa untuk menimba ilmu dan kini Penulis melajutkan study S2 PAUD di Universitas Negri Jakarta.

 

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.