Pendidikan dan Pembelajaran Berbasis Research

0 113

Banggalah jika anda pernah meragukan sesuatu. Karena bersama keraguan itu, anda akan tergerak untuk meneliti sesuatu. Mereka yang tidak pernah meneliti, selamanya akan menjadi orang buta dan tuli.

[Adaptasi pikiran Descartes – cogito ergo sum–]

Pendahuluan

Pentingnya kapabilitas personal [personal capability] seorang pemimpin, apapun institusinya, kini bukan lagi menjadi isu. Teori tersebut, saat ini telah menjadi penentu. Hanya mereka  yang memiliki personal capability itulah yang bakal mampu menentukan arah dan tujuan. Ia juga akan menjadi semacam road map segenap solusi yang solutif dalam memecahkan masalah di setiap institusi yang ada. Tanpa personal capability, apapun cita-cita yang hendak dibangun suatu komunitas, maka, cita-cita itu hanya akan menjadi sia-sia. Sekalipun balutan sistem yang dibangun itu, dipertatutkan dengan sesuatu yang luar biasa baiknya.

Jika anda misalnya, memiliki sebuah gagasan besar dan brilyan, lalu gagasan itu tiba-tiba sulit diwujudkan. Maka saat situasi itu terjadi, pasti muncul suatu pertanyaan dasar. Misalnya, apa penyebab utama gagalnya gagasan positif dan progresif yang kita miliki tadi? Jawabannya ternyata, lebih pada bahwa kita belum mampu memberi guaranty atas personal capability kita. Personal guaranty dipandang mampu menyelesaikan setiap masalah yang datang dan berubah setiap saat. Sebut misalnya, belakangan banyak kaum akademik menganggap bahwa pendidikan harus mulai mengarahkan pembelajaran pada Riset. Siapa yang berani menolak gagasan yang secara akademik sangat cemerlang seperti ini.

Gagasan semacam tadi, bagi kita harus dihayati seperti seteguk air dingin. Air yang dibutuhkan saat dalam perjalanan panjang di padang sahara yang menyebabkan tubuh kita dehidrasi dan haus akut. Mengapa? Sebab melalui gagasan semacam inilah, sejatinya Perguruan Tinggi bersama produk-produknya, akan diterima masyarakat. Mengingat pentingnya soal semacam ini, salah satu PTAIN mengubah statusnya menjadi Research University. Apa mungkin gagasan itu terwujud? Gagasan yang muncul saat secara personal berada dalam cara berpikir yang berjarak dengan pikiran semacam itu.

Seorang ilmuan tidak akan pernah memusuhi siapapun. Kecuali dimusuhi mereka yang awam. Mengapa? Karena yang awam tidak pernah meyakini sesuatu atas dasar fakta. Ia selalu bergerak dari satu isu ke isu lain. Ia merasa tidak pernah bisa makan, kecuali menciptakan isu untuk kepentingan “isi perutnya”. Di luar itu semua, tidak ada keperluan lain.

Nilai Guna Pendidikan dan Pembelajaran Berbasis Research

Secara fungsional [axiologis], model pendidikan dan pembelajaran yang berbasis pada research, tentu banyak manfaatnya. Dalam konteks kampus kita, hal ini harus disebut gagasan revolutif. Melalui gagasan ini, kita patut menduga bahwa gagasan semacam ini harus dipandang mampu menciptakan iklim keselarasan di satu sisi dan dalam konteks lain dapat pula disebut sebagai sumbangsih kita terhadap dunia akademik untuk ikut mencari pemecahan masalah yang lebih solutif, di sisi lain.

Pendidikan dan pembelajaran yang demikian, secara langsung akan mendorong setiap civitas akademik untuk terus mengembangkan program tepat guna dan berkelanjutan sesuai dengan potensi yang dimiliki dan patut diduga memiliki kapasitas  [di kemudian hari] bagi peserta didik kita untuk menyelesaikan setiap masalah di sisi lainnya. Siapkah? Inilah yang harus sama-sama disongsong.

Mengapa gagasan ini harus disongsong dengan baik dan bijak? Sebab jika kita mengutif pikiran Prof. Asep Saefudin [Rektor Universitas Trilogi Jogjakarta] dalam Okezon 3 April 2015, model pendidikan dan pembelajaran yang berbasis pada research dapat dipandang mampu melakukan triple helix. Suatu gagasan yang mensinergikan Perguruan Tinggi dengan pemerintah dan dunia industri atau dunia usaha. Menurutnya, mengutif Menristekdikti M. Nasir, kita harus sudah mulai melakukan hilirisasi atau komersialisasi hasil riset ke pasar, sehingga pembangunan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) serta inovasi dalam konteks pengembangan keilmuan dapat berkontribusi secara nyata dalam pembangunan nasional.

Maaf, ini juga yang secara praktis, telah menginspirasi kami ketika salah satu akademi tertentu minta dirawat keluarga kami. Kami menyusun bagaimana konsep dan praktis sarjana yang diluluskan kampus dimaksud mampu bekerja dalam sektor-sektor yang lebih real karena kemampuan mereka dalam mengembangkan ilmu pengetahuan terapan

Dalam konteks lain, kami malah akhirnya melakukan kerjasama, termasuk ketika harus bermitra misalnya dengan dunia usaha asing dan pemerintah sendiri. Kami malah membangunnya dengan Jepang dan Arab Saudi. Semua teori dan gagasan di atas, menurut penulis, hanya akan terbangun dengan baik, jika personal capability kita memenuhi kesanggupan dan ketangguhan mental untuk itu.

Filosofi Pembelajaran Berbasis Research

Pendidikan Tinggi, termasuk tentu PTAIN, secara teoretis, seharusnya selalu mengacu kepada tiga tugas utama. Ketiga tugas dimaksud popular dengan sebutan tri dharma perguruan tinggi, yang didalamnya memuat soal pendidikan dan pembelajaran, penelitian dan pengabdian pada masyarakat. Ketiga tugas ini dapat dilaksanakan secara sejajar dan tidak mengabaikan satu atau dua dari tiga tugas utama tadi.

Secara teoritis, tidak mungkin ada sebuah perguruan tinggi yang hanya memberi label dirinya sebagai teaching university  –meski dalam praktiknya pasti banyak ditemukan– atau misalnya Research University. Dalam proses pembelajaran, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, sekali lagi seharusnya memiliki forsi yang sejajar dan seimbang. Sudahkan kampus kita membuat kesejajaran dalam tiga tugas utama ini.

Jika kita mencoba membaca Peraturan Presiden [Perpres] Nomor 8 tahun 2012, di situ dijelaskan soal Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia [KKNI], yang kemudian populer juga dengan sebutan kurikulum KKNI. Dalam Perpres dimaksud, disebutkan misalnya soal jenjang sarjana [S1, S2 san S3] yang harus dipersiapkan untuk memasuki pasar kerja yang membutuhkan keterampilan atau keahlian.

Dengan nalar Perpres dimaksud, menjadi dapat difahami mengapa misalnya ijazah sarjana harus dilengkapi dengan Surat Keterangan Pendamping Ijazah (SKPI) yang menjelaskan bahwa kesarjanannya itu memiliki keahlian bidang tertentu dan keterampilan tertentu pula yang dimiliki sarjana yang menjadi output suatu pendidikan tinggi. Semua itu mesti dibuktikan dengan sertifikat keahlian, lalu keahlian itu semestinya dideskripsikan dalam SKPI.

Kembali ke persoalan pendidikan dan pembelajaran yang berbasis pada research, secara filosofi sebenarnya bertumpu pada nalar filsafat konstruktivisme, sebagai lawan dari nativisme. Konstruktivisme, yang berasal dari kata constructive [konstruktif] dan ism mengandung makna sebuah faham atau aliran yang menganggap bahwa membina, membangun atau memperbaiki sesuatu jauh lebih baik dibandingkan dengan aliran lain.

Sebut misalnya, aliran nativisme tadi, yang menganggap bahwa pendidikan dan pembelajaran harus diberlangsungkan dalam [konteks peserta didik] berada dalam posisi persis seperti sebuah gelas kosong yang dapat diisi air apa saja ke dalamnya. Dalam konstruktivisme, peserta didik justru tidak difahami dalam nativisme. Mereka dipandang justru telah memiliki kesanggupan dan kemampuan tertentu. Pendidikan yang diberlangsungkan di dalam kelas, malah, hanya bersipat pengembangan dari potensi peserta didik yang sebelumnya telah terisi dengan padat.

Dalam nalar konstruktivisme,  akan menekankan pengetahuan sebagai sesuatu yang seharusnya dihasilkan dari konstruksi kita sendiri, termasuk tentu dari kalangan peserta didik sendiri. Frederick Sj. Copleston dalam sebuah karya monumental berjudul A. Story of Philosophy [1974] menyebut konstruktivisme sebagai sebuah aliran atau faham yang menekankan kemerdekaan individual dalam menghasilkan ilmu pengetahuan.

Jika nalar ini, diasosiasi ke dalam teori pendidikan, maka, menurut penulis, aliran ini akan menganggap betapa pentingnya siswa aktif mengkonstruksikan pengetahuan melalui hubungan timbal balik dari proses pembelajaran sebelumnya dengan proses pembelajaran baru yang lebih up to date [terbarukan].

Tuhan adalah Pencipta seluruh alam semesta dan tentu didalamnya terdapat manusia. Tetapi khusus untuk manusia, ia diciptakan Tuhan agar tumbuh Menjadi tuan dari segenap ciptaan Tuhan itu sendiri Gimbatissta Vico Konstruktivis Italia, 1970

Konstruktivisme dan Pembelajaran Berbasis Research

Para pengikut konstruktivisme –yang kemudian popular dengan sebutan konstruktivis, memandang bahwa peserta didik semestinya diberi kesempatan yang besar dalam membangun dirinya dimaksud agar mampu menggunakan strateginya sendiri ketika mereka mendapatkan dan mengembangkan ilmu pengetahuan. Proses pembelajaran yang berlangsung di dalam kelas, seharusnya mampu mendorong pada upaya penemuan baru yang dihasilkan peserta didik sendiri dengan bimbingan pendidik atau tenaga kependidikan.

Menurut mereka, tentu yang menganut aliran ini, peserta didik dituntut sadar dalam mengikuti dinamika pengetahuan semacam ini. Di sisi lain, posisi kita sebagai guru atau pendidik hanya mungkin melakukan bimbingan ke tingkat wawasan dan pengetahuan yang lebih tinggi yang dibutuhkan mereka.

Jika muncul pertanyaan, bagaimana pendidikan dan pembelajaran harus diwujudkan dalam bentuk research atau serendahnya berbasis pada research. Saya kira, jawaban utamanya terdapat dalam sikap ilmiah kita sebagai pelaku akademik. Seberapa besar kesanggupan kita dalam memahami dan “menikmati” sikap kita sebagai seorang ilmuan.

Secara teoretik, suatu penelitian akan terwujud jika kita memiliki suatu aktivitas ilmiah yang selalu bergerak dalam upaya menyelesaikan sesuatu yang dianggap sebagai masalah. Inilah yang kemudian oleh Archi J. Bahm [1980] disebut dengan istilah No Problem No Science. Mengapa? Sebab hakikat penelitian pada dasarnya bertujuan untuk menemukan jawaban dari persoalan [masalah[ yang kita hadapi.

Jadi, jika dalam proses pembelajaran, kita merasa tidak pernah menemukan masalah, maka, selama itu pula, penelitian tidak akan pernah terwujud dan tentu saja budaya research itu akan sangat sulit kita wujudkan. Karena itu, mentradisikan budaya research di kalangan mahasiswa, dapat juga diawali dengan seberapa sanggup kita mampu menyodorkan sesuatu yang menurut ukuran subjektif kita layak disebut sebagai masalah.

Dalam konteks lain, karena itu, penelitian dapat pula diterjemahkan sebagai salah satu pendekatan ilmiah yang diterapkan untuk menyelidiki masalah-masalah yang dianggap salah atau serendahnya kurang tepat. Penelitian, dengan demikian adalah suatu cara yang digunakan dalam menyelesaikan masalah tertentu dengan metode dan langkah tertentu pula. Di sinilah diperlukan apa yang disebut dengan sikap ilmiah.

Persoalan segera muncul adalah, apa itu sikap ilmiah? Sikap ilmiah jika mengutif pikiran Archi J. Bahm [1980], setidaknya akan dicirikan dengan tujuh karakter. Ketujuh ciri atau karakter dimaksud adalah sebagai berikut:

Rasa Ingin Tahu

Rasa ingin tahu (scientific curiosity) ditujukan untuk memahami keberadaan, hakikat, fungsi tertentu dan hubungannya dengan hal-hal lain. Rasa ingin tahu tersebut umumnya akan mendorong orang untuk memunculkan pertanyaan-pertanyaan. Pertanyaan-pertanyaan inilah yang dengan sendirinya akan mengembangkan pengetahuan. Dari sini, upaya untuk melakukan penyelidikan, pemeriksaan, penjelajahan, atau bahkan petualangan dan percobaan akan dilakukan. Tujuannya jelas, yakni bagaimana suatu pemahaman yang utuh atas apa yang hendak diketahui itu dapat dicapai dengan baik oleh peserta didik kita.

Berjiwa Spekulatif

Jiwa spekluatif adalah sikap ilmiah yang diperlukan untuk mengajukan hipotesis-hipotesis (tentu bersifat deduktif) untuk mencari solusi terhadap sesuatu yang dianggap sebagai permasalahan ilmiah.

Bersikap Objektif

Bersikap objektif adalah jiwa yang selalu bersedia untuk mengakui subjektivitas (tentu bersifat relatif) terhadap apa yang dianggapnya benar. Sikap ini meliputi:

Kesediaan untuk mengikuti bimbingan rasa ingin tahu secara ilmiah; 2) Kesediaan untuk dipandu oleh pengalaman dan penalaran, tidak fanatik terdapat sikap rasional dan empirik; 3) Kesediaan menjadi reseftif terhadap data sebagaimana adanya, tidak ditafsirkan sesuai dengan preferensi, imajinasi atau konsepsi pengamat yang membuatnya bias; 4) Kesediaan diubah oleh obiek apabila penyelidikan tentang objek diketahui ada hal-hal yang menyebabkan perlunya revisi dan rancang ulang terhadap konsep-konsep peneliti; 5) Kesediaan untuk keliru dalam melaksanakan metode coba ralat (trial and error) tanpa meninggalkan tujuan untuk mencapai kebenaran objektif; dan 6) Kesediaan untuk tabah melanjutkan penyelidikan meski permasalahan yang dihadapi sangat sulit untuk dipecahkan.

Sikap Terbuka

Sikap Terbuka adalah kesediaan untuk mempertimbangkan semua masukan yang relevan menyangkut permasalahan yang dikerjakan, kesediaan mendengar dan mengkaji gagasan dari pihak lain sekalipun kelihatannya berbeda atau bertentangan dengan kesimpulan yang diambil ilmuan sendiri. Kita juga semestinya terlatih untuk tidak menyalahkan pandangan apapun kecuali melalui penalaran yang memadai.

Kesediaan untuk menunda penilaian

Sikap lain yang harus juga dikembangkan adalah tidak membiasakan diri untuk memaksakan diri agar memperoleh jawaban jika penyelidikan belum memperoleh bukti yang diperlukan. Bukti dimaksud dapat dihasilkan melalui pendekatan deduksi [logika matematik] dapat pula digunakan dengan menggunakan pendekatan induksi [logika statistik] melalui pengamatan atau observasi, wawancara dan angket ke objek teliti.

Bersikap tentative

Bersikap tentative artinya tidak bersikap dogmatis terhadap hipotesis maupun simpulan, tetap menyadari bahwa tingkat kepastian pembuktian selalu kurang dari seratus persen dan selalu memungkinkan timbulnya keraguan yang karenanya memungkinkan untuk meninjau kembali terhadap apa yang diyakininya sebagai suatu kebenaran.

Implementasi Kongkret di Dalam Kelas

Jika nalar di atas masih bersifat filosofi, maka, secara praktis, kita tampaknya penting mengutif pikiran Prof. Dede Rosyada [2016]. Menurutnya, terdapat setidaknya tiga model pembelajaran yang berbasis pada research. Ketiga model dimaksud, menurut Rektor UIN Syahida Jakarta itu adalah sebagai berikut:

Pertama: Tugas Penelitian

Mahasiswa diberi tugas melakukan penelitian dalam mata kuliah yang mereka ambil. Setelah itu, mahasiswa mempresentasikan penelitiannya, dibahas bersama mahasiswa dan dosen pengampu mata kuliah dimaksud. Model ini, menurut Dede Rosyada, dilakukan Griffith University, Australia, dengan dua pertimbangan:

  1. Penelitian dan karya-karya kreatif yang dihasilkan peserta didik, validasi dan diseminasi pengetahuan merupakan karya-karya akademik fundamental dalam konteks penguatan Research University, untuk mendorong perubahan positif bagi para mahasiswa dengan kekuatan intelektual yang tinggi, dan mampu mengkoneksikan antara penelitian dengan pembelajaran.

Berbagai keuntungan dari model pembelajaran berbasis penelitian adalah sebagai berikut a). Mengkoneksikan antara teori, praktik, etik dan juga nilai; b). Memberi jaminan bahwa muatan bahan ajar adalah termasuk temuan hasil penelitian; c). Menambah pemahaman mahasiswa bahwa pilihan cabang ilmu yang dipelajarinya bisa memberikan kontribusi positif bagi masyarakat; dan 4). Mengembangkan dan meningkatkan keterampilan serta kemampuan para mahasiswa.

Peningkatan keterampilan dan kemampuan siswa dimaksud, meliputi: (a). Keterampilan generik, seperti berfikir kritis, melakukan analisis, memperoleh kembali informasi dan mengevaluasinya, dan melakukan proses penyelesaian masalah; dan, (b). Memiliki keterampilan dan kemampuan melakukan penelitian yang sangat baik untuk menjadi seorang professional [sebagai bahan bandingan, lihat sikap ilmiah]

  1. Menghasilkan banyak kesempatan untuk meningkatkan kualitas proses pembelajaran, seperti pembelajaran dengan pengamatan lapangan (inquiry) dan ujicoba yang sangat bermanfaat dalam meningkatkan hasil belajar para mahasiswa.

Kedua: Pengembangan Sylabus

Model di mana dosen mengembangkan sylabus dan bahan ajar berbasis pada hasil penelitiannya, atau pada program penelitian yang sedang dilakukan. Menurut Dede Rosyada, penelitian merupakan bagian dari lesson plan yang disampaikan dosen pada para mahasiswa. Dede Rosyada mengutif Brigid Barron dan Linda Darling-Hammond dari Standford University, menyebutnya sebagai Project Based Learning (PBL), sebuah proses pembelajaran berbasis penelitian yang melibatkan tugas yang sangat kompleks.

Kedunya, menurut Dede, menyebut setidaknya terdapat lima komponen kunci keberhasilan PBL, yakni 1) fokus pada kurikulum, diorganisir dalam seputar pertanyaan yang akan membawa mahasiswa pada pemahaman konsep, 2) fokus pada proses constructive investigation yang melibatkan proses pencarian data, 3) menganalisis data dan membangun sebuah kesimpulan sebagai pengetahuan baru yang diperolehnya, 4) mahasiswa bertanggung jawab untuk merancang pekerjaan dan melaksanakannya dalam sebuah aktifitas yang sangat independen, dan 5) authentic, yakni fokus pada data yang benar-benar ada dalam kenyataan

Ketiga: Pengembangan Model

Para dosen dituntut mengembangkan berbagai model pembelajaran yang diinspirasi oleh hasil penelitian, yang sengaja dilakukan untuk mengembangkan model pembelajaran secara holistik, dari mulai kurikulum, metode, evaluasi, alat belajar maupun yang lainnya.

Mana yang mau kita pilih dari ketiga metode atau model pembelajaran berbasis pada research ini? Saya kira, ketiganya memiliki kelebihan dan kekurangan tersendiri. Semua akan tergantung dalam posisi apa kita memulai disertai dengan potensi sebesar apa pula yang kita miliki.

Simpulan

Berbagai narasi sebagaimana dijelaskan di atas, penulis melihat setidaknya terdapat beberapa hal yang semestinya diperhatikan jika disepakati bahwa pendidikan dan pembelajaran harus berbasis pada research. Beberapa hal dimaksud, di antaranya adalah sebagai berikut:

  1. Pendidikan dan pembelajaran yang berbasis pada research, mungkin sudah menjadi takdir sejarah keilmuan yang mesti direspon dengan baik. Mengapa mesti direspons. Sebab sumber ilmu pengetahuan hari ini, tidak lagi terbatas pada pendidik [dosen] atau bahkan perpustakaan kampus, tetapi, saat ini sumber-sumber pengetahuan sudah berkembang sedemikian meluas yang menyebabkan semua manusia, termasuk tentu peserta didik, memiliki akses sama yang juga sangat tidak terbatas.
  2. Disadari sepenuhnya bahwa pelaksanaan pendidikan dan pembelajaran berbasis research, mengandung sejumlah masalah yang tidak kecil. Masalah dimaksud bukan saja hanya terkait dengan situasi pendidik yang saat ini justru lebih mengedepankan aspek-aspek administrative yang “memaksa” kaum akademik menjadi birokrat Padahal, dengan semangat dosen sebagai tenaga fungsional, semestinya ia memiliki ruang yang lebih dinamis dibandingkan dengan ASN dalam profesi lain yang sipatnya administratif. Misalnya, mengapa dosen disebut fungsional. Secara teoretis, yang fungsional pasti bersipat profesi yang mestinya diisi kaum profesional. Maaf yang namanya kaum profesional, sesungguhnya dan seharusnya tidak dibatasi dalam ruang-ruang yang sangat terbatas. Dari sisi ini saja, memang harus diakui bahwa pasti terdapat kesulitan yang sangat luar biasa.
  3. Namun demikian, harus juga disampaikan bahwa mengingat pembelajaran berbasis research itu sedemikian pentingnya dalam konteks pengembangan keilmuan, maka, kita semestinya memiliki model spesifik yang layak dan tepat untuk kita kembangkan dengan kekhasannya tersendiri di kampus kita sendiri. Selebihnya, harus saya kata wallhu a’lam

Makalah disampaikan dalam Workshof FTIK IAIN Syekh Nurjati Cirebon, Kamis 10 Agustus 2017 di Hotel Harisma Kuningan

Daftar Bacaan

Archi J. Bahm. What Is Science? New Mexico. USA: World Book, 1980
Barron, Brigid, dan Linda Darling Hammond, Teaching for Meaningful Learning: A Review of Research on Inquiry-Based and Cooperative Learning, Edutopia (The George Lucas Educational foundation), Stanford University, USA, 2008.
Frederick Sj. Copleston. A. Story of Philosophy. London: Search Press, 1974
Dede Rosyada. Pembelajaran Berbasis Penelitian. Jakarta: uinjkt.ac.id. 09/02/2016.21.17
John Dewey. Democracy and Education. New York: Macmillan University, 1962
Rene Descartes. Le Discourse de la Methode. Terj. Ida Sundari Hussein dan Rahayu S. Hidayat. Risalah tentang Metode Rene Descartes. Jakarta: Gramedic Utama, 1995


Penulis: Prof. Cecep Sumarna

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.