Pemimpin Harus Bisa Melakukan Transformasi Diri

0 88

Semua orang, apapun pendidikan dan pekerjaannya dapat menjadi pemimpin. Namun begitu menjadi pemimpin, ia harus bisa beradaptasi terhadap tuntutan tugas barunya. Paul Wolfolitz pernah menyatakan pada Dr. Alwi Shihab, bahwa tantangan Gusdur yang paling utama adalah bagaimana beliau dapat berfikir, berucap, dan bertindak sebagai presiden republik indonesia. Bukan lagi berpikir, berucap, dan bertindak sebagai kiai tersohor atau komentator yang cerdik.

Semua orang bisa menjadi pemimpin yang efektif, yang penting bukan apa pekerjaan sebelumnya namun apakah seseorang mampu melakukan transformasi diri dalam lingkungan barunya. Dengan itulah, Lech Walesa, seorang tukang listrik di pelabuhan Gdansk, sukses menjadi Presiden Polandia dan memenangkan Nobel Perdamaian. Di Indonesia, satu contoh transformasi yang menakjubkan adalah Panglima besar Jenderal Soedirman, yang mengalami berbagai transformasi diri. Dari seorang guru dan Daai??i??i, menjadi tokoh kepemudaan, menjadi Daidacho PETA dan kemudian Panglima Besar Tentara Keamanan Rakyat. Sosok pemimpin geriliya yang ulung dan akhirnya menjadi pahlawan bangsa yang abadi.

Dalam setiap kasus ini, mereka berhenti berpikir sebagai seorang buruh, aktor, agen, atau guru, dan mulai bersikap sebagai pemimpin negara.Ai??Ai??Transformasi yang penting dilakukan oleh seorang pemimpin adalah mengedepankan kepentingan rakyat daripada kepentingan pribadi. Seorang pemimpin harus berusaha sekali menempatkan dirinya di atas kepentingan golonganAi??ai???above politicsai??i??. Karena kepentingan negara lebih tinggi dari pada kepentingan politik atau kepentingan pribadi.

Transformasi lain yang penting juga dilakukan adalah memokuskan pikiran sepenuhnya pada krisis yang sedang terjadi. Misal ketika suatu negara sedang dilanda masalah katakanlah masalah korupsi, kemudian pada saat itu terjadi, suatu bencana besar seperti gempa bumi yang mengakibatkan banyak kerusakan dan memakan banyak korban jiwa, maka pada saat itu juga seorang pemimpin harus bisa mengalihkan fokus pemikirannya kepada bencana tersebut.

Masalah korupsi memang kasus besar, tetapi bencana alam lebih penting dari pada masalah korupsi. Karena bencana alam memakan banyak korban jiwa, banyak kerusakan dan ini masalah yang harus segera diatasi dan tidak bisa ditunda. Dalam kondisi gawat seperti ini, seorang pemimpin negara harus segera mengatasi masalah tersebut dengan cepat.

Bagaimana mengefakuasi korban meninggal, bagaimamna memberi pertolongan dan perawatan kepada korban yang sakit, bagaiman memberi makan dan menyediakan tempat pengungsian bagi korban yang tempat tinggalnya hancur, bagaimana menyemangati mereka yang sedih karena kehilangan keluarganya, dan lain-lain.

Pada intinya, seorang pemimpin harus bisa melakukan transformasi serta harus bisa berpikir dan bertinda kondisional sesuai dengan keadaan dan permasalahan yang sedang dihadapi. Tidak bisa hanya mementingkan sesuatu pada satu hal saja tetapi harus bisa memilih mana yang lebih penting dan mana yang harus didahulukan.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.