Peluklah Mimpi di Komunitas Terbatas | Slow Down to Speed Up – Part 5

Slowdown to Speed Up Part - 5
0 10

Peluklah Mimpi di Komunitas Terbatas. Jika anda memiliki cita-cita yang tinggi, jangan diekspresikan di tengah masyarakat yang kulturnya sangat terbatas. Atau tidak juga di sebuah masyarakat yang tingkat imaginasinya rendah. Di tengah suatu komunitas masyarakat yang ideologinya tunggal.

Jika anda memiliki mimpi yang imaginer tadi, peluklah dengan erat. Simpanlah mimpi itu di dasar hati yang paling dalam. Mengapa? Sebab mimpi anda akan tertepis oleh segenap anggapan negatif yang mungkin jatuh kepada anda. Padahal mimpi sejatinya dapat menjadi drive kehidupan kita.

Sebut misalnya, anda bercita-cita menjadi seorang pengusaha hebat dan raksasa. Padahal, anda berada di tengah segenap masyarakat kumuh dan terbelakang. Lalu cita-cita itu diekspresikan kepada mereka yang kebanyakan kumuh dan terbelakang itu. Saya pastikan, anda tidak akan mendapat pujian. Anda malah akan mendapat cacian dan hinaan yang cukup menyakitkan. Jika anda tidak kuat atas situasi semacam itu, maka, anda mental anda akan mengalami kemunduran setiap waktu.

Karena itu, memilih tempat yang baik adalah kebaikan. Bahkan dapat disebut sebagai puncak kebaikan itu sendiri. Ia berada dalam posisi yang tinggi dan tidak ada tempat lain yang sebanding dengannya. Mungkin karena itu pula, Nabi menyatakan, bergaulan kamu dengan orang baik. Tujuannya agar kita terbawa baik.

Bergaul dengan tukang arang kita ke bawa hitam. Bergaul dengan tukang jualan minyak, kita akan kebawa harum. Bergaul dalam makna ini adalah lingkungan. Sama maknanya konteks lingkungan ini ketika Nabi menyatakan: “Setiap manusia lahir dalam kesucian. Bapak [lingkungan] kamulah yang dapat membuat kamu menjadi Yahudi, Nasrani atau Majusi.

Kultur Nubuwah hanya Tercipta di Lingkungan yang Baik

Tempat yang baik dapat mendorong manusia berada dalam kultur nubuwah. Inilah yang diperagakan keluarga Imran atas ketulusan membina dan membangun kultur kenabian lewat Maryam yang melahirkan Nabi bernama Isa. Diketahui bersama bahwa Imran menitipkan Maryam dalam kultur keluarga Zakaria yang bukan saja ahli ibadah, tetapi, juga keluarga maju yang mendorong setiap komunitasnya untuk berpikir sehat dalam memajukan umatnya.

Di tengah kultur lingkungan yang demikian, baik di masyarakat maupun di birokrasi dan institusi formal seperti itulah, bangunan komunalisme kamanusiaan dapat terbangun. Mengapa? Karena jiwa kemanusian akan terbentuk dengan baik.

Dengan demikian, jika kita berada dalam kultur lingkungan yang tidak sehat, kita hanya akan dikejutkan dari satu kejadian kepada kejadian lain. Dari satu peristiwa ke peristiwa lain. Dari satu gosip ke gosip lain. Akibatnya, akan banyak manusia yang sakit tidak jelas sebabnya. Atau bahkan akan mengalami kemunduran mental yang akut.

Solusinya jika tidak mengubah kultur masyarakat seperti itu, ya kita mesti hijrah. Pindah ke suatu tempat yang dapat mendorong diri anda untuk rileks menikmati dan menjalani hidup dengan baik. Hanya dengan cara itulah, kemajuan akan mampu kita semai dan dinikmati pada waktunya. Prof. Cecep Sumarna

Komentar
Memuat...