Universitas Islam Internasional Indonesia Hadir Di Tengah Krisis Pendidikan dan Polemik Toleransi

0 42

Di tengah pesatnya perkembangan pendidikan dunia dan menilik bagaimana jayanya pendidikan Umat islam terdahulu, memang sudah saatnya pendidikan islam di Indonesia ini hadir dengan cakupan global. Harapan tersebut rupaya kini mendapat angin segar, itu terlihat dengan rencana Pemerintah Indonesia yang akan membangun Universitas Islam International Indonesia (UIII) di Depok, Jawa Barat.

Melalui keppres Nomor 57 Tahun 2016 Presiden RI Joko Widodo telah menandatangi Pembentukan Komite Pembangunan UIII yang diketuai oleh Prof. Komaruddin Hidayat mantan Rektor Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Peletakan batu pertama pembangunan kampus tersebut rencananya akan di mulai pada pertengahan tahun ini dan berlokasi di Cimangis, Depok, Jawa Barat dengan dengan luas lahan sekitar 142 hektare mengunakan Tanah aset negara yang dimiliki oleh Radio Republik Indonesia (RRI).

UIII sebagai Pusat Peradaban Islam Baru Yang Moderat Dan Toleran

UIII sebagai Pusat Peradaban Islam Baru Yang Moderat Dan Toleran

Sepertinya ada banyak harapan yang bisa terwujud dari pembangunan Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) ini, selain menjadi Universitas pertama yang bertaraf Internasional, Pembangunan Universitas ini juga dimaksudkan untuk mengembangkan peradaban Islam melalui pendidikan tinggi (Universitas) di tingkat master (S2) dan tingkat doktor (S3).  Selain itu, Melalui UIII diharapkan Islam moderat dan toleran dapat dikembangkan sehingga Islam benar-benar berfungsi sebagai rahmatan lil alamin.

Acuan yang diterapkan untuk konsep pembangunan UIII sendiri sesuai Perpres No. 57 Tahun 2016 yang berbunyi :

Bahwa Islam telah tumbuh dan berkembang menjadi agama yang dipeluk sebagian besar penduduk Indonesia, mempunyai karakter yang plural, terbuka, dan toleran, memengaruhi dan memberikan inspirasi bagi proses konsolidasi bangsa dan demokrasi, serta menjadi basis budaya dan peradaban di Indonesia;

Bahwa dalam rangka meningkatkan pengakuan masyarakat akademik internasional atas Islam di Indonesia dan menempatkannya sebagai salah satu unsur penting peradaban dunia, perlu menjadikan Islam di Indonesia sebagai pusat penelitian dan pengembangan, alternatif pemecahan masalah kemanusiaan, mozaik budaya dan peradaban dunia, serta inspirasi bagi terciptanya tata dunia baru  tata dunia baru yang damai, ramah, demoktratis, dan berkeadilan.

UIII diharapakan Menghasilkan Lulusan yang Membuka Peradaban Baru Umat Islam

Kemudian setelah Perpres No. 57 Tahun 2016 dinyatakan berlaku, Kemenag yang menjadi garda terdepan dalam proyek pendidikan ini terus menindaklanjutinya. Pembuatan tim ahli, membuat naskah akademik, pengorganisasian kaum intelek muslim, Budayawan Muslim Indonesia hingga kapan operasionalnya bisa diselesaikan.

Indonesia dengan segala potensinya, memang sudah saatnya menjadi pusat peradaban Islam dunia. Melalui pengenalan jalur dan jenjang pendidikan tinggi (Universitas) yang memenuhi standar internasional, multi kultural yang dibangun indonesia sejak berabad-abad silam harus sudah terrealisasi. Karenanya, kehadiran UIII diharapkan mampu menjadi pusat penelitian dan pengembangan alternatif pemecahan masalah kemanusiaan. UIII harus menjadi mozaik budaya dan peradaban dunia serta inspirasi bagi terciptanya dunia baru yang damai, ramah, demokratis, dan berkeadilan.

75 % Mahasiswa UIII Mayoritas Diperuntukkan Bagi Pelajar Luar Negeri

Jika di tilik dari sisi perencanaan, mayoritas mahasiswa UIII mayoritas diperuntukkan bagi pelajar luar negeri. Sebanyak 75 persen berasal dari luar negeri dan mendapatkan beasiswa seluruhnya, dalam rangka untuk menjadi duta bangsa. Jadi, setelah mahasiswa asing itu selesai studi, saat pulang ke negaranya masing-masing, mereka mampu menjelaskan nilai-nilai Islam yang berkembang di Indonesia. (UIN Syarif Hidayatullah, Ciputat. Dokpri)

Mengingat Indonesia adalah negara dengan penduduk muslim yang terbesar. Nnilai-nilai Islam yang berkembang di di negara ini sesuatu yang khas dan tidak mungkin di jumpai di negara lain. Dalam konteks dunia global, sudah seharusnya Indonesia memberi kontribusi positif dalam ikut menata peradaban dunia. Inilah dasar pendirian UIII yang secara khusus mengkaji, mendalami dan mengembangkan studi tentang Islam. (Edi Supriatna: Kompas)

Kerjasama Internasional Dan Upaya UIII Kedepanya

Kerjasama Internasional telah lama di bangun Oleh kampus islam bertarap internasional sejak lama

Carut marut Negara Islam terus melanda sejak satu dekade terakhir. Lihatlah negara-negara di kawasan Timur Tengah yang terus dilanda konflik yang berkepanjangan. Turki yang terus mnuunjukan taji sebagai negara Islam modern nampaknya bisa jadi pantner untuk merangkul generasi muda di negara konflik timur tengah. Oleh karena itu, Indonesia yang penduduk muslim terbesar di dunia dan dikenal dengan Islam yang moderat dan toleran, mengkhawatirkan meluasnya konflik tersebut ke wilayah lain di kawasan asia pasifik.

Pekan lalu,  Komite Pembangunan UIII Prof Komaruddin Hidayat dan Prof Bachtiar Effendi mengunjungi beberapa universitas serta lembaga Kajian tentang Islam yang ada di Amman Jordania. Pada kesempatan itu, Komite Pembangunan sendiri mensosialisasikan rencana Pembangunan Kampus UIII kepada Direktur International Institute of Islamic Thought untuk kawasan Timur Tengah. Berkedudukan di Amman Jordania, Professor Fathi Melkawi (Ahli Epistimologi Islam) sangat tertarik dengan ide dan gagasan Pemerintah Indonesia membangun Kampus UIII sebagai Pusat Peradaban Islam baru di kawasan Asia Pasifik. (tribunnews.com)

Mengingat bagimana posisi penting geo-politik Jordania sebagai penyangga keseimbangan dan perdamaian di Timur Tengah. Kerja sama untuk mengembangkan UIII dengan berbagai pihak di negera tersebut menjadi sangat relevan. Kerja sama dengan Universitas di negara Timur Tengah, mamang perlu ditingkatkan lagi, Komite Pembangunan UIII harus bisa merangkul, dan mengajak tenaga pengajar dan mahasiswa pasca sarjana dari negara-negara timur tengah untuk berbagi pengalaman serta belajar dan mengembangkan Kampus UIII, yang akan dimulai pada akhir 2017 ini.

Nasib Kampus Islam yang sudah ada dan Mahasiswa yang Ingin Belajar di UIII

Dari besarnya harapan dan kebangaan tersendiri atas rencana pembanguanan UIII ini tentu tidak sepenuhnya pas. Pro kontra tentu hadir, bagaimana negara berencana hanya mengalokasikan 25% saja mahasiswa yang bisa study di kampus ini kedepanya. Ini menjadi pertanyaan besar, Bagaiman nasib Kampus Yang sudah ada? negara harus mampu mengembangkan kampus-kampus islam lainya agar mampu sejajar dengan Kampus-kampus Islam Internasional lainya. Intinya, kabar baik ini harus menjadi branding pendidikan Indonesia dimata dunia. [aL/dari Berbagai Sumber]

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.