Silih Asah, Silih Asih, Silih Asuh; | Sebuah Pendekatan Pendidikan Orang Sunda Yang Bernilai Tinggi

0 1.478

Pendidikan Orang Sunda Yang Bernilai Tinggi. Pendidikan dan pengajaran merupakan dua kegiatan yang tidak boleh terpisahkan. Pendidikan memiliki kecenderungan pada masalah nilai sementara pengajaran lebih kepada proses teknis. Dua terminologi ini akan dapat menyempurnakan individu bagaimana dirinya mampu memahami nilai-nilai kehidupan melalui proses pengajaran yang ditempuhnya.

Pendidikan yang baik adalah pendidikan yang memiliki akar atau konsep yang mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan. Nilai kemanusiaan itu ada pada bagaimana manusia mengenal dirinya sebagai salah satu individu yang mulia, mesti berbuat baik dan memperlakukan orang lain dengan baik. Pendidikan dalam konteks ini akan mengajak manusia untuk menjadi pribadi baik tidak sekedar baik dalam persepsi dirinya namun baik pula dalam persepsi orang lain melalui pikiran, ucapan dan tindakannya.

Dewasa ini, teori tentang pendidikan memiliki banyak variasi yang dipadukan dari berbagai ahli maupun berbagai negara. Pendidikan secara kasuistik dapat dengan bebas diteorikan, sehingga masing-masing masalah pendidikan memiliki kekhasan dalam hal nilai yang dijadikan sandarannya. Setiap negara memiliki kecenderungan untuk menemukan pendekatan pendidikan yang berbeda dengan negara lain. Begitu pula setiap daerah dalam satu negara pasti juga memiliki pendekatan pendidikan berbeda pula. Keberbedaan ini diakibatkan dari berbagai latarbelakang demografi, budaya masyarakat, ekonomi dan segenap perbedaan lainnya yang menjadi penciri di masing-masing daerah tersebut.

Dalam konteks pendidikan orang sunda, tentu memiliki nilai filosofis yang senantiasa menjadi sandaran nilai pendidikan masyarakat sunda pada umumnya. Nilai filosofis ini tertuang dalam terma yang sering muncul dan dipopulerkan di kalangan sunda; silih asah, silih asih dan silih asuh. Ketiga terminologi ini merupakan ruh dalam pengembangan pendidikan masyarakat sunda. Pendidikan dalam masyarakat sunda senantiasa mengedepankan nilai kebersamaan, yakni maju bersama dalam intelektualitas (silih asah), kekuatan kasih sayang yang senantiasa diciptakan dalam segala bentuk hubungan individu satu sama lain (silih asih), dan sikap mengayomi satu sama lain sebagai bagian yang tak terpisahkan dalam menciptakan harmonisasi hidup (silih asuh).

Pendidikan Orang Sunda Yang Bernilai Tinggi

Silih Asah

Asah merupakan kata yang menunjukkan satu kegiatan memperuncing alat, mempertajam atau menghaluskan sesuatu. Secara terminologi, silih asah adalah saling mencerahkan pengetahuan, berbagi informasi, dan berbagi ilmu. Silih asah merupakan satu pendekatan pembelajaran bagaimana komunikasi antara pemelajar satu dengan lainnya hendak tercipta dengan baik. Sifat saling berbagai ilmu dan pengetahuan diantara teman sejawat akan menghasilkan akselerasi pemahaman akademik yang lebih cepat dibandingkan dengan proses belajar sendiri.

Silih asah memiliki makna filosofis bahwa memiliki pengetahuan tidak cukup untuk diri sendiri saja. Hal ini selaras dengan pesan agama bahwa ilmu yang tidak diamalkan atau dibagi kepada yang lain ibarat pohon tak berbuah. Karena ilmu akan bertahan lebih lama dalam pemahamannya jika seorang berilmu itu berani berbagi kepada siapapun yang membutuhkannya. Sehingga fungsi ilmu disini dapat bermanfaat dan dirasakan oleh orang lain.

Pendidikan Orang Sunda Yang Bernilai Tinggi

Silih Asih

Silih asih merupakan satu sikap saling sayang-menyayangi. Membangun kasih sayang antar sesama merupakan satu sikap luhur yang diajarkan oleh nenek moyang sunda melalui terminologi silih asih. Istilah ini akan menyatukan hati antar sesama bagaimana proses pembelajaran dapat dilaksanakan dengan sikap saling menyayangi antara pengajar dan pemelajar. Dalam konteks pendidikan, silih asih bermakna bahwa pendidikan yang sukses bila ditopang dengan kekuatan kasih sayang tulus yang dapat diberikan oleh para pendidik kepada peserta didik. Istilah teaching by heart merupakan peristilahan lain yang sebenarnya orang sunda telah jauh memiliki falsafah itu sebelum teori-teori baru itu ada.

Pendidikan maupun pengajaran yang senantiasa mengedepankan konsep kasih sayang dalam melakukan prosesnya akan menghasilkan satu add values bagi peserta didik. Add values itu merupakan kebermaknaan pendidikan yang telah memanusiakan manusia atau pendidikan yang humanis. Pendidikan maupun pengajaran tidak akan memiliki arti apapun jika di dalamnya tidak didasarkan kepada nilai-nilai humanisme. Karena nilai-nilai humanismelah yang akan membentuk pendidikan yang baik itu, dan dengan konsep pendidikan berbasis kasih sayang (silih asih) itu yang dapat menciptakan humanisme.

Silih Asuh

Aspek ketiga dalam nilai filosofis pendidikan orang sunda adalah silih asuh. Silih asuh merupakan sikap saling mengayomi antar sesama, saling menjaga kehormatan, saling menjaga harga diri dan martabat. Silih asuh dalam konteks pendidikan bermakna bahwa tanggungjawab pendidikan adalah menghantarkan peserta didik ke arah yang lebih dewasa dalam berfikir, berucap, dan bertindak. Sislih asuh juga dapat bermakna pembimbingan, pengawasan dan pengendalian dalam pelaksanaan pendidikan. Pendidikan tidaklah selesai diberikan saja akan tetapi perlu pemertahanan nilai-nilai yang telah diberikan. Kerberlanjutan pendidikan pada hakekatnya berada pada pemahaman silih asuh ini (pembimbingan, pengawasan dan pengendalian).

Pendidikan Orang Sunda Yang Bernilai Tinggi

Kegagalan pendidikan kekinian adalah bukan karena ketidakmengertian peserta didik dalam materi pendidikan yang diberikan atau bukan rendahnya pengetahuan peserta didik pada mata ajar tertentu. Kegagalan itu muncul karena ketidakbermaknaan pendidikan yang dapat ditemukan oleh peserta didik. Siswa-siswi dan mahasiswa cenderung disibukkan dengan materi-materi praktis yang sifatnya hanya pengembangan ranah kognitif. Sementara nilai-nilai yang terkandung dalam pendidikan dalam bentuk etika dan sikap hidup terabaikan. Inilah landasan filosofis besar mengapa pendidikan orang sunda salah satunya harus mengedepankan silih asuh. Sisi tanggungjawab seorang pendidik atau pengajar itu tetap ada sepanjang nilai-nilai pendidikan dan pengajaran belum diaplikasikan dengan baik oleh peserta didik.

Ketiga landasan di atas cukup memberikan satu alasan besar bahwa pendidikan dalam konteks filosofis sunda memiliki makna besar bagaimana pendidikan itu harus dilaksanakan dengan rasa tanggungjawab bersama untuk saling mencerahkan (silih asah), strategi dalam penguatan pendidikan itu dengan saling menyayangi antar pendidik dan peserta didik (silih asih), dan saling memberikan penguatan dalam pemertahanan nilai-nilai pendidikan (silih asuh). Pendidikan akan memiliki visi yang prosfektif jika berdasarkan nilai-nilai budaya luhur bangsa sendiri. Bukan budaya orang lain atau bangsa lain. Hanya bangsa yang tidak memiliki harga diri yang akan selalu menjunjung tinggi dan bangga dengan budaya bangsa lain. Dan di sanalah keterpurukan pendidikan itu akan terjadi. Jika konsep pendidikan yang akan kita jalankan di sini berlandaskan pada budaya orang lain dipastikan kita akan memiliki identitas budaya baru yang akan menghilangkan budaya luhur bangsa ini.

Oleh: Nanan Abdul Manan

Komentar
Memuat...