Pendidikan dan Perubahan Moral Dalam Pandangan Al-Quran

0 114

Pendidikan dan Perubahan Moral. Al-Qur’an telah  menemui masyarakat yang memiliki nilai yang diikuti, tetapi nilai tersebut bersifat kekinian, sektoral dan temporal. Al-Qur’an mematahkan tiran yang berusaha mempertahankan kebiasaan dan nilai yang bersifat temporal, demi kelanggengan ambisi dan motif negatifnya. Kelompok-kelompok tersebut disimbulkan al-Qur’an dengan Fir’aun dan tokoh-tokoh durjana lainnya yang merupakan metaforika tokoh pelanggaran moral. (M.Quraish Shihab: 1997: 249)

Kehadiran  Islam di kalangan masyarakat Arab pada waktu itu sebagai  konsep pembaharuan yang mewarnai dan mengubah watak dan perilaku negatif.  Proses perubahan tersebut direkam oleh al-Qur’an secara dinamis. Dalam periode ini ada masalah  yang   pelik yaitu penghormatan kepada norma-norma kesukuan yang telah melekat dan harus dijunjung dan disanjung dari satu sisi, tetapi dari sisi lain datang tawaran kehidupan  baru  yang ideal yang dibawa Islam.

Ketika proses akulturasi antara kode etik lama (jahiliyah) dan kode etik baru (Islam), Islam menyikapinya secara antagonis dari satu sisi, seperti syirik, kufr, zhulm dan lain-lain, karena secara esensi bertolak belakang dengan prinsip moral Islam yang bersifat monotheis (muwahhid). Sementara pada sisi lain Islam menanggapinya secara akomodatif, selektif dan kritis dengan memodifikasi  bentuk  yang hasil akhirnya kadang-kadang menjadi  ide moral yang digabung dengan moral yang baru.

Dalam mengobah moral dan perilaku manusia, al-Qur’an menawarkan tiga acuan nilai etis yaitu:

  1. Sikap etis Tuhan yang  tersusun  dalam asmâ al-husnâ (nama-nama Allah yang tercakup nilai etis dan estetis).
  2. Sikap etis manusia kepada Tuhan yang bersifat fundamental.Acuan ini berlandaskan konsep di mana Tuhan adalah sumber etika, Ia bertindak etis kepada manusia. Oleh karenanya manusia diharapkan menanggapinya secara etis juga. Dalam pandangan al-Qur’an, sikap manusia terhadap perbuatan Tuhan disebut agama atau etika agama.
  3. Sikap manusia terhadap sesamanya dalam komunitas. Dalam hal ini kehidupan sosial dan individu selalu diatur oleh seperangkat prinsip-prinsip moral tertentu yang disebut dengan etika sosial. (Izutsu: 1995: 27).

Pandangan al-Qur’an terhadap etika secara esensial bersifat teosentris, di mana citra Tuhan meliputi segala aspek, sehingga tidak ada satu etika-pun yang  keluar dari  konsep ini. Ketiga konsep sikap etis tersebut, antara  satu dan yang lain secara prinsip tidaklah berseberangan, bahkan sangat erat.  Dari ketiga acuan tersebut, dapat direduksikan menjadi dua konsep dasar yaitu kepercayaan yang mutlak kepada Allah, dan ketaatan yang shâlih  kepada-Nya.

Oleh : Dr. Ahmad Munir, M.Ag.

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.