Pemimpin Wajib Meng-Ishlah-kan Masyarakat yang Berkonflik

0 17

Pemimpin Wajib Meng-Ishlah-kan Masyarakat yang Berkonflik: Dalam hubungan antara sesama manusia tidak jarang terjadi konflik dan ketegangan. Kadang, konflik dimulai dari hal-hal yang kecil dan sepele. Akan tetapi karena kedua belah pihak yang bertikai sama-sama tidak mampu menahan diri, maka terjadilah persengketaan.

Peristiwa ini tidak hanya terjadi pada saat ini, tetapi di zaman Nabi pun telah terjadi. Sehingga beliau segera mengadakan rekonsiliasi pihak- pihak yang bertikai.

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ حَدَّثَنَا مُعْتَمِرٌ قَالَ سَمِعْتُ أَبِي أَنَّ أَنَسًا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قِيلَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَوْ أَتَيْتَ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ أُبَيٍّ فَانْطَلَقَ إِلَيْهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرَكِبَ حِمَارًا فَانْطَلَقَ الْمُسْلِمُونَ يَمْشُونَ مَعَهُ وَهِيَ أَرْضٌ سَبِخَةٌ فَلَمَّا أَتَاهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ إِلَيْكَ عَنِّي وَاللَّهِ لَقَدْ آذَانِي نَتْنُ حِمَارِكَ فَقَالَ رَجُلٌ مِنْ الْأَنْصَارِ مِنْهُمْ وَاللَّهِ لَحِمَارُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَطْيَبُ رِيحًا مِنْكَ فَغَضِبَ لِعَبْدِ اللَّهِ رَجُلٌ مِنْ قَوْمِهِ فَشَتَمَهُ فَغَضِبَ لِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا أَصْحَابُهُ فَكَانَ بَيْنَهُمَا ضَرْبٌ بِالْجَرِيدِ وَالْأَيْدِي وَالنِّعَالِ فَبَلَغَنَا أَنَّهَا أُنْزِلَتْ: (وَإِنْ طَائِفَتَانِ مِنْ الْمُؤْمِنِينَ اقْتَتَلُوا فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا). (رواه البخارى)

Dari Mu’tamir dia berkata: “Aku mendengar ayahku pernah mengatakan: “Sesungguhnya Anas r.a. mengatakan: “Dikatakan kepada Nabi s.a.w.: Nabi s.a.w. pun berangkat menemuinya dengan mengendarai seekor keledai diikuti beberapa orang sahabat yang cukup berjalan kaki bersamanya. Ketika Nabi s.a.w. menemuinya, Abdullah bin Ubay berkata: “Demi Allah, sesungguhnya bau keledai anda itu benar-benar menyakitiku”. Mendengar ucapan itu, salah seorang sahabat dari kaum Anshar segera bangkit dan berkata: “Demi Allah, sesungguhnya bau keledai Rasulullah itu lebih harum ketimbang baumu”. Lelaki dari Anshar itu memang sangat marah kepada Abdullah bin Ubay. Sejenak keduanya terlibat perang dalam mulut dan saling mencaci maki. Rupanya pertengkaran mulut yang kemudian mengakibatkan terjadinya aksi pemukulan dengan benda-benda keras, akhirnya melibatkan beberapa orang teman dari masing-masing pihak. Akibat peristiwa itu maka turunlah firman Allah: “Apabila ada dua golongan dari orang-orang yang beriman saling bertengkar, maka damaikanlah antara keduanya”

Kewajiban Pemimpin untuk Meng-Ishlah-kan Masyarakat

Hadis di atas menerangkan bagaimana peran Nabi sebagai “juru damai” di antara pihak-pihak yang bertikai, dan bahkan hadits tersebut oleh Bukhari dijadikan sebagai dasar sebab turunnya surat al-Hujurât: 9-10:

وَإِنْ طَائِفَتَانِ مِنْ الْمُؤْمِنِينَ اقْتَتَلُوا فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا…

Secara substansial, sebagian ulama’ ada yang mempermasalahkan keberadaan hadits tersebut sebagai dokumentasi sebab turunnya surat al-Hujurât: 9-10. Ibnu Bath-thal sebagaimana yang dikutip oleh Ibnu Hajar mengomentari bahwa; beliau merasa bingung kalau hadits tersebut sebagai dokumentasi. Sebab turunnya ayat tersebut karena menurutnya cerita dalam hadits tersebut bahwa percekcokan hanya terjadi antara sahabat Nabi dan kelompok Abdullah bin Ubai ketika ia masih kafir, tetapi mengapa dalam ayat tersebut disebutkan:

طَائِفَتَانِ مِنْ الْمُؤْمِنِينَ اقْتَتَلُوا.

Dalam cerita hadits tersebut yang terjadi hanyalah caci-maki sehingga berbuntut pertikaian kecil. Tetapi tidak terjadi pembunuhan, cekcok tersebut justeru dengan kaum kafir dan musyrik bukan sesama orang Islam.

Namun terlepas dari kontek historis hadits tersebut, kita dapat mengambil sisi lain dari pesan hadits tersebut. Dalam hadits tersebut seorang pemimpin dituntut untuk ekstra tanggap dalam menyelesaikan permasalahan yang timbul di kalangan masyarakat. Hal ini agar tidak menyulut kepada permasalahan lain yang akhirnya akan berakhir dengan pertumpahan darah. Pesan inilah nampaknya mengapa dalam ayat tersebut percekcokan diungkapkan dengan ungkapan qitâl. Ini merupakan akibat akhir dari persengketaan yang tidak terseleseikan dengan baik.

Di samping itu seorang pemimpin juga harus siap dan rela menghadai kesulitan dalam menyeleseikan masalah dan bahkan ia harus sabar dan mampu untuk menahan emosinya seraya menebarkan rasa maaf atas kejengkelan akibat dari ulah tingkah masyarakatnya.

Karena Nabi s.a.w. adalah teladan yang baik (uswah hasanah) bagi ummatnya yang menghendaki keridhaan Allah, maka tugas mendamaikan manusia yang dilakukan oleh Nabi tersebut mesti diikuti dan bahkan menjadi tuntutan bagi orang mukmin sesuai dengan kesanggupannya masing-masing. Mengupayakan tercapainya ishlâh sesungguhnya adalah juga merupakan salah satu tangga untuk mencapai kebajikan.

Kepekaan Terhadap Upaya yang Menuju Kepada Ishlah

Dalam sebuah hadits di jelaskan bahwa betapa pentingnya upaya untuk menjaga kedamaian. Sehingga upaya pemersatuan ummat yang telah berlangsung jangan sampai terpecah dengan begitu saja. Oleh karena itu seorang pemimpin harus ekstra tanggap terhadap masalah- masalah yang akan membawa kepada keretakan dan perpecahan. Ia dituntut agar segera mengambil langkah dan kebijakan dalam rangka mendamaikannya.

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الْأُوَيْسِيُّ وَإِسْحَاقُ بْنُ مُحَمَّدٍ الْفَرْوِيُّ قَالَا حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ عَنْ أَبِي حَازِمٍ عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ أَهْلَ قُبَاءٍ اقْتَتَلُوا حَتَّى تَرَامَوْا بِالْحِجَارَةِ فَأُخْبِرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِذَلِكَ فَقَالَ اذْهَبُوا بِنَا نُصْلِحُ بَيْنَهُمْ.

Dari Sahl bin Sa’ad ra. Menceritakan bahwa penduduk Quba telah terjadi percekcokan sehingga di antara mereka telah terjadi lempar-melempar dengan batu, lalu rasulullah diberi tahu hal tersebut seraya beliau bersabda: Mari pergi bersama kami untuk mendamaikan mereka.

Ishlah sebagai Tindakan yang Adil

Upaya islâh diidentikkan dengan tindakan yang adil yang menjadikan pelakunya terhormat. Sebagaimana yang disebutkan dalam hadits riwayat Bukhari yang bersumber dari Abi Hurairah:

حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ مَنْصُورٍ أَخْبَرَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ عَنْ هَمَّامٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّه صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلُّ سُلَامَى مِنْ النَّاس عَلَيْهِ صَدَقَةٌ كُلَّ يَوْمٍ تَطْلُعُ فِيهِ الشَّمْسُ يَعْدِلُ بَيْنَ النَّاسِ صَدَقَةٌ (رواه البخارى)

Dari Abi Hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda; setiap ruas jari-jari manusia mengandung unsur shadaqah. Dalam setiap hari selama matahari masih terbit, dan jika manusia berbuat adil di kalangan manusia ia akan mendapat pahala shadaqah.

Menurut Ibnu Hajar, hadits ini merupakan bagian awal dari hadits Abi Hurairah yang panjang yang berkaitan dengan masalah jihad. Ibnu Hajar meletakkan hadits tersebut di bawah topik “adil dan ishlâh di kalangan manusia adalah sikap terhormat”. Padahal dalam teks hadits tersebut tidak diungkap kata ishlâh. Yang ada hanya kata سُلَامَى yang berarti sendi/ruas (مفصل), yang di dalam tubuh manusia tidak kurang dari 360 sendi.

Kata adil akan dipahami manusia melalui indikasi adanya peradilan, di mana kata tersebut identik disandang oleh seorang hakim. Maka jika ingin menyatakan keadilan seseorang selain hakim, ia akan disebut adil jika ia berbuat ishlâh.

Jika keadilan hakim hanya identik dalam mahkamah, maka keadilan selain hakim terdapat dalam berbagai sendi kehidupan yang diungkapkan seperti ruas/ sendi tubuh. Di mana ada suatu celah, di situ ia dapat berbuat shâlih (adil), sehingga wajarlah tidak diungkapkan ishlâh dalam hadits tersebut.

Oleh Dr. Ahmad Munir, M.Ag [Dosen Ushuludin STAIN Ponorogo]

Bahan Bacaan

Shahih al-Bukhary, J.3, hlm.639. sebagai syawahidnya lihat juga riwayat Muslim hadits no.639, Al-Nasa’I, no: 776, 785, Abu Daud: 805, Ibnu Majah: 1025 dan Ahmad: 217336.

al-Asqalany, Abi Fadlal Ahmad bin Ali Ibnu Hajar, Fath al-Bâry, Beirut: Dâr al-Fikr, tt.

Komentar
Memuat...