Inspirasi Tanpa Batas

Al Qalb dan Kecerdasan Spiritual

0 9

Konten Sponsor

Al Qalb dan Kecerdasan Spiritual. Aspek-aspek ruhaniah al Qalb selalu memiliki dimensi psikis yang berasal dari Allah. Karena itu, aspek ruhaniyah senantiasa menampilkan dua hal, yaitu sisi asal dan sisi keberadaannya.

Sisi asalnya berasaskan pada wilayah spiritual-­transendental. Sisi keberadaannya berasaskan pada wilayah historis-­empiris. Dimensi ar-ruh dan al-fitrah sebagai sisi spiritual-­transendental merupakan sifat-sifat Allah yang tercakup dalam asma al-husna (99). Ini akan menjadi potensi luhur batin manusia.

Aktualisasi potensi luhur batin tersebut menjadi wilayah empiris-historis dalam konteks keberadaannya sebagai aspek psikis manusia. Jadi, proses aktualisasi potensi luhur batin manusia, akan menjadi sisi empirik dari transendensi sifat-sifat Allah. Inilah seharusnya yang menjadi eksistensi manusia.

Potensi ruhaniah dalam konteks tertentu, dapat disebut sebagai kekuatan supranatural (luar biasa) yang terjadi pada diri manusia. Ia akan menggali potensi di luar kebiasaan alam. Orang beriman sulit untuk menolak peristiwa yang diberikan oleh agamanya walaupun tidak sejalan dengan hukum alam. Misalnya, bagaimana Isa a.s. bisa lahir tanpa ayah.  Banyak yang tidak mengerti Maryam sang ibu sucipun bingung sehingga Allah Swt melarangnya berbicara dan menegaskan bayinya untuk memberikan penjelasan.

Sikap Keberagamaan adalah Bukti Kecerdasan Spiritual

Untuk mengembangkan sikap keberagamaan, melatih kecerdasan ruhaniah adalah pekerjaan yang mutlak dilakukan. Ada beberapa konsep yang ditawarkan, misalnya Toto Tasmara [1991] yang menyebut bahwa untuk mencapai kedamaian qalbu sebagai upaya melatih jiwa seseorang, akan mendorong manusia memperoleh mengasah kecerdasan ruhaniah dan sikap keberagamaan yang tulus. Caranya, menurut Toto adalah sebagai berikut:

  1. Rasa cinta (mahabbah) serta pemahaman yang sangat kukuh terhadap ruh tauhid (menjadikan Allah Swt satu-satunya Tuhan, tumpuan dan tujuan tempat seluruh tindakan diarahkan kepadanya, memandang Allah Swt sebagai arah yang dituju.
  2. Kehadiran Allah Swt memberikan kesadaran dan keyakinan yang membekas di hati bahwa Allah Swt hadir dan menyaksikan seluruh perbuatan bahkan bisikan qalbu kita, sehingga nurani kita senantiasa membisikan, ada kamera Ilahi yang terus merekam.
  3. Kesementaraan dunia dan keabadian akhirat, merasakan dengan sangat bahwa hidup hanyalah kedipan mata, fatamorgana. Apa yang berada pada sisi manusia adalah fana, sedangkan yang disisi Allah Swt adalah baqa.
  4. Ingin menjadi teladan, merasakan dan menghayati nilai-nilai akhlakul karimah dengan membaca dan mengerti riwayat hidup Rasulullah, para sahabat, dan para tabi’in yang hidupnya bersih dan mengabdi pada nilai-nilai kebenaran ilahiyah. Melakukan perjalanan ruhani dn membaca berbagai hikmah sebagai nasehat hati.
  5. Sederhana itu indah menguji diri dengan cara mempraktekkan kehidupan yang zuhud, agar cahaya ilahiyyah tidak tenggelam dan diambil alih oleh nyala apai hawa nafsu syahwat.

Rasa ingin tahu (curiosity) mempelajari, merenungkan dan meneliti dengan rasa penuh ingin tahu yang sangat mendalam terhadap kandungan al-Quran, kemudian menjadikannya sebagai petunjuk yang memotivasi dirinya untuk bertindak.

Puncak Kecerdasan

Jadi dapat dipahami bahwa kecerdasan ruhaniah merupakan puncak dari gabungan kecerdasan emosional, kecerdasan intelektual dan kecerdasan spiritual, disinilah peranan potensi ilahiyyah dalam mengembalikan manusia kepada fitrahnya. Potensi ilahiyyah (beragama) bisa berkembang dengan baik jika kecerdasan ruhaniah itu berjalan secara optimal.

Pada level yang paling tinggi untuk mengembangkan sikap keberagamaan ini diperlukan kecerdasan spiritual. Kecerdasan spiritual adalah cahaya murni kecerdasan yang menerangi orang lain serta menyadarinya ingin menjadi kuat, kecerdasan spiritual memelihara bagian-bagain yang tidak terjangkau oleh kecerdasan lain.[2004: 22]

Danah Zohar dan Ian Marshall mendefenisikan kecerdasan spiritual yaitu kecerdasan untuk menghadapi persoalan makna atau value atau kecerdasan untuk menempatkan perilaku dan hidup kita dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya. Kecerdasan untuk menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna dibanding dengan yang lain. SQ ialah landasan yang diperlukan unuk memfungsikan IQ dan EQ secara efektif, bahkan SQ merupakan kecerdasan tertinggi kita. Dr. Hj. Ety Tismayati

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar