Pecinta Sejati Selalu Ingin Hidup Bersama

0 33

Pecinta sejati selalu setia kepada komitmen yang dibangunnya. Ia tidak akan memilih untuk meninggalkan komitmennya, sekalipun hal itu diberikan kepada makhluk setingkat Iblis yang sering digambarkan sebagai musuh manusia. Para pecinta sejati hanya akan tersenyum dan bersyukur kepada Tuhan yang Maha Kuasa atas terciptanya segala hal, termasuk atas terciptanya Iblis.

Ia tidak akan marah apalagi membenci dan mengkhianatinya. Persis seperti peragaan Nabi Muhammad yang tersenyum kepada Iblis yang menggodanya dengan cara memelesetkan dia saat akan melaksanakan shalat subuh berjamaah bersama para sahabat setianya di Mekkah. Ia tidak marah dan tidak membencinya.

Pecinta Sejati Selalu Setia

Pecinta sejati, dengan demikian, adalah sosok setia. Dalam kasus tertentu, prinsip ini, mirip seperti Nabi Muhammad yang tampak asyik memberi makan kepada seorang Yahudi yang buta dan lumpuh. Yahudi itu tinggal di sebuah pojok Pasar Madinah dengan pekerjaan hanya meminta-meminta kepada siapapun yang melewatinya.

Sambil meminta-minta itu, ia tidak berhenti menjelek-jelekkan Nabi Muhammad. Muhammad yang dikagumi jutaan makhluk dan bahkan trilyunan Malaikat di langit dan penciptanya, dikata-katai jorok dan cenderung tidak berkeprimanusiaan.

Si Yahudi yang buta dan lumpuh itu, sering menyebut Muhammad sebagai tukang tenun, pencuci otak manusia dan pelaknat manusia di bumi. Muhammad hanya menjawab dengan senyum dan ia tetap memberi makan kepadanya di setiap pagi dan sore. Jika makanan itu terlalu keras, ia mengunyahnya terlebih dahulu untuk dilembutkan.

Anehnya lagi, justru cacian itu didapatkan Muhammad saat ia memasukan makanan ke dalam rongga mulutnya. Laki-laki yang tidak memiliki kuasa untuk bekerja dan tidak memiliki kemampuan untuk melihat secara utuh siapa sesungguhnya yang memberi makan kepadanya dengan cara yang sangat lembut itu, dibiarkan oleh Nabi secara natur.

Mengapa tetap Setia

Kenapa para pecinta sejati tidak membenci dan selalu memenuhi janjinya (setia) kepada siapapun termasuk kepada Iblis, tentu jika dia sudah berjanji. Karena pecinta sejati tidak terlatih membuat figuritas buruk untuk siapapun, termasuk kepada mereka yang secara kasat mata memang tampak buruk.

Ketidak marahan Rasul Muhammad kepada perilaku Iblis, atau tentu manusia yang memerankan perilaku Iblis. Sebagaimana dipertontonkan orang Yahudi di Pasar Medinah itu. Karena Rasul menganggap bahwa ia bukan saja sama-sama sebagai makhluk Tuhan dan pernah menjadi cermin Tuhan,. Tetapi lebih dari itu, ia tidak ingin pengikutnya terbiasa membentuk figur-figur buruk dalam kehidupan di muka bumi.

Dengan logika semacam ini, maka, kita tidak terlatih membentuk figur-figur buruk di sekitar kehidupan kita. Kita hanya terlatih menjadi pecinta dan selalu ingin berdamai dengan setiap segmen masyarakat agar dapat hidup sewajar dan bersama.

Dalam perpektif tertentu, apa yang disebut dengan keburukan, ternyata hanya milik pemberi persepsi. Yang diberi persepsi tentang keburukan, tetap ajeg baik dalam keburukan yang sesungguhnya atau bahkan sebaliknya. Ia ternyata jauh lebih baik daripada apa yang dipersepsi oleh orang yang mengklaimnya sebagai baik.

Logika manusialah yang mendorong dirinya untuk disebut baik dan buruk. Karena hanya logika yang bermain tentang kebaikan dan keburukan, maka, alangkah malangnya, jika hidup yang kita jalani ini hanya berfungsi untuk membuat figur-figur buruk dalam kehidupan. Manusia seperti ini, saya kira tidak mungkin bisa hidup bersama manusia lain. Inilah tampaknya pesan yang hendak disampaikan Rasul Muhammad kepada para pengikutnya. By. Prof. Cecep Sumarna

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.