Take a fresh look at your lifestyle.

Model Pemimpin yang Memberdayakan

0 60

Man power alias orang yang berkuasa kadangkala berada pada posisi tidak berdaya. Kondisi ini terjadi manakala dihadapkan pada sebuah kondisi dimana ia harus menjadi model pemimpin yang memberdayakan orang- orang yang dipimpinnya. Pemimpin, oleh kebanyakan mereka, dimaknai sebagai seseorang yang memiliki kekuasaan yang seolah- olah tanpa batas. Tentu, hal ini menjadi pemaknaan yang salah kaprah karena menganggap bahwa memimpin adalah perkara yang mudah.

Kememimpinan; Kekuasaan dan Pemberdayaan

Berbicara kepemimpinan, ada baiknya seorang pemimpin memahami terlebih dahulu tentang konsepsi kekuasaan dan pemberdayaan. Kedua konsepsi dimaksud menjadi perkara yang bisa jadi saling bersinergis dalam setiap proses pembangunan masyarakat. Dalam hal ini, penulis tertarik untuk meminjam definisi yang ditawarkan oleh Talcot Parsons (dalam Prijono, 1996:64-65). Beliau menjelaskan bahwa kekuasaan adalah sirkulasi dalam subsistem suatu masyarakat. Sedangkan kekuasaan dalam pemberdayaan adalah daya sehingga pemberdayaan dimaksudkan sebagai kekuatan yang berasal dari bawah atau lebih populer disebut bottom-up.

Pemberdayaan memiliki dua arah tujuan. Pertama, memperkuat posisi lapisan masyarakat dalam struktur kekuasaan. Kedua, memperkuat struktur kekuasaan melalui penguatan kapasitas masyarakat. Karena itu, pemberdayaan menjadi hal yang sangat penting terutama dalam rangka pembangunan masyarakat. Pemberdayaan bisa menjadi pemutus mata rantai dari berbagai belenggu kemiskinan dan keterbelakangan lapisan masyarakat.

Pola Pemberdayaan Efektif

Memperhatikan tujuan pemberdayaan diatas maka, yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana cara membentuk pola pemberdayaan yang dianggap paling efektif untuk diimplementasikan pada masyarakat kita?

Demi menjawab pertanyaan ini, penulis menemukan pemecahannya dari Ambar Teguh Sulistiyani (2004:83-84). Menurutnya, proses pemberdayaan bisa dilakukan secara bertahap. Pertama, tahap penyadaran dan pembentukan perilaku menuju perilaku sadar dan peduli sehingga merasa membutuhkan peningkatan kapasitas diri. Kedua, tahap transformasi kemampuan berupa wawasan, pengetahuan, kecakapan dan keterampilan sehingga dapat mengambil peran di dalam pembangunan. Ketiga, tahap peningkatan kemampuan intelektual, kecakapan, dan keterampilan sehingga terbentuk inisiatif dan kemampuan untuk mengantarkan pada kemandirian. Silahkan anda baca “Kemitraan dan Modul- modul Pemberdayaan” yang diterbitkan oleh Gava Media pada tahun 2004 silam.

Nah, sudahkah pemimpin kita berkuasa dan berdaya terutama dalam proses pembangunan kualitas manusia Indonesia yang utuh. Jika anda rasa itu semua belum terwujud, mari memulainya dari wilayah kekuasaan anda terlebih dahulu. Karena kehendak perubahan hanya akan menjadi sebuah ilusi jika tidak dimulai dari upaya melakaukan aksi perubahan.

Semoga dari keputusan kita untuk menjadi pemimpin perubahan akan melahirkan paradigma baru bahwa seorang pemimpin akan terus belajar memaksimalkan energi lalu menggiring energi itu dengan integritas yang utuh, sederhana dan diwarnai dengan ketulusan berdedikasi untuk negeri. oleh: May Ashali

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar