Pendidikan dan Pengembangan Potensi Manusia

Pendidikan dan Pengembangan Potensi Manusia
0 1.005

Pendidikan dan Pengembangan Potensi Manusia. Pendidikan sebagai proses pembimbingan dan pengembangan kualitas diri manusia,   perlu melihat potensi yang ada pada diri manusia.  Di antara  potensi yang ada pada diri manusia adalah potensi Tri mrata yaitu potensi secara jasadiyyah, aqliyyah, dan rûhiyyah.

Tiga dimensi potensi ini laksana segitiga yang mempunyai kesamaan sisi yang mencerminkan keseimbangan kepribadian manusia. Kemajuan, kebahagiaan dan kesempurnaan pribadi manusia tergantung pada keharmonisan hubungan tiga dimensi tersebut. Kepincangan antara tiga dimensi tersebut bukan saja merugikan pribadinya, melainkan juga masyarakat sekitarnya. Dalam konteks ini, manusia bukan sekadar lembaga tubuh, susunan akal, atau ruh yang terpisah, melainkan ketiga unsur tersebut saling melengkapi.

Al-Qur’an tidak menerima pandangan materialisme   yang terpisah dari aspek ruh, dan  spiritulisme  yang terpisah dari  materi. Menurut al-Qur’an, materialisme tidaklah mutlak buruk, sebaliknya  spiritualisme  juga tidaklah mutlak baik, yang diakui adalah persenyawaan yang harmonis antara keduanya. Golongan spiritualisme maupun materialisme  keduanya menzhalimi nilai kemanusiaan yang bertentangan dengan tuntutan hidup.

Golongan  spiritualis  yang berhasil melaksanakan spiritualisme-nya, hanya akan menjadi tokoh ruhani yang tidak bertubuh yang membangkai di alam hidup. Sementara golongan materialis juga akan berakhir menjadi manusia yang berlembaga tanpa ruh. Kekuatan material yang tidak disertai iman, belas kasihan dan moral, akan menjadikan manusia raksasa dalam aspek materi, tetapi kerdil dalam aspek ruhani, ia akan maju hanya dengan iringan akal dan ruh (ilmu dan Iman).

Komposisi Kepribadian

Komposisi kepribadian tersebut saling terkait yang terdiri dari tiga faktor secara proporsional yaitu; akal  عقلية (akal), hati  قلبيّة  (hati), dan emosi نزوعيّة  (emosi). Proporsi keserasiannya dapat diprediksikan:

  1. Kekuasaan akal setara dengan kewenangan emosi. Akal membawa emosi menerawang hingga dapat menangkap rahasia wujud sebagai sumber alam raya dari awal hingga titik akhirnya. Teras emosinya adalah iman, yang dengannya akal manusia akan terbawa secara alami mengikuti emosi tersebut.
  2. Aspek hati (qalb) yang merupakan esensi dari suatu keputusan yang berasal dari daya nalar, opini, kecerdasan praktis (practical intelligence), untuk memecahkan suatu masalah secara cakap dan cermat.
  3. Aspek emosi berperan dominan, baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Emosi dapat membawa kecintaan untuk memenangkan kebenaran dan bersedia mengorbankan yang ada, baik jiwa, raga maupun harta untuk memenangkan kebenaran. Inti semangat emosi ini adalah cinta kebaikan, sarinya adalah kasih sayang dan terasnya adalah membahagiakan manusia. Dr. Ahmad Munir, M.Ag
Komentar
Memuat...