Inspirasi Tanpa Batas

Pemilu Indonesia Selalu Ricuh dalam Nalar demokrasi Plato

0 5

Konten Sponsor

Pemilu Indonesia Selalu Ricuh dalam Nalar Plato. Mengapa Pemilu Indonesia selalu ricuh? Selalu melahirkan korban politik bukan hanya bagi kontestan pemilu [Parpol dan pribadi], tetapi bahkan untuk mereka yang memilih; pro maupun kontra. Apa yang terjadi dengan Pilkada DKI belakangan ini, menjadi contoh nyata bagaimana sebuah Pemilu melahirkan konflik dan kebisingan politik yang kompleks.

Saya mencoba menelusuri pikiran Plato. Sosok dan filosof yang melahirkan teori politik berbasis massa [populi] dalam apa yang di dunia moderen disebut dengan kata demokrasi. Konsep yang diidamkan Plato ini di Yunani Kuna pada abad ke IV sebelum Masehi ini, ternyata gagal. Pemimpin yang lahir karena teori demokrasi malah melahirkan pemimpin yang tiranik.

Sosok inilah yang di akhir hayatnya, justru menyesalkan tentang lahirnya konsep demokrasi yang dia idamkan. Demokrasi yang membawa faham Vox Populi [lē,ˈväks ˈpäpyəˌlī] Vox Dei [theⱺs] suara rakyat adalah suara Tuhan, bukan saja tidak mampu memakmurkan rakyatnya, tetapi juga melahirkan pemimpin yang tiranik.

Demokrasi yang Ideal menurut Plato

Dalam pengembaraan keilmuan berikutnya, Plato kemudian menyusun ulang konsep demokrasinya. Ia menyatakan bahwa demokrasi membutuhkan keseimbangan. Keseimbangan posisi, kedudukan, hak dan kapasitas antara yang memilih dan yang dipilih. Jika tidak ada keseimbangan, maka, demokrasi hanya akan membawa malapetaka.

Karena itu, dalam setiap pemilihan umum, harus tercermin prinsip kesamaan antara mereka yang memilih dengan mereka yang dipilih. Jika antara mereka yang memilih dengan yang dipilih itu berbeda statusnya, berbeda posisi dan berbeda kualitas SDM-nya, maka, demokrasi tidak akan berjalan dengan baik. Demokrasi hanya akan melahirkan konflik horizontal.

Uji coba demokrasi, hanya akan berjalan dengan baik apabila prinsip dasar di atas, terbangun dengan baik. Orang yang memenuhi persyaratan untuk memilih adalah mereka yang memiliki persyaratan untuk dipilih. Jadi kalau kebebasan dibebaskan sebebas-bebas-nya. maka, hasil pemilu hanya akan melahirkan tirani baru dan konflik baru.

Indonesia dengan membaca nalar Plato tadi, akhirnya menjadi dapat dimengerti. Mengapa setiap Pemilu selalu ribut. Karena variasi masyarakat Indonesia sangat konpleks. Jika nalar Plato yang digunakan, mungkin sebenarnya demokrasi di Indonesia belum pantas dijalankan? By. Prof. Cecep Sumarna

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar