Pemahaman Agama Yang Buruk Membawa Pada Kehinaan Agama

0 20

Pemahaman agama yang buruk dan yang terputus dari ilmu dan pengetahuan membawa pada kehinaan agama itu sendiri dan dianggap sebagai kegagalan. Pemahaman agama yang terputus dari teknik ilmiah menduga bahwa bentuk-bentuk pemahaman yang berasal dari warisan adalah bersifat sempurna, final dan abadi. Dan menduga bahwa ia mencakup hakikat sempurna meskipun tidak ada seorang pun yang mempelajarinya.

Akibat penolakan terhadap dugaan agama ini adalah runtuhnya lembaga gereja dan menentang terhadap perubahan. Ia sangat melindungi dan menegasikan kemajuan ilmiah dan inteklektual. Tujuannya adalah merealisasikan kepatuhan orang buta yang menentang hakikat dan watak eksistensi.

Pemisahan agama ini menyebabkan pada pemisahan dan pemahaman yang fragmentaris terhadap konsep-konsep penting. Iman, misalnya, yang para pendukungnya berpegang pada makna- makna yang tersembunyi dalam eksistensi alam. Di tangan gereja menjadi berlawanan dengan pikiran dan pemikiran. Sehingga merubahnya menjadi iman yang buta yang didasarkan kepada kebodohan.

Iman hanya semata-mata ketaatan orang buta dan menerima perkataan apapun yang tidak didasarkan pada keyakinan yang teguh. Oleh karena itu gereja memiliki kekuasaan tradisi yang memaksa. Tugasnya adalah menghasilkan gembala dan bukan orang yang beriman.

Pembedaan Antara Ilmu Dan Agama

Kata muqaddas (yang suci) adalah contoh lain bagi akibat pembedaan antara ilmu dan agama. Manakala kata kesucian terbatas pada bidang ramalan dan mengharuskan kebenaran. Maka dalilnya terbatas pada asas yang ghaib dan agung. Sehingga kesucian menjadi di luar eksistensi manusia, terpisah darinya.

Tidak ada peran untuk berinteraksi dengan wujud duniawiah, sangat anti terhadapnya. Konsep-konsep kesucian dikaitkan dengan upacara dan ritual yang dipraktekkan pada hari tertentu dalam satu minggu. Tidak melebihi tembok tempat ibadah. Dilakukan dengan bahasa khusus yang tidak memiliki hubungan dengan kehidupan. Dengan alat-alat musik khusus dan makanan tertentu dan hal itu mengakibatkan terputusnya agama untuk mengairi kehidupan seluruhnya.

Konsep kesucian menjadi bagian-bagian yang berserakan yang tidak ada ikatan di antaranya. Terbatas pada sekelompok kecil manusia (tokoh peramal). Dan berubah menjadi musium yang tidak ada manfaatnya bagi perjalanan hidup sehari-hari, tidak memiliki hubungan dengan masyarakat luas dan dengan masalah sehari-hari.

Sebenarnya ini adalah contoh agama yang memisahkan antara yang ideal dengan yang realistis. Yang menafikan pentingnya efektivitas interaksi antara keduanya. Mematikan pengaruh timbal balik antara keduanya. Menghentikan pembentukan yang terus menerus terhadap satu sama lain. Dan menegasikan kepastian saling memanfaatkan dan membutuhkan satu sama lain.

Gereja –di bawah pengaruh konsep yang menegasikan ini- gagal menghentikan eksploitasi dan pembusukan yang menimpa kehidupan. Seakan-akan agama tidak memiliki sesuatu untuk ditawarkan. Slogan untuk itu adalah “Biarkan bagi kaisar apa yang menjadi hak kaisar, dan biarkan bagi Tuhan apa yang menjadi hak Tuhan”. Oleh karena itu jenis agama ini membiarkan tersebarnya keburukan. Bahkan berubah menjadi pendukung bagi keburukan sehari-hari.

Itu adalah sesuatu yang tidak bisa lepas darinya ketika eksistensi yang ada tidak mengikat idealisme dengan ikatan yang kuat dan mengakar. Ketika langit menjadi alam yang terpisah dengan bumi, dan ketika masalah kemuliaan manusia menjadi sesuatu yang tidak mungkin di dunia, dan tidak mungkin terrealisir kecuali dengan menjauhkan dunia itu sendiri.

Ilmu Yang Terpisah Dari Agama

Kita beralih ke pemisahan jenis lain, yakni ilmu yang terpisah dari agama. Apa yang kita katakan tentang agama yang terpisah dari ilmu bisa juga dikatakan demikian dalam kaitannya dengan ilmu yang terpisah dari agama.

Pemisahan antara kenyataan manusia dengan idealisme memfasilitasi ilmu yang terpisah dari agama berasumsi bahwa ia berinteraksi dengan eksistensi material yang empirik semata, yakni bahwa ia tidak berinteraksi dengan tujuan dan maksud yang luhur dari kehidupan. Demikian kami menemukan bahwa setiap kritik yang diajukan kepada agama yang fragmentaris –bisa juga diajukan kepada ilmu yang bersifat fragmentaris.

Agama yang mengabaikan realitas manusia dan buta akan masalah-masalahnya adalah sama dengan ilmu yang buta akan keyakinan dan idealisme dan memisahkannya dari kehidupan. Jika yang pertama mengabaikan kehidupan yang realistis dan mengabaikan pengalaman manusia itu sendiri, maka ilmu yang terbatas pada idealisme turun kepada materi yang tersentuh, terdengar dan terlihat, lepas dari nilai-nilai humanisme, dan menjadi barang dagangan teknologi yang memugkinkan siapa pun membelinya untuk tujuan apapun. Sehingga para pemilik ilmu mendapat rezeki dan mencarinya dengan ilmu di mana pun sebagaimana terjadi pada para pemilik ilmu di Jerman yang bekerja untuk kepentingan Nazi, komunisme dan Amerikanisme.

Ilmu Kadang Menjadi Bahaya Yang Melemahkan Tujuan Manusia

Abad-abad terakhir belakangan ini memberikan kita pengajaran bahwa ilmu kadang menjadi bahaya yang melemahkan tujuan manusia yang agung, dan bahwa para ahli ilmu kadang menjadi buas sepanjang ilmu menjadi seperti permainan catur, menjadi sewenang-wenang tidak memiliki tujuan. Satu-satunya tujuan adalah penemuan wujud inderawi. Oleh karena itu ilmu melakukan keselahan yang berat yang menjauhkan pengalaman diri tertinggi dari bidang wujud yang bisa ditemukan.

Kita bisa mengatakan hal yang sama tentang masalah-masalah kesucian dan keluhuran, karena dimensi-dimensinya dari bidang ilmu menyebabkan studi terhadap aspek-aspek maknawi seperti agama, inovasi, aktualisasi diri, cinta, asketisme dan lain-lain menjadi sesuatu yang tidak mungkin.

Ini menimpa syair, seni dan lain-lain sepanjang aspek-aspek ini terintegrasi dengan realitas makhluk dan bidang yang inderawi.

Kita ambil contoh bidang pendidikan dan pengajaran, ini membawa kita berkesimpulan bahwa guru yang baik hendaklah mengingkari dirinya sendiri, benar-benar memberi kepada muridnya, percaya akan kesucian manusia, dan ketika kita tidak mengklasifikasikan sifat-sifat ini di antara spesialisasi ilmu, maka kita mengabaikan pembahasan tentang watak guru yang baik. Contoh untuk itu banyak sekali hingga tidak terhingga.

Oleh: Dr. Majid Irsani Al Kailani

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.