Beranda » Blog » Pendidikan » Pendidikan Agama Lebih Baik Dihapus

Share This Post

Agama / Pendidikan / Perguruan Tinggi

Pendidikan Agama Lebih Baik Dihapus

Pendidikan Agama Lebih Baik Dihapus

Pendidikan- Tahun 2007, penulis menyelesaikan disertasi di UIN Bandung. Salah satu kesimpulan dalam Desertasi yang memperoleh penghormatan Cum Laude itu, telah menyiratkan bahwa Pendidikan Agama Islam, semesetinya dihapus. Mengapa? Sebab UU Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, telah menjadikan keimanan dan ketakwaan sebagai core pencapaian tujuan pendidikan.

Artinya, sebetapapun suatu lembaga pendidikan itu berhasil meluluskan peserta didik yang prestatif, tetapi, ia gagal dalam pengelolaan diri dalam bentuk keimanan, maka, pendidikan dimaksud tetap harus dipandang gagal. Orang tua yang menitipkan anaknya di sekolah dapat mem PTUN kan suatu sekolah, jika mendapati anaknya tidak berhasil menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Allah.

Karena keimanan dan ketakwaan menjadi core pencapaian tujuan pendidikan nasional, maka, semua bidang studi atau mata pelajaran di sekolah, wajib hukumnya diarahkan pada pencapaian keimanan dan ketakwaan peserta didik. Muara pendidikan, dengan bahasa lain, bersamaan dengan terbitnya UU Sisdiknas tadi, adalah pencapaian keimanan dan ketakwaan kepada Allah. Prestasi lain di sekolah, semua arah harus menuju satu titik, yakni keimanan dan ketakwaan.

Nalar Filosofi Pendidikan Keagamaan

Dengan nalar tadi, maka, pembentukan keimanan peserta didik, tidak lagi terletak pada bidang atau orang tertentu, yakni Guru Pendidikan Agama Islam [GPAI] untuk orang Islam. Tetapi, telah menjadi kewajiban seluruh komponen pendidik dan tenaga kependidikan yang ada dalam sekolah.

Seorang opponent bertanya kepada saya. Lalu di mana dan siapa yang memiliki kewajiban misalnya mengajari anak shalat, cara berhaji, cara berpuasa, cara berbagi waris dan cara-cara ritual keislaman atau keagamaan lainnya?

Terhadap pertanyaan itu, saya mengatakan bahwa, itu menjadi kewajiban sekolah untuk berkompromi dengan pendidikan luar sekolah seperti pesantren. Kalau dirasa sekolah itu jauh dari pesantren, maka, tidak ada salahnya jika sekolah dimaksud menyatukan kegiatan sekolah dengan pesantren yang dimiliki sekolah. Jam pelajaran menjadi bertambah. Di sinilah letak pentingnya menyatuatapkan sekolah dengan pesantren atau model pendidikan sejenis.

BACA JUGA:  Lima Cara Tepat dan Cepat Membuat Skripsi

Apa alasan strategis lain yang menyebabkan bahwa PAI harus dibubarkan. Menurut saya, sepanjang masih ada mata pelajaran PAI di sekolah, maka, selama itu pula kewajiban keberagamaan peserta didik, seolah hanya akan menjadi kewajiban GPAI.

Pertanyaan yang terus berlanjut adalah, bukankah dengan demikian pendidikan menjadi mahal? Saya katakan bahwa hampir tidak ada pendidikan yang bermutu dengan biaya yang murah. Kalau ingin pendidikan berhasil, jawab saya, maka, pembiayaan pendidikan harus menjadi prioritas utama negara sebetapapun itu mahalnya. Jika tidak, maka, mana mungkin itu terwujud. By. Prof. Cecep Sumarna

Share This Post

Foto Profil dari Cecep Sumarna
Guru Besar Filsafat Ilmu IAIN Syekh Nurjati Cirebon, yang lahir dari pasangan H. Muslih Suryana dan ibu Hj. Siti Mardiyah ini, bukan saja tampil sebagai penulis kreatif dan imaginatif, tetapi, juga pemikir dan praktisi dunia usaha. Ratusan karya tulis telah dia semai ke dunia dan bersamaan dengan itu, iapun menjadi owner tiga poerusahaan multy nasional. Inilah sosok yang menginspirasi lahirnya lyceum dan tampil dalam domain penting dunia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>