Pendidikan Indonesia dalam Krisis

pendidikan indonesia dalam krisis
0 34

Pendidikan Indonesia dalam Krisis. Pendidikan Indonesia berada dalam krisis substantif yang esensial. Kegagalan ini, jarang dianalisis. Mengapa? Karena fakar pendidikan lebih sering menganggap kegagalan pendidikan terletak pada perannya dalam mencerdaskan output. Kegagalan dimaksud, terlihat dari kecilnya indek prestasi peserta didik ketika mengakhiri studinya dalam Ujian Nasional di jenjang pendidikan dasar dan menengah. Standar kelulusannya, dinilai terlalu rendah, pun jika harus dibandingkan dengan standar kelulusan beberapa negara tetangga.

Pakar pendidikan banyak yang berpendapat bahwa, kegagalan dimaksud terjadi karena rendahnya kualifikasi pendidik dan tenaga kependidikan. Hal ini terjadi karena tingkat kesejahteraan yang kecil dan ambigu-nya mekanisme karier mereka dalam mengemban amanah sebagai tenaga pendidik.

Mengantisipasi persoalan dimaksud, pemerintah Republik Indonesia telah menerbitkan Undang-undang dan berbagai Peraturan Pemerintah. Sebut misalnya UU Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Peraturan Pemerintah RI Nomor 41 tahun 2009 tentang Tunjangan Profesi Guru, Dosen dan Guru Besar. Serta Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 62 tahun 2013 tentang Sertifikasi Guru dan Jabatan. Dalam Rangka Penataan dan Pemerataan Guru.

Nalar UU dan PP di atas, sesungguhnya tidak hanya berfungsi sebagai alat untuk meningkatkan kesejahteraan mereka.Tetapi, ada makna terdalam yang mengasumsikan bahwa, melalui program ini, tingkat kualifikasi pendidik dan tenaga kependidikan harus meningkat, khusunya dalam empat kompetensi, yaitu; kompetensi profesional, kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian dan kompetensi sosial. Hasilnya, sampai saat ini tampaknya belum ada penilaian objektif akan efektivitasnya.

Kegagalan Substantif Pendidikan Indonesia

Dalam analisa penulis, sebenarnya ada persoalan lain yang jauh lebih rumit. Misalnya, dalam soal ketidakmampuan dunia pendidikan dalam membentuk dimensi kualitatif peserta didik yang solusinya hanya dapat dilakukan melalui kegiatan berpikir jernih dalam mengaktivasi psikis peserta didik ke dunia yang abstrak, yang prosesnya tidak dapat diamati hanya dengan menggunakan alat indra manusia. Dibandingkan dengan persoalan pencerdasan output, kegagalan di jenis ini, sebenarnya jauh lebih kompleks.

“Dalam kegagalan pencerdasan out put, kita masih dapat dihibur dengan banyaknya keberhasilan peserta didik dalam moment-moment ilmiah kelas dunia. Fakta menunjukkan bahwa dalam Olimpiade Fisika, Matematika dan Komputer yang berskala internasional, peserta didik Indonesia mampu bukan hanya sekedar mengalahkan mereka yang berasal dari Singapura dan China, tetapi bahkan mengalahkan mereka yang berasal dari negara adikuasa sekelas Amerika Serikat dan Rusia.”

Kegagalan substantif dimaksud, salah satunya, menurut penulis terletak pada rendahnya dunia pendidikan dalam menumbuhkan kreativitas berpikir peserta didik. Indikator kuncinya ditandai dengan sedikitnya ruang kebebasan peserta didik untuk berbicara dengan dirinya sendiri dalam mempertimbangkan, merenungkan, menganalisis, membuktikan dan menunjukkan suatu jalan pikiran tertentu untuk menghasilkan suatu produk baru dalam bidang keilmuan yang mereka geluti.

Padahal, kreativitas adalah potensi dasar manusia, yang jika dikembangkan, maka hasilnya akan jauh lebih signifikan manfaatnya bagi hajat hidup manusia. Meningkatnya pengangguran di kelas masyarakat terdidik perkotaan dapat menjadi salah satu ciri penting yang menunjukkan bahwa alumni pendidikan Indonesia sangat bergantung terhadap dunia kerja tersedia.

Teori yang mengasumsikan bahwa pendidikan berkorelasi langsung dengan kemandirian seseorang, ternyata gagal diperankan. Yang terjadi malah sebaliknya! Tingginya tingkat pendidikan seseorang, justru telah meningkatkan beban baru baik bagi pemerintah maupun bagi stakeholder. Kaum terdidik malah sering menjadi bagian yang memperkuat basis ketergantungannya terhadap dunia kerja yang terbatas. Akhirnya, pengangguran kaum terdidik terus meningkat dengan cepat karena adanya ketidakseimbangan antara suplay dengan demand.

Indikator dan Solusi Pendidikan Indonesia

Virus lemahnya dunia pendidikan dalam menumbuhkan kreativitas berpikir peserta didik, ternyata tidak hanya berlaku untuk mereka yang belajar di jenjang pendidikan dasar dan menengah. Di lingkup Pendidikan Tinggi-pun, virus ini, ternyata masih sangat sulit dientaskan. Misalnya, jika ada peserta didik yang baru lulus dari suatu Perguruan Tinggi dengan predikat Cum Laude, ke mana dia akan bergerak?

Jika dia datang ke sebuah instansi untuk melamar pekerjaan atau ditawari pekerjaan tertentu dengan gajih yang menjanjikan, lalu dia menerima atau diterima oleh isntansi yang dia tuju, maka, hal ini telah menjadi ciri bahwa pendidikan kita, sesungguhnya hanya mampu mencerdaskan peserta didik, dan abai dalam mengembangkan kreativitas berpikir mereka.

“Menarik untuk disebut bahwa, ternyata produsen SDM itupun lebih gemar menilai laporan akademik output pada dunia kerja tersedia, termasuk ketika Badan Akreditasi Nasional menilai kualifikasi Program Studi dan Perguruan Tinggi. Sangat sedikit ruang yang disediakan Borang Akreditasi untuk mengukur keberhasilan suatu lembaga pendidikan dalam membangun dirinya sendiri.”

Ukurannya selalu hanya pada seberapa besar output pendidikan dimaksud mampu diterima di berbagai instansi; negeri maupun swasta. Padahal, ketika output yang brilyan itu masuk ke dunia kerja, ia sesungguhnya hanya dapat menyelamatkan dirinya sendiri. Ia tetap hanya menjadi employee. Ia kehilangan nafsunya untuk meningkatkan kreativitas berpikir agar mampu menyelamatkan dirinya dalam kepentingan jangka panjang, apalagi dalam konteks umatnya yang kompleks.

Inilah yang mengakibatkan pendidikan di Indonesia, tidak pernah berbanding lurus antara profesi yang dimiliki dengan pekerjaan yang digeluti. Seorang Sarjana Pertanian atau Peternakan, malah lebih banyak mengantri di antrean-antrean kasir perbankan, sarjana pendidikan lebih banyak antri dalam konsultan politik, sarjana teknik antri di perusahaan perbengkelan dan sarjana ekonomi banyak antri di dunia keguruan. Mereka jarang yang handal dalam mengemban amanah sebagai orang yang ahli dalam bidangnya untuk mengembangkan bidangnya dimaksud secara mandiri.

Penulis melihat, penting segera melakukan pembenahan pembelajaran mulai dari pendidikan dasar sampai pendidikan tinggi. Pembelajaran yang mengaransemen semangat individu peserta didik dalam menyelesaikan masalah. Salah satunya diwujudkan dalam bentuk melatih mereka untuk menyelesaikan persoalan yang sebelumnya dianggap tidak mungkin menjadi mungkin. Polanya adalah mengubah cara berpikir agar bisa lebih kritis dan terurai, tentu sesuai dengan jenjang pendidikan yang ditempuh masing-masing orang. Prof. Dr. H. Cecep Sumarna

Komentar
Memuat...