Take a fresh look at your lifestyle.

Pemimpin Harus Menghormati Para Pendahulunya

0 35

Pepatah mengatakan bahwa bangsa yang baik adalah bangsa yang menghormati jasa para pahlawannya, dan pemimpin yang baik adalah pemimpin yang menghormati pemimpin terdahulunya.

Jika kita menyimak sejarah keprisidenan Indonesia, maka kita akan menemukan suatu pola yang relatlif konsisten. Dimana pemimpin yang sedang berkuasa cenderung disanjung dan dikerumuni, sementara pemimpin yang sudah lengser cenderung dijauhi, terlupakan, bahkan dicemooh.

Hal seperti ini bagaikan gula dan semut. Orang yang  berkuasa bagaikan gula, akan selalu didekati, dikerubungi dan dikerumuni semut-semut. Ya, tidak aneh lagi, di mana-mana mungkin politik memang seperti itu. Hal inilah yang ingin diruntuhkan oleh Susilo Bambang Yudhoyono ketika beliau masih menjabat sebagai Presiden.

Menjelekkan para pendahulu tidak akan membuat diri kita menjadi bagus

– Susilo Bambang Yudhoyono –

Oleh sebab itu, di Istana kini ada sesuatu yang berbeda. Jika kita masuk ke  Istana, di sekeliling taman kini ada taman galeri terbuka sepanjang 75 meter. Di satu sisi, di depan Wisma Negara, ada foto-foto Presiden Soekarno. Di sisi lain ada foto Presiden Soeharto, kemudian Presiden B.J. Habibie, Presiden Abdurrahman Wahid dan Presiden Megawati Soekarnoputri.

Para karyawan Istana, jika mereka jeli, pasti akan mengetahui bahwa pada era Presiden Soeharto, foto, buku, dan barang-barang kesayangan Presiden Soekarno tidak tampak hadir. Demikian juga pada masa pemerintahan Presiden Megawati Soekarnoputri, barang-barang yang berkaitan dengan Presiden Soeharto, juga mengalami nasib yang sama.

Pada masa kepemimpinan SBY. semua foto dipilih sendiri oleh Presiden dan semua foto dipajang dengan mencerminkan kewibawaan masing-masing Presiden. Di ruang Istana Negara, tempat Presiden melantik Mentri, Dubes dan melakukan acara-acara resmi negara, kini juga terpampang lukisan seluruh Presiden Indonesia. Ke-6 lukisan Presiden juga terpampang di Istana Bogor dan Istana Yogyakarta. Tidak hanya itu, di ruang Pers, ruang Sidang Kabinet, dan bahkan di kantor Presiden sendiri terpampang foto ke-6 Presiden yang gagah mengenakan pakaian resmi lengkap dengan tanda jasa mereka.

Lebih dari sekedar memajang foto, Presiden SBY juga menerapkan kebijakan baru, yaitu tidak pernah menjelek-jelekkan peminpin terdahulunya, terlepas dari kekurangannya. Walaupun wartawan sudah berkali-kali memancing SBY menjelekkan mantan Presiden, namun tidak pernah berhasil. Beliau hanya menyebut nama mantan Presiden pada hal-hal yang positif. Tidak hanya itu, di berbagai forum juga SBY dengan terbuka memuji dan mengapresiasi Presiden pendahulunya. Dalam hal ini terlihat bahwa Presiden SBY memperlihatkan jiwa kepemimpinan yang merangkul, dan menjauhi politik pecah belah (the politics of division).

SBY ingin menulis tinta sejarah sendiri tanpa menjelek-jelekkan pendahulunya. Karenan memang prestasinya sepenuhnya tergantung pada kemampuan dirinya, bukan pendahulunya.

Hal ini patut kita jadikan sebagai contoh, bahwa tidak hanya dalam kepemimpinan Presiden saja, tetapi dalam kehidupan sehari-hari pun misal dalam lingkungan kerja, kita jangan suka menjelek-jelekkan orang lain, rekan kerja atau atasan kita hanya karena kita ingin dipandang baik oleh orang lain. Ingat bahwa prestasi itu sepenuhnya didapatkan tergantung pada kemampuan kita sendiri bukan pada orang lain, dan menjelek-jelekkan orang lain tidak akan membuat kita unnggul. Tidak ada orang yang mendapatkan kesuksesan dengan jalan menjelek-jelekkan orang lain, karena sukses atau majunya kita, kita sendirilah yang menentukan.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar