Pendidikan Agama Islam dan Pembentukan Watak Keberagamaan

0 86

Pendidikan Agama Islam adalah bimbingan jasmani rohani berdasarkan hukum-hukum agama [Islam]. Tujuannya untuk membentuk sikap peserta didik menurut kaidah-kaidah Islam. Dari pengertian ini, nampaknya ada dua dimensi yang akan diwujudkannya, yaitu dimensi transendental (ukhrawi) dan dimensi yang bersifat profan (duniawi). Dimensi transendental yakni ketaqwaan, keimanan dan keikhlasan. Sedangkan dimensi duniawi melalui nilai-nilai material sebagai sarana untuk memenuhi dimensi ukhrawy. Hal ini akan terlkihat dari pengetahuan, kecerdasan, ketrampilan dan sebagainya.

Dengan demikian, pendidikan agama adalah upaya religiosisasi perilaku dalam proses bimbingan melalui dimensi transendental dan duniawi menuju terbentuknya kesalehan individual dan sosial. Hal ini ditegaskan Zakiah Darajat (1986: 24), yang menyebut tujuan pendidikan agama secara normatif adalah menciptakan sistem makna untuk mengarahkan perilaku kesalehan dalam manusia dalam kehidupannya. Oleh karena itu, pendidikan agama harus mampu memenuhi kebutuhan dasar, yaitu kebutuhan memenuhi tujuan agama yakni memberikan kontribusi terhadap terwujudnya kehidupan keberagamaan.

Makna Agama dan Keberagamaan

Jika ditelusuri berdasarkan pengertian kebahasaan antara agama dan keberagamaan memiliki makna yang berbeda. Agama lebih menitikberatkan pada kelembagaan yang mengatur tata cara penyembahan manusia kepada penciptanya dan mengarah pada aspek kuantitas, sedangkan keberagamaan lebih menekankan pada kualitas manusia beragama.

Agama dan sikap keberagamaan merupakan kesatuan yang saling mendukung dan melengkapi, karena keduanya merupakan konsekuensi logis kehidupan manusia yang diibaratkan selalu mempunyai dua kutub, yaitu kutub pribadi dan kebersamaannya di tengah masyarakat.

Penjelasan ini tidak jauh berbeda dengan yang dikemukakan Glock dan Stark yang memahami keberagamaan sebagai suatu kepercayaanterhadap ajaran-ajaran agama tertentu dan dampak dari ajaran itu dimanifestasikan dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat. (Charles Y. Glock, 1965: 215)

Sikap Keberagamaan

Sikap keberagamaan dimaksudkan sebagai pembuka jalan agar kehidupan orang beragama menjadi semakin intens. Semakin orang religius, hidup orang itu semakin nyata atau semakin sadar terhadap kehidupannya sendiri. Bagi orang beragama, intensitas itu tidak bisa dipisahkan dari keberhasilannya untuk membuka diri terus menerus terhadap pusat kehidupan. Inilah yang disebut keberagamaan sebagai inti kualitas hidup manusia, karena ia adalah dimensi yang berada dalam lubuk hati dan getaran murni pribadi.

Keberagamaan sama pentingnya dengan ajaran agama, bahkan keberagamaan lebih dari sekedar memeluk ajaran agama, keberagamaan mencakup seluruh hubungan dan konsekuensi, yaitu antara manusia dengan penciptanya dan dengan sesamanya di dalam kehidupan sehari-hari. (Joachim Wach,1958: Ai??212)

Secara operasional sikap keberagamaan didefinisikan sebagai praktik hidup berdasarkan ajaran agamanya, tanggapan atau bentuk perlakuan terhadap agama yang diyakini dan dianutnya serta dijadikannya sebagai pandangan hidup dalam kehidupan. Keberagamaan dalam bentuknya dapat dinilai dari bagaimana sikap seseorang dalam melaksanakan perintah agamanya dan menjauhi larangan agamanya. Dengan pemaknaan tersebut, keberagamaan bisa dipahami sebagai potensi diri seseorang yang membuatnya mampu menghadirkan wajah agama dengan tampilan insan religius yang humanis. (Edgar Stons, 1958: 251)

Meminjam konsep Abu Hanifah, keberagamaan harus merupakan kesatuan utuh antara iman dengan Islam. Artinya, keberagamaan jika diamati dari sisi internal adalah iman dan dari sisi eksternalnya adalah Islam. Sebagai suatu fenomena sosial, rumusan ini sejalan dengan pendapat Joachim Wach (1987: 110), bahwa pengalaman beragama terdiri atas respons terhadap ajaran dalam bentuk pikiran, perbuatan serta pengungkapannya dalam kehidupan kelompok.

Agama dan Sistem Simbol

Charles Y. Glock & Rodney Stark menjelaskan bahwa agama adalah sistem simbol, sistem keyakinan, sistem nilai, dan sistem perilaku yang terlembagakan, yang semuanya berpusat pada persoalan-persoalan yang dihayati sebagai yang paling maknawi (ultimate meaning). Sedangkan tentang keberagamaan Glock & Stark (1987: 155),melihatnya dari lima dimensi, yaitu:

  1. Dimensi keyakinan yang berisi pengharapan-pengharapan dimana orang religius berpegang teguh pada pandangan teologis tertentu dan mengakui kebenaran doktrin tersebut.
  2. Dimensi praktik agama yang mencakup perilaku pemujaan, ketaatan dan hal-hal yang dilakukan orang untuk menunjukkan komitmen terhadap agama yang dianutnya. Praktik-praktik keagamaan ini terdiri atas dua aspek penting, yaitu aspek ritual dan ketaatan.
  3. Dimensi pengalaman. Dimensi ini berisikan dan memperhatikan fakta bahwa semua agama mengandung pengaharapan-pengharapan tertentu, meski tidak tepat jika dikatakan bahwa seseorang yang beragama dengan baik pada suatu waktu akan mencapai pengetahuan subyektif dan langsung mengenai kenyataan terakhir bahwa ia akan mencapai suatu kontak dengan kekuatan super natural. Dimensi ini berkaitan dengan pengalaman keagamaan, perasaan-perasaan, persepsi-persepsi dan sensasi-sensasi yang dialami seseorang.
  4. Dimensi pengetahuan agama yang mengacu kepada harapan bahwa orang beragama paling tidak memiliki sejumlah minimal pengetahuan mengenai dasar-dasar keyakinan, ritus-ritus, kitab suci dan tradisi-tradisi.
  5. Dimensi pengamalan. Dimensi ini mengacu pada identifikasi akibat-akibat atau konsekuensi keyakinan keagamaan, praktik, pengalaman, dan pengetahuan seseorang dari ke hari. By. Dr. H. Yayat Hidayat, MA

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.