Inspirasi Tanpa Batas

SPONSOR

SPONSOR

Pendidikan Agama Lebih Baik Dihapus

0 49

Konten Sponsor

Pendidikan- Tahun 2007, penulis menyelesaikan disertasi di UIN Bandung. Salah satu kesimpulan dalam Desertasi yang memperoleh penghormatan Cum Laude itu, telah menyiratkan bahwa Pendidikan Agama Islam, semesetinya dihapus. Mengapa? Sebab UU Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, telah menjadikan keimanan dan ketakwaan sebagai core pencapaian tujuan pendidikan.

Artinya, sebetapapun suatu lembaga pendidikan itu berhasil meluluskan peserta didik yang prestatif, tetapi, ia gagal dalam pengelolaan diri dalam bentuk keimanan, maka, pendidikan dimaksud tetap harus dipandang gagal. Orang tua yang menitipkan anaknya di sekolah dapat mem PTUN kan suatu sekolah, jika mendapati anaknya tidak berhasil menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Allah.

Karena keimanan dan ketakwaan menjadi core pencapaian tujuan pendidikan nasional, maka, semua bidang studi atau mata pelajaran di sekolah, wajib hukumnya diarahkan pada pencapaian keimanan dan ketakwaan peserta didik. Muara pendidikan, dengan bahasa lain, bersamaan dengan terbitnya UU Sisdiknas tadi, adalah pencapaian keimanan dan ketakwaan kepada Allah. Prestasi lain di sekolah, semua arah harus menuju satu titik, yakni keimanan dan ketakwaan.

Nalar Filosofi Pendidikan Keagamaan

Dengan nalar tadi, maka, pembentukan keimanan peserta didik, tidak lagi terletak pada bidang atau orang tertentu, yakni Guru Pendidikan Agama Islam [GPAI] untuk orang Islam. Tetapi, telah menjadi kewajiban seluruh komponen pendidik dan tenaga kependidikan yang ada dalam sekolah.

Seorang opponent bertanya kepada saya. Lalu di mana dan siapa yang memiliki kewajiban misalnya mengajari anak shalat, cara berhaji, cara berpuasa, cara berbagi waris dan cara-cara ritual keislaman atau keagamaan lainnya?

Terhadap pertanyaan itu, saya mengatakan bahwa, itu menjadi kewajiban sekolah untuk berkompromi dengan pendidikan luar sekolah seperti pesantren. Kalau dirasa sekolah itu jauh dari pesantren, maka, tidak ada salahnya jika sekolah dimaksud menyatukan kegiatan sekolah dengan pesantren yang dimiliki sekolah. Jam pelajaran menjadi bertambah. Di sinilah letak pentingnya menyatuatapkan sekolah dengan pesantren atau model pendidikan sejenis.

Apa alasan strategis lain yang menyebabkan bahwa PAI harus dibubarkan. Menurut saya, sepanjang masih ada mata pelajaran PAI di sekolah, maka, selama itu pula kewajiban keberagamaan peserta didik, seolah hanya akan menjadi kewajiban GPAI.

Pertanyaan yang terus berlanjut adalah, bukankah dengan demikian pendidikan menjadi mahal? Saya katakan bahwa hampir tidak ada pendidikan yang bermutu dengan biaya yang murah. Kalau ingin pendidikan berhasil, jawab saya, maka, pembiayaan pendidikan harus menjadi prioritas utama negara sebetapapun itu mahalnya. Jika tidak, maka, mana mungkin itu terwujud. By. Prof. Cecep Sumarna

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar