Tujuan Pendirian Pondok Pesantren

Ilustrasi Pondok Pesantren
0 2.858

Tujuan awal pendirian pondok pesantren untuk menyebarkan ajaran Islam  dan membentuk guru-guru/kyai-kyai yang akan meneruskan usaha transformasi keislaman di kalangan umat Islam yang dalam banyak kasus terus mengalami marginalisasi.

Mahmud Yunus mengilustrasi situasi seperti ini dengan cara yang lebih historis dalam memahami kelahiran pondok pesatren. Ia menyebut bahwa, pondok pesantren tumbuh sebagai perwujudan dari strategi umat Islam dalam mempertahankan eksistensinya terhadap pengaruh penjajahan Barat, khususnya Belanda dan Jepang yang membuat polarisasi dalam pelaksanaan pendidikan di Nusantara.

Berkenaan dengan pernyataan Mahmud Yunus ini perlu dijelaskan bahwa, kedatangan bangsa Barat di samping melakukan ekspansi kekuasaan juga melakukan upaya Kristenisasi. Salah satu bentuk dari upaya tersebut adalah adanya lembaga pendidikan yang dinamakan seminari yang didirikan pada abad XVI di Ternate.

Adapun kegiatan yang diselenggarakan seminari, menurut Abdurrahman Saleh, adalah melakukan proses pengajaran membaca, menulis dan berhitung. Tentu selain penyebaran agama Kristen itu sendiri. Seminari ini kemudian beralih kegiatannya menjadi missi murni agama Kristen yang selanjutnya menjadi pendidikan agama Kristen di Maluku dan tempat-tempat lain; baik ketika Nusantara masih dijajah maupun ketika Indonesia mengalami kemerdekaan. Lembaga pendidikan yang didasari oleh misi ini mendapat dukungan dan bantuan pemerintah.

Pesantren Membentuk Manusia Cinta Agama, Bangsa dan Negara

Memperhatikan tujuan pondok pesantren di atas, maka dapat disimpulkan bahwa lembaga pendidikan ini bercita-cita melahirkan masyarakat yang cinta agama, bangsa dan negara serta transformasi nilai-nilai dan ajaran keislaman. Ini pula, yang menyebabkan mengapa banyak orang Islam melakukan perlawanan terhadap penjajah dengan semangat jihad. Dan karena faktor itu pula, dalam perkembangan selanjutnya, fenomena semacam ini telah merangsang tokoh Persis A. Hassan, untuk menyemangati lahirnya Indonesia merdeka yang berbasis ajaran agama Islam, karena kebanyakan masyarakat Muslim yang melakukan upaya kemerdekaan.

Dari tujuan pendirian pondok pesantren yang demikian, maka tujuan pendirian dan pelaksanaan pendidikan di pesantren sesungguhnya jauh lebih komplit dibandingkan dengan tujuan pendidikan lainnya. Mungkin karena itu pula, mengapa lembaga pendidikan ini tetap eksis sampai sekarang ini. Tujuannya jauh lebih universal dibandingkan dengan tujuan pendidikan lainnya.

Dari paparan di atas dapat disebutkan bahwa Pondok Pesantren adalah lembaga penyiaran dan pengembangan ajaran agama Islam. Pondok pesantren tumbuh menjadi satu-satunya lembaga pendidikan keislaman dan sekaligus sebagai lembaga sosial dan kemasyarakatan Muslim satu-satunya. Karena itu, cukup beralsan jika disebutkan bahwa pesantren telah memberi warna keIslaman dan keindonesiaan yang khas pada konteks masyarakat Nusantara.

Perubahan Sistem Pendidikan dan Metode Pembelajaran Pesantren

Namun demikian, harus pula diakui bahwa dewasa ini pondok pesantren telah banyak mengalami perubahan dan perkembangan khususnya dalam sistem pendidikan dan metode pembelajarannya. Walau memang masih ada pondok pesantren yang tetap mempertahankan bentuk dan pola pendidikannya yang semula. Seiring dengan perkem-bangan masyarakat, maka pesantren memperluas tujuan awalnya pada orientasi tujuan yang lebih universal dalam kerangka mempertegas peran dan fungsi pesantren dalam realitas kehidupan. Sehingga pondok pesantren hari ini, telah mengeksiskan dirinya dalam formulasi yang lebih berorientasi pada pemenuhan kebutuhan masyarakat dan antisipasi terhadap tantangan yang ada di masyarakat.

Karel A. Steenbrink, menjelaskan bahwa pada permulaan abad ke-20 terjadi beberapa perubahan dalam pendidikan Islam di Indonesia yang dalam garis besarnya dapat digambarkan sebagai kebangkitan, pembaharuan bahkan pencerahan (renaissance). Perubahan ini berbeda sifat awalnya serta tidak selamanya saling berhubungan secara harmonis dan dinamis.

Faktor- Faktor Lahirnya Perubahan Pendidikan Islam

Adapun faktor yang mendorong lahirnya perubahan atau pembaharuan ini, menurutnya adalah sebagai berikut:

  1. Mulai tahun 1908 muncul berbagai keinginan di antara umat Islam. Yakni kembali kepada al-Qur’an dan Hadits yang dijadikan dasar untuk menilai kebiasaan agama dan kebudayaan yang ada. Kondisi ini juga memungkinkan lahirnya suatu gagasan untuk meninggalkan konsep taqlid.
  2. Adanya kecenderungan muncul sifat-sifat nasionalisme di kalangan umat Islam dan bangsa Indonesia pada umumnya, sehingga dimungkinkan umat Islam mencari berbagai solusi untuk menentang penjajahan.
  3. Ada usaha yang cukup kuat pada sebagian umat Islam untuk meningkatkan ekonomi, sosial dan kebudayaan.
  4. Dorongan keempat ini berasal dari pembaharuan dalam pendidikan Islam, karena cukup banyak organisasi Islam dan umat Islamnya itu sendiri yang tidak puas dengan sistem dan metode di lembaga pendidikan Islam klasik atau tradisional yang kita namai Pondok Pesantren.

Keempat faktor ini, menurut Karel A. Stenbring, berpengaruh terhadap kondisi pendidikan Islam di Indonesia. Beberapa statement Karel tadi, secara tidak langsung menunjukkan adanya kesamaan dengan munculnya gerakan Muhammadiyah, yang mencoba memberi alternatif pilihan pada bentuk dan metode pendidikan agama Islam. Amir Hamzah menilai bahwa melalui Ahmad Dahlan, Muhammadiyah menerapkan sistem dan metode pendidikan Islam yang jauh berbeda dengan sistem pendidikan Islam klasik atau pondok pesantren.

Di kalangan pembaharu Muslim awal di Indonesia, model pendidikan pesantren dituntut dilakukan pembaruan. Ahmad Dahlan misalnya, menolak pendidikan Islam yang berkembang pada waktu itu, karena menurut Ahmad Dahlan pendidikan Islam klasik itu, terlalu konservatif dan tidak sesuai dengan kebutuhan perkembangan umat manusia yang menunut dinamika jaman yang terus berkembang.

Kolaborasi Pendidikan Klasik dan Sekuler

Namun demikian, asumsi Hamzah tadi ternyata ditolak Ahmad Dahlan. Sebab menurut Dahlan, jika asumsi tadi dibenarkan, seolah-olah Dahlan mengikuti pendidikan produk Barat. Padahal dirinya termasuk orang yang  menolak lembaga pendidikan ynag diberlakukan penjajah, karena pendidikan yang diperlakukan oleh penjajah terlalu sekuler. Tidak mengajarkan pendidikan agama Islam, sedikitpun, bahkan kecenderungan menghapusnya.

Penulis melihat bahwa, kalaupun mau disebut, Ahmad Dahlan mencoba mengkomparasikan bentuk pendidikan agama Islam klasik, dengan bentuk pendidikan sekolah sekuler yang diajarkan Belanda. Baik yang menyangkut materi, maupun metode serta seluruh komponen yang dibutuhkan dalam menyampaikan pengajaran pendidikan agama Islam.

Kerangka ini menuntut pada kesimpulan sementara dari kenyataan ini. Bahwa Ahmad Dahlan yang pertama kali memperkenalkan bentuk pendidikan Islam yang berlaku dilembaga pendidikan sekolah (modern). Dengan menampilkan seluruh komponen yang ada dalam lembaga pendidikan sekolah yang diberlakukan di lembaga pendidikan sekolah umum.***H. Edeng Z.A

Bahan Bacaan

Mahmud Yunus, Sejarah Pendiikan Islam di Indonesia, Jakarta: Hida Karya Agung, 1982.

Adurrahman Wahid, Bunga Rampai Pesantren, Cetakan Pertama, Jakarta: Darma Bhakti, 1399 Hijriyahlm.

Abdurrahman Saleh, Teori-teori Pendidikan Berdasarkan Al-Qur’an, Jakarta: Rineka Cipta, 1994.

A. Hassan. Islam dan Kebangsaan Bangil: Lajnah Penerbitan Persis, 1984.

A. Hassan. ABC Politik. Surabaya: Toko Timur, 1948.

Karl A. Stenbrink. Pesantren, Pesantren dan Sekolah, Cetakan Pertama, Jakarta: Logos, 2004.

Koentjaraningrat. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Aksara Baru, 1980

Amir Hamzah, Pembangunan Pendidikan dan Pengajaran Islam, Cetakan Pertama, Jakarta: Mulia Offset,tt.

Komentar
Memuat...