Pendidikan Nonformal Berbasis Masyarakat

0 315

Hasil kajian Tim Reformasi Pendidikan dalam konteks Otonomi Daerah (Fasli Jalal dan Dedi Supriadi, 2001) menyimpulkan bahwa apabila pendidikan luar sekolah (pendidikan nonformal) ingin melayani, dicintai, dan dicari masyarakat, maka mereka harus berani meniru apa yang baik dari apa yang tumbuh di masyarakat. Kemudian diperkaya dengan sentuhan-sentuhan yang sistematis dengan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sesuai dengan lingkungan masyarakatnya. Strategi itulah yang perlu terus dikembangkan dan dilaksanakan oleh pendidikan luar sekolah dalam membantu menyediakan pendidikan bagi masyarakat yang karena berbagai hal tidak terlayani oleh jalur formal/ sekolah.

Bagi masyarakat yang tidak mampu, apa yang mereka pikirkan adalah bagaimana hidup hari ini, karena itu mereka belajar untuk kehidupan; mereka tidak mau belajar hanya untuk belajar, untuk itu masyarakat perlu didorong untuk mengembangkannya melalui Pendidikan nonformal berbasis masyarakat, yakni pendidikan nonformal dari, oleh dan untuk kepentingan masyarakat.

Pendidikan berbasis masyarakat adalah penyelenggaraan pendidikan berdasarkan kekhasan agama, sosial, budaya, aspirasi, dan potensi masyarakat sebagai perwujudan pendidikan dari, oleh, dan untuk masyarakat. Dengan demikian nampak bahwa pendidikan berbasis masyarakat pada dasarnya merupakan suatu pendidikan yang memberikan kemandirian dan kebebasan pada masyarakat untuk menentukan bidang pendidikan yang sesuai dengan keinginan masyarakat itu sendiri.

Pendidikan Berbasis Masyarakat

Secara konseptual, pendidikan berbasis masyarakat adalah model penyelenggaraan pendidikan yang bertumpu pada prinsip “dari masyarakat, oleh masyarakat dan untuk masyarakat”. Pendidikan dari masyarakat artinya pendidik memberikan jawaban atas kebutuhan masyarakat. pendidikan oleh masyarakat artinya masyarakat ditempatkan sebagai subyek/pelaku pendidikan, bukan objek pendidikan. Pada konteks ini, masyarakat dituntut peran dan partisipasinya dalam setiap program pendidikan. Adapun pengertian pendidikan untuk masyarakat artinya masyarakat diikutsertakan dalam semua program yang dirancang untuk menjawab kebutullan mereka. Secara singkat dikatakan, masyarakat perlu diberdayakan, diberi Peluang dan kebebasan untuk mendesain, merencanakan, membiayai, mengelola dan menilai sendiri apa yang diperlukan secara spesifik di dalam, untuk dan oleh masyarakat sendiri.

Dengan demikian, pendekatan pendidikan berbasis masyarakat adalah salah satu pendekatan yang menganggap masyarakat sebagai agen sekaligus tujuan, melihat pendidikan sebagai proses dan menganggap masyarakat sebagai fasilitator yang dapat menyebabkan perubahan menjadi lebih baik. Dari sini dapat ditarik pemahaman bahwa pendidikan dianggap berbasis masyarakat jika tanggung jawab perencanaan hingga pelaksanaan berada di tangan masyarakat. Pendidikan berbasis masyarakat bekerja atas asumsi bahwa setiap masyarakat secara fitrah telah dibekali potensi untuk mengatasi masalahnya sendiri. Baik masyarakat kota ataupun desa, mereka telah memiliki potensi untuk mengatasi masalah mereka sendiri berdasarkan sumber daya yang mereka miliki serta dengan memobilisasi aksi bersama untuk memecahkan masalah yang mereka hadapi.

Rumah Pintar

Program Rumah Pintar  ini adalah  Program pengembangan dari Program Mobil Pintar yang kehadirannya sudah lebih awal. Program ini merupakan program gagasan dari  Ibu Hj. Ani Bambang Yudhoyono, yang merupakan bentuk dari keprihatinan beliau yang mendalam akan rendahnya tingkat pendidikan di Indonesia. Terutama untuk anak-anak usia dini. Ditambah lagi dengan melihat animo masyarakat yang begitu tinggi akan Program Mobil Pintar yang telah diprogramkan lebih dulu. Maka kemudian beliau juga mengembangkannya menjadi program-program turunan dalam bentuk Program Rumah Pintar dan Motor Pintar.

Rumah Pintar merupakan salah satu program pendidikan yang berada pada ranah pendidikan nonformal, diselenggarakan bagi warga masyarakat yang memerlukan layanan pendidikan. Keberadaan rumah pintar ini, berfungsi sebagai pengganti, penambah, dan/atau pelengkap pendidikan formal dalam rangka mendukung pendidikan sepanjang hayat.

Rumah pintar, sebagaimana pendidikan nonformal lainya berfungsi mengembangkan potensi peserta didik. Letak penekanannya pada penguasaan pengetahuan dan keterampilan fungsional. Serta pengembangan sikap dan kepribadian. Dalam upaya mengembangkan potensi peserta didik, perlu ditunjang dengan metode dan sarana pembelajaran yang baik, sesuai, menyenangkan dan pendekatan terpadu dengan didampingi tutor.

Metode adalah cara yang dalam fungsinya merupakan alat untuk mencapai tujuan kegiatan. Hildebrand mengemukakan bahwa: untuk mengembangkan kognisi anak dapat digunakan metode-metode yang dapat menggerakan anak agar menumbuhkan berfikir, menalar, mampu menarik kesimpulan dan membuat generalisasi. Caranya adalah dengan memahami lingkungan di sekitarnya; mengenal orang dan benda-benda yang ada; memahami tubuh dan perasaan mereka sendiri; melatih memahami untuk mengurus diri sendiri. Selain itu melatih anak menggunakan bahasa untuk berhubungan dengan orang lain dan melakukan apa yang dianggap benar berdasar nilai yang ada di masyarakat.

Metode Belajar Rumah Pintar

Tutor dalam mengembangkan kreativitas anak, bisa menggunakan metode. Metode yang dipilih yakni metode yang dapat menggerakkan anak untuk meningkatkan motivasi, rasa ingin tahu dan mengembangkan imajinasi. Dalam mengembangkan kreativitas anak, metode yang dikembangkan seharusnya mampu mendorong anak mencari dan menemukan jawabannya; membuat pertanyaan yang membantu memecahkan; memikirkan kembali, membangun kembali dan menemukan hubungan-hubungan baru.

Keberhasilan pendidikan tergantung pada bagaimana suasana dan proses pembelajaran yang dijalankan oleh guru/ tutor. Upaya mewujudkan suasana pembelajaran lebih ditekankan untuk menciptakan kondisi dan prakondisi  agar siswa mau belajar. Sedangkan proses pembelajaran lebih mengutamakan pada upaya bagaimana mencapai tujuan-tujuan pembelajaran atau kompetensi siswa. Dalam konteks pembelajaran yang dilakukan guru, ia dituntut untuk dapat mengelola pembelajaran (learning management). Mencakup perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian  pembelajaran. Di sini, guru lebih berperan sebagai agen pembelajaran.

Sama seperti dalam mewujudkan suasana pembelajaran, proses pembelajaran pun seyogyanya didesain agar peserta didik dapat secara aktif  mengembangkan segenap potensi yang dimilikinya. Mengedepankan pembelajaran yang berpusat pada siswa (student-centered) dalam bingkai model dan strategi pembelajaran aktif (active learning). Ditopang oleh peran guru sebagai fasilitator  belajar.

Oleh Wawan Ahmad Ridwan

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.