Pendidikan yang Membebaskan: Esensi Pendidikan yang Terlupakan

1 224

Pendidikan, sebagaimana dikonsepsikan Ki Hadjar Dewantara sesungguhnya belum terimplementasikan. Semua kalangan pasti pernah mendengar nama Ki Hadjar Dewantara. Meski tak hidup pada zamannya namun sedikitnya pasti mengetahui bahwa beliau adalah salah satu pelopor pendidikan di Indonesia. Pendidikan memerdekakan yang meletakkan dasar- dasar pendidikan bangsa untuk bertransformasi dari Negara terjajah menjadi merdeka. Pendidikan yang harusnya membebaskan, belum sepenuhnya terlaksana. Hal serupa tertuang dalam novel Filsafat Tapak Sabda, Margareth Mead pernah berkata tentang pendidikan, “Nenek ingin aku berpendidikan dan karenanya ia melarangku sekolah”. Rabindranath Tagore orang Asia pertama yang meraih penghargaan Nobel di bidang kesusastraan pada tahun 1924 juga berceramah di depan guru-guru. Ia berujar: “Sekolah adalah siksaan yang tak tertahankan”. Sekolah sejenis penjara bagi Tagore. Dalam novel The Home and The world yang juga terdapat dalam novel Tapak Sabda, Tagore berteriak, “Dunia tidak akan membosankan seperti ini seandainya tidak ada guru sekolah yang membuat kita muak”.

Menjadi sebuah renungan bersama saat membaca dan mencermati apa yang di tulis dalam novel Tapak Sabda mengenai masalah pendidikan. Hal demikian, menjadi boomerang bagi pendidikan di Indonesia. Pemikiran Romo YB. Mangunwijaya, seorang tokoh Imam Katolik yang berasal dari Yogyakarta, mencita- citakan bahwa pendidikan itu haruslah membebaskan, dalam artian tak ada paksaan kepada peserta didik yang membuatnya merasa tak nyaman. Keharmonisan antara pendidik dan peserta didik yang sekarang ini harus di tumbuhkan di lembaga- lembaga pendidikan. YB.Mangunwijaya mengatakan bahwa komitmen seorang guru, kesadaran menolong, penuh tanggung jawab, dan professional harus di kembalikan lagi kepada jiwa- jiwa seorang pendidik agar dapat mengembalikan proses pendidikan yang benar- benar untuk mewujudkan cita- cita bangsa.

Pendidikan merupakan proses transformasi nilai ilmu pengetahuan. Output proses pendidikan menjadikan peserta didik dapat memahami nilai- nilai yang ada dari ilmu pengetahuan yang di pelajari bersama dengan para pendidiknya. Nilai yang ada dalam ilmu pengetahuan ini akan menjadikannya teratur dalam menjalani hidup. Mereka akan menjadi manusia yang lebih bermanfa’at bagi nusa, bangsa, dan agama. Dalam pengembangannya manusia haruslah dapat membebaskan diri dari segala belenggu yang membayangi fikirannya. Karena sesungguhnya, tanpa kebebasan setiap peserta didik tidak mungkin dapat mengembangkan potensi dan kemampuannya untuk bangsa yang lebih baik.

Pendidikan merupakan upaya menjadikan manusia menjadi manusia (humanisasi). Sebagai khalifah Allah di bumi, manusia akan menjadi insan kamil yakni menjadi manusia seutuhnya berproses membangun atau mengadakan dirinya mendekati manusia ideal. Pendidikan akan mengantarkan manusia mewujudkan diri sesuai dengan martabat kemanusiaannya. Cita-cita para pendahulu bangsa yang menjadi ruh kita untuk menjaga dan mengembangkan pendidikan Indonesia. Begitulah kiranya pendahulu kita menitipkan generasi bangsa. Pendidikan di harapkan dapat mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia.

Para pendahulu kita menaruh harapan kepada dunia pendidikan, berharap menjadikan generasi bangsa yang bisa menjadikan bangsa ini terus berkembang sepanjang zaman. Namun tak bisa di pungkiri terdapat masalah- masalah yang menghalangi terrealisasinya harapan dimaksud. Ibu pertiwi sedang menangis merasakan bencana- bencana yang terjadi di nusantara. Tak hanya merasakan bencana saja, ibu pertiwi juga menangisi kelakuan tak pantas dari putra putrinya. Di mulai dengan berita yang menayangkan pelecehan guru kepada muridnya, penganiyayaan guru kepada murid, murid kepada murid, dan lain sebagainya.

Pendidikan semacam ini merupakan budaya pendidikan kolonial, dapat di artikan sebagai metode warisan kolonial belanda. Budaya- budaya kekerasan yang di lakukan di lembaga pendidikan, baik itu yang sifatnya sanksi, biasa dilakukan dulu oleh para penjajah. Hal demikian amat di kecam karena tidak mencerminkan pendidikan yang humanisasi. Ki Hajar Dewantara menggemborkan pendidikan yang memerdekakan/ membebaskan, mengigat bahwa pendidikan adalah sebuah proses terbinanya manusia menuju insan yang paripurna. Adanya beberapa bentuk kekerasan dalam pendidikan merupakan indikator bahwa pendidikan kita belum sepenuhnya mengimplementasikan ajaran yang di anjurkan oleh pelopor pendidikan nusantara.

Pendidikan pada masa Rasulullah memberikan suatu gambaran keberhasilan dalam suatu proses pendidikan. Usaha dan kegiatan yang dilakukan oleh para nabi dalam menyampaikan seruan dengan berdakwah, menyampaikan ajaran, memberi contoh, melatih keterampilan dalam menjalani kehidupan, memberi motivasi dan menciptakan lingkungan sosial yang mendukung ide-ide pembentukan pribadi muslim. Hal demikian yang dilakukan oleh Rasulullah dalam menyebarkan dakwahnya dan itu cara Rasulullah mendidik, sehingga orang-orang di sekitarnya yang menentang ajarannya luluh kemudian tunduk dan pasrah kepada Allah dan mengikuti ajaran- ajaran yang di anjurkan oleh Islam.

Metode pendidikan yang di kembangkan oleh Ki Hajar Dewntara berkaitan dengan apa yang di lakukan Rasulullah saat berdakwah. Hal ini memberikan sedikit gambaran tentang kaitan yang sangat erat antara islam dan pendidikan. Maka, kenapa tidak kita bangsa Indonesia yang mayoritas Islam mencoba menggalakkan metode yang di anjurkan oleh Islam. Dengan mengembalikan segala sesuatu kepada fitrahnya, bertanya kepada ahlinya, berfikir kebelakang membaca sejarahnya, memahami kembali pedoman yang di tetapkannya. Sesuai dengan apa yang di kehendaki oleh Islam, bahwa metode itu adalah metode yang lahir dari pendekatan Allah dalam proses penciptaan, pemeliharaan, dan pembinaan fitrah manusia.

Allah dan juga Rosulullah selalu saja mengutamakan keteladanan dan kebijaksanaan. Dalam penerapannya, metode yang di kehendaki Islam adalah metode pendidikan yang pada pelaksanaan peroses pendidikan itu benar-benar  atas nama Allah, berdasarkan kasih sayang, keadilan, dan rasa syukur.

Peserta didik merupakan  makhluk Tuhan yang sempurna. Fitrah setiap peserta didik harus dapat di pahami agar tidak ada kekeliruan pada saat menentukan metode. Pemahaman yang benar tentang fitrah, akan melahirkan pendekatan dan metode yang tidak memaksa. Fitrah ini yang akan membatasi guru dari sikap otoriter.***Iwan Ridwan Maulana

Bahan Bacaan:

Fauz Noor, Tapak Sabda, Yogyakarta: Lkis, 2004

Suteja, Pendidikan Berbasis Alqu’an, Cirebon: Pangger Press, 2012

Pendidikan dan Kebudayaan dalam Kompas, 17 Juni, 2014

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

  1. andriyani berkata

    pendidikan yang membebaskan adalah pendidikan yang merdeka, dimana dijabarkan oleh tokoh pendidikan di Indonesia yaitu Ki Hajar Dwantara yaitu bahwasannya Pendidikan memerdekakan yang meletakkan dasar- dasar pendidikan bangsa untuk bertransformasi dari Negara terjajah menjadi merdeka. Pendidikan yang harusnya membebaskan bukan dengan peraturan yang mengekang secarapenuh

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.