Pemakaian Qira’ah Syadz dalam Istinbath Hukum

0 670

Pemakaian Qira’ah Syadz dalam Istinbath Hukum: Tidak hanya qirâ’at mutawâtir dan masyhûr yang dapat dipergunakan untuk menggali hukum-hukum syari’ah. Hal itu dengan pertimbangan bahwa qirâ’ah syâdz sama kedudukannya denga hadits ahad (setingkat dibawah mutawâtir ), dan mengamalkan hadits ahad adalah boleh. Ini merupakan pendapat Jumhur Ulama.

Ulama madzhab Syâfi’i tidak menerima dan menjadikan qirâ’ah syâdz sebagai dasar penetapan hukum, dengan alasan bahwa qirâ’ah syâdz tidak termasuk al-Qur’an. Pendapat ini dibantah oleh Jumhur Ulama yang mengatakan bahwa dengan menolak qirâ’ah syâdz sebagai al-Qur’an tidak berarti sekaligus menolak qirâ’ah syâdz sebagai khabar (hadits). Jadi, paling tidak qirâ’ah syâdz tersebut merupakan hadits ahad.

Contoh penggunaan qirâ’ah syâdz sebagai dasar hukum adalah sebagai berikut:

  1. Memotong tangan kanan pencuri, berdasarkan kepada qirâ’at Ibn Mas’ud dalam surat al-Mâidah ayat 38, yang berbunyi:

وَالسَّارق وَالسَّارقَةُ فَاقْطَعُوْا أَيْماَنِيْهِماَ

Artinya: Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan kanan keduanya….

Dalam qirâ’at yang shahihah ayat tersebut berbunyi:

وَالسَّارق وَالسَّارقَةُ فَاقْطَعُوْا اَيْدِيَهُمَا

  1. Madzhab Hanafi mewajibkan puasa tiga hari berturut-turut sebagai kafarah sumpah, juga berdasarkan kepada qirâ’ah Ibn Mas’ud dalam surat al-Mâidah ayat 89:

فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيَامُ ثَلاَ ثَةِ أيَّام مُتتَا بِعَاتٍ

Artinya: Barang siapa tidak sanggup melakukan demikian, maka kafaratnya adalah puasa selama tiga hari berturut-turut..

Dalam qirâ’at yang shahihah ayat tersebut berbunyi:

فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيَامُ ثَلاَ ثَةِ أيَّام

Sya’ban Muhammad Ismail, mengutip pendapat Abu ‘Ubaid, menyatakan bahwa tujuan sebenarnya dari qirâ’ah syâdz adalah merupakan tafsir dari qirâ’ah masyhur (shahih) dan penjelasan mengenai dirinya. Huruf-huruf tersebut harakatnya (lafadz qirâ’ah syâdz) tersebut menjadi tafsir bagi ayat al-Qur’an pada tempat tersebut. Hal yang demikian ini, yaitu tafsir mengenai ayat-ayat tersebut, pernah dikemukakan oleh para Tabi’in, dan ini merupakan hal yang sangat baik.

Pendapat tersebut diperkuat oleh pernyataan al-Suyuti, sebagai berikut:

“Jika penafsiran itu dikemukakan oleh sahabat-sahabat Nabi Muhammad SAW yang benar, yang kemudian menjadi bagian dari qirâ’at al-Qur’an itu sendiri, tentu tafsir ini lebih tinggi nilainya dan lebih kuat. Mengambil kesimpulan hukum dari penafsiran yang dikemukakan qirâ’ah syâdz adalah suatu pengewajantahan yang dapat dipertanggung jawabkan”.

Adanya bermacam-macam perbedaan qirâ’at seperti telah disebutkan di atas, mempunyai berbagai faedah, diantaranya:

  1. Meringankan umat Islam dan memudahkan mereka untuk membaca al-Qur’an.
  2. Menunjukkan betapa terjaganya dan terpeliharanya al-Qur’an dari perubahan dan penyimpangan, padahal kitab ini mempunyai banyak segi bacaan yang berbeda-beda.
  3. Bukti kemukjizatan al-Qur’an dari segi kepadatan maknanya, karena setiap qirâ’at menunjukkan suatu hukum syara’ tertentu tanpa perlu adanya pengulangan lafadz.
  4. Meluruskan aqidah sebagian orang yang salah.
  5. Menunjukkan keutamaan dan kemuliaan umat Muhammad SAW atas umat-umat pendahulunya, karena kitab-kitab yang terdahulu hanya turun dengan satu segi dan satu qirâ’at saja, berbeda dengan al-Qur’an yang turun dengan beberapa qirâ’at.

Akhirnya dapatlah penulis sampaikan, bahwa memahami ilmu qirâ’at dapat diartikan sebagai bagian dari firfan Allah SWT yang berbunyi:

إنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإنَّا لَهُ لَحَافِضُوْنَ (الحجر-9)

Dari ayat ini dapat dipahami bahwa subyek yang memelihara keutuhan al-Qur’an adalah plural, dan para qurra’ adalah bagian darinya. Karena detail bacaan al-Qur’an dipelihara dengan kerangka teoritis qirâ’at dengan isnâd yang mutawâtir. Kalaupun suatu saat nanti ada versi al-Qur’an lain yang berusaha untuk menciderai atau merong-rong integritas al-Qur’an yang sahih-dalam bentuk apapun-maka qirâ’at dapat menjadi perisainya. Qirâ’at dapat dipahami sebagai satu pilar penyangga autentitas, integritas, dan keutuhan kitab cuci serta mu’jizat  abadi Nabi SAW in the past, present, and future.

Oleh Ahmad Munir

Bahan Bacaan

Sya’ban Muhammad Ismail, al-Qirâ’at Ahkamuha wa Mashdaruha, terj. Agil Husin al-Munawwar dkk, Semarang: Dina Utama, 1993

Jalal al-Dîn al-Suyuti, al-‘Itqân fî ‘Ulûm al-Qur’ân , Beirut: Dâr al-Fikr, 1979

Mannâ’ al-Qaththân, Mabâhits fî ‘Ulûm al-Qur’ân,  Beirût: Mansyurat al-‘ashr al-Hadîts, 1979

Al-Zarqani, Manâhil al-Irfan fi ‘Ulûm al-Qur’ân, Kairo: Isa al-Babi al-Halabi, t.th

Abduh Zulfidar Akaha, al-Qur’an dan Qira’at, Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 1996

Komentar
Memuat...