Pengantar tentang Teori Nilai dan Etika | Teori Nilai Part -1

Pengantar tentang Teori Nilai dan Etika | Teori Nilai Part -1
8 1.085

Teori Nilai dan Etika. Telah kuciptakan dia supaya ruhaninya memasuki jasmaniyahnya. Kini sifat jasmaniyah itu telah memasuki hingga ke dalam ruhnya. Itulah ungkapan tokoh ilmuan moralis Bossuet yang dikutif Julien Benda. Ia gelisah menyaksikan ilmuan yang tidak memasukan unsur moral dalam pengetahuan yang dikembangkannya. Padahal moral atau ttika dianggap sebagai salah satu unsur penting yang terdapat dalam teori nilai.

Teori nilai terdiri dari dua suku kata, yakni teori dan nilai. Kalimat ini merupakan terjemahan dari bahasa Yunani, logos (akal dan teori) dan aksios (nilai, atau suatu yang berharga). Karena itu dalam filsafat ilmu, teori nilai dikenal dengan sebutan axiology. Axiology merupakan bagian dari tiga cabang besar Filsafat Ilmu, yakni: ontologi, epistemologi dan aksiologi. Aksiologi sering disebut sebagai ilmu yang melakukan penyelidikan mengenai kodrat, kriteria dan status metafisik dari sesuatu yang disebut nilai.

Nilai disebut aksiologi karena cabang filsafat ini menyelidiki hakikat nilai ditinjau dari sudut pandang kefilsafatan. Louis O. Kattsoff (1986: 325) menyebut beberapa cabang pengetahuan yang terkait dengan masalah nilai, atau setidaknya berkeperluan terhadap nilai. Nilai dimaksud seperti ekonomi, estetika, filsafat agama dan epistemologi kebenaran.

Bidang-bidang ini, menurut Kattsoff mesti dibingkai dalam kaidah nilai. Sebab betapapun tingginya capaian fisik yang dihasilkan dari basis keilmuan di atas, ia tetap akan kehilangan nilai substantifnya, tanpa nilai yang mengidealisir sistem bangunannya.

Dialektika Nilai

Nilai etik selalu menjadi dialektika sejak jaman Yunani Kuna. Ambil contoh misalnya, dialektika yang terjadi antara Aristoteles dengan gurunya Plato. Dialektika itu bahkan terjadi sampai abad ke 21 sekarang ini. Persoalan nilai tetap menjadi persoalan unik sekaligus menarik. Dialektika atas penting dan tidaknya nilai dalam hidup, termasuk dalam bingkai ilmu pengetahuan, selalu menjadi wacana yang perbincangannya telah menghabiskan jutaan seminar dan ribuan daerah tempat di mana seminar itu dilaksanakan.

Belum kalau dihitung berapa uang yang dihabiskan untuk membiayai acara-acara dimaksud. Hasilnya tetap sama. Nilai diakui ada, tetapi selalu berbeda dalam konteks di mana nilai itu haras ditempatkan. Dialektika itu, nyaris belum pernah bergeser. Antara keyakinan bahwa nilai itu penting diterapkan, dan bahwa ilmu itu bebas nilai karena ilmu telah membawa nilainya sendiri dan terbebas dari nilai dogmatis dan agamis, sampai sekarang belum dapat diselesaikan dengan dengan tuntas.

Kritik di meja seminar yang berwibawa, juga belum mampu mengubah peta. Hasilnya selalu sama. Nilai diperdebatkan. Di kalangan ahli susastra dunia, seperti Rabindranat Tagore (India), Iqbal (Pakistan) dan novel-novel Dan Brown (Barat), meski diakui pentingnya nilai, tetapi fakta di lapangan, nilai etik belum eksis khususnya dalam praksis ilmu.

Nalar Analitis atas Nilai

Asumsi di atas mengisyaratkan bahwa persoalan nilai dikaji dalam kajian filsafat, tampaknya sampai saat ini masih menjadi perdebatan yang tetap sulit dipertemukan. Meski sekaligus, selalu menarik didiskusikan. Sekelompok ilmuan ada yang menganggap bahwa filsafat dan ilmu bebas nilai (value free). Nilai dianggap tidak memadai untuk menjadi objek ilmu.

Alasannya, nilai sulit untuk diobservasi dan diujicobakan melalui eksperimen. Padahal ilmu mensyaratkan berlakunya prinsip generalisasi. Di sisi lain, ada juga ilmuan yang menganggap bahwa ilmu terikat nilai (value bound). Sebab jika filsafat dan ilmu tidak dibingkai nilai, maka hasil perenungan kefilsafatan dan hasil kajian keilmuan akan bergerak ke arah yang membahayakan.

Kelompok terakhir ini, bahkan ada yang menyebut nilai sebagai ruhnya ilmu. Ilmu tanpa nilai dengan demikian diibaratkan seperti tubuh tanpa ruh (mati) yang berarti tidak berguna. Namun demikian, kita dituntut jujur untuk menyabut bahwa capaian peradaban yang dihasilkan dwi tunggal ilmu pengetahuan teknologi, yang sebut saja tanpa nilai, temyata cukup mencengangkan umat manusia. Manusia telah berhasil membalikkan takdir butanya pada sikap mental menundukkan berbagai gejala alamiah.

Manusia modem, dalam konteks tertentu bahkan dapat difahaini telah berhasil mengembalikan citranya sebagai khalifah yang bertugas menundukkan alam dengan berbagai gejala yang terjadi padanya. Archi J. Bahm (1980:12-34) dapat disebut sebagai salah satu figur kunci ilmuan modem yang menghendaki adanya nilai dalam ilmu pengetahuan. Sebuah buku dengan judul What is “Science” yang ditulis pada tahun 1980-an, menjadi bukti nyata atas kegelisahan tokoh dan ilmuan Barat terhadap perkembangan ilmu.

Barat yang Bebas Nilai

Archi J. Bahm (1980) menghendaki adanya pengakuan pentingnya nilai bagi ilmu. Ia menolak hipotesis sebagian ilmuan yang menyatakan bahwa dampak negatif dari perkembangan ilmu pengetahuan diakibatkan karena terlalu banyaknya ilmu dan teknologi yang dikembaiigkan. Menurutnya akan cukup krusial dalam tatanan keilmuan moderen jika paradigma pengetahuannya sama sekali bebas nilai.

Sebab masalah yang sejati atas runyamnya perkembangan ilmu barat modern justru lebih disebabkan karena ilmu dan teknologi tidak dilengkapi aksiologi, etika, religiusitas dan sosiologi. Ilmu telah ditempatkan seolah sama sekali bebas nilai yang akhirnya sulit dikendalikan. Tokoh semacam Bahm, belakangan sudah mulai banyak. Rabindranat Tagore (India) melalui karya sastranya telah menunjukkan dengan seksama betapa ilmu yang dikonstruk Barat yang tanpa nilai berpengamh besar terhadap runtuhnya tatanan sistem kemasyarakatan.

Banyak kondisi yang chnotict akibat basis keilmuan yang lahir tanpa nilai. Gejala alam yang unpredictable dan mengagetkan umat manusia belakangan ini, atau hilangnya kerukunan antar sesama manusia dianggap Tagore karena hilangnya ruh niai dalam prinsip keilmuan yang dikonstruk manusia moderen. Semua itu terjadi karena ilmu telah membebaskan diri dari sesuatu yang disebut nilai.

Manusia moderen, dengan congkak dan sombong, dengan berlandas pada kuatnya capaian pengetahuan, telah menempatkan kehidupan dunia sekarang ini, seolah menjadi akhir sejarah perjalanan manusia (the end of history). Manusia yang hidup dengan basis modernitas yang tanpa dan hampa nilai, akan menganggap kehidupan ini sebagai tindakan bebas. Seolah manusia menjadi generasi akhir yang tidak ada generasi lain selain dirinya. Manusia moderen, tumbuh menjadi kelompok egois yang sama sekali tidak meninggalkan budi baik kepada anak cucu serta species lain yang hidup setelah kehidupan mereka sekarang.

Praksis Nilai di Indonesia

Di Indonesia yang masyarakatnya mayoritas Muslim, soal nilai dalam ilmu telah menjadi kajian penting. Kajian ini telah mengisi ruang publik yang telah lama kosong. Sebut saja tokoh semacam Kuntowijoyo (UGM), Noeng Muhdjir (UNY), Herman Soewandi (UNPAD), Achmad Tafsir dan Nurwadjah Achmad EQ (UIN Bandung), dan Achmad Sanusi serta Djawad Dahlan (UPI) Bandung. Dalam dua dekade terakhir ini, mereka begitu concern dan banyak menyoroti soal pentingnya nilai dalam basis ilmu pengetahuan. Mereka rata-rata gelisah menyaksikan dinamika ilmu yang bebas nilai berkembang di berbagai ranah kehidupan manusia.

Menurut mereka, berbagai kerancuan dalam sistem hidup sekarang ini, diakibatkan karena hilangnya nilai (dalam makna sempit ruh ketuhanan) dalam basis keilmuan. Basis pengetahuan yang bebas nilai ini disayangkan sangat kuat mempengaruhi corak budaya masyarakat. Hilangnya nilai dalam basis keilmuan akan menciptakan tatanan hidup masyarakat yang tidak bertanggungjawab. Pertanggung jawaban manusia menjadi sangat verbal dan jauh dari substansi kajian kemanusiaan.

Kajian tentang nilai dalam ilmu, memang bukan temuan baru dalam filsafat. Upaya memasukkan unsur nilai dalam ilmu sebenamya telah ada sejak jaman Socrates yang terpikat akan rdlai- nilai, keindahan, keadilan, kebaikan dan kesucian. Socrates mengatakan, “kenalilah diri sendiri”. Dalam bahasa Islam melalui Hadits Qudsi disebutkan bahwa mengetahui diri adalah jalan mengetahui Tuhan. Melalui pengenalan terhadap diri sendiri, dianggap akan merembes ke berbagai persoalan yang dipelajari. Mengenal diri sendiri berarti mengenal dunia tempat manusia hidup, mengetahui cara memperoleh pengetahuan dan ia pun mengerti tentang apa yang dinamakan hidup dan jiwa.

Nilai dalam Ilmu

Corak berpikir Socrates semacam itu, mendorong para ilmuan lain untuk menyebut bahwa Socrates adalah sosok filosof yang sangat peduli terhadap persoalan kesusilaan dan sering pula ia disebut sebagai Nabi. Penyebutan sosoknya yang demikian, diperkirakan karena pemikirannya selain sangat filosofik, juga tertuang gagasan yang mendorong tampilnya ketertiban sosial menurut tata aturan dan sistem nilai yang substantive yang berasal dari wujud substansial-ruhaniyah. Dalam bahasa Islam wujud subtantif itu, disebut Allah.

Namun demikian, menurut Risieri Frondizi (1963), upaya sistematisasi nilai bagi ilmu pengetahuan, baru menemukan efistemnya di pertengahan a bad ke-17. Pemikiran soal pentingnya nilai ini, mulai tereduksi menjadi ilmu ketika Prancis Bacon menyarankan agar* ilmu ditunjukan untuk memperbaiki nasib umat manusia di muka bumi. Bukan sebaliknya. Ilmu dan anak turunnya bernama teknologi malah meruntuhkan sendi-sendi kehidupan umat manusia.

Konsep ini kemudian dimatangkan ketika para ilmuan demikian terkejut menyaksikan hancurnya kota Hirosima dan Nagasaki Jepang yang dibom Atom oleh Sekutu (1945). Sesaat setelah dua kota Jepang itu runtuh, para ilmuan kemudian mempertanyakan, apakah pengeboman bom atom tersebutbersifat susila? Apakah pengguanaan bom atom yang demikian dahsyat itu dapat dibenarkan?

Albert Einstein yang sering disebut sebagai tokoh pen ting dalam merumuskan rekomendasi pembuatan bom atom sendiri kepada Presiden Rosevelt, dikabarkan meninggalkan Amerika dan hidup dengan cara menyepi di Kota Kecil Inggiis dan kembali taat menjalankan agamanya (Yahudi) setelah ia menyaksikan hancurnya dua kota di Jepang tadi. Kondisi demikian lebih diperparah dengan merebaknya pencemaran lingkungan di mega- mega politan dan eksploitasi berlebihan terhadap sumber daya alam. Dalam kondisi yang demikian, para ilmuan kemudian menaruh simpati yang teramat kuat akan pentingnya etika ilmu pengetahuan yang dalam beberapa hal dapat disebut sebagai pentingnya nilai bagi ilmu dan menganggap ilmu yang selama ini berkembang berjalan di atas prinsip-prinsip sekular yang bebas pertaliannya dengan irnsur nilai.

Ilmu yang Bebas Nilai

Sejak ilmu membebaskan diri dari nilai, ilmuan terus bergulat dan memperdebatkan pentingnya aksiologi dalam ilmu pengetahuan. Tujuannya jelas. Yakni untuk memberi nilai terhadap sains dan seni yang dihasilkan manusia. Konsep ilmu untuk ilmu, kemudian dipertanyakan ulang. Sebab pengembangan ilmu dan seni semestinya bergerak menuju upaya peningkatan kesejahteraan manusia. Bukan sebaliknya.

Konsep Galileo Galilei dan Nicholas Covernicus yang menyebut ilmu untuk ilmu akibat kegagalan Gereja mendefinisikan dirinya dalam hubungan dengan ilmu, atau lukisan Monalisa yang demikian seksi yang dibuat Leonardo Da Vinci sebagai bentuk perlawanan dunia seni terhadap kungkungan Gereja, harus segera dianggap usang. Atau serendahnya ilmuan dituntut berani melakukan meta evaluasi terhadap gagasan semacam itu.

Sangat mungkin gagasan Galileo Galilei dan Covernicus sebagai transvaluasi nilai sebagaimana telah diperagakan August Comte yang menyebut bahwa Tuhan Mati. Bagi saya, keringnya nilai dalam bingkai ilmu akan berakibat pada runtuhnya ruh ilmu pengetahuan. Dan ini, akan sangat mengancam eksistensi manusia itu sendiri. ** Prof. Dr. H. Cecep Sumarna

  1. Nurfika berkata

    membicarakan nilai dan etika memang tidak dapat dipisahkan. sebab nilai etika adalah nilai yang mempersoalkan bagaimana semestinya manusia bertindak dengan mempertimbangkan tentang baik dan buruk suatu tingkah laku manusia. sedangkan nilai estetika adalah nilai yang membahas tentang indah atau tidaknya sesuatu. oleh karenanya sangat penting mempelajari tentang nilai dan etika Ilmu tentang apa yang baik dan yang buruk, sebagai pedoman tentang hak dan kewajiban moral baik itu dalam kehidupan sehari-hari dalam keluarga maupun dalam lingkup bermasyarakat bahkan dalam berprofesi sekalipun.

  2. siti nurkhamidah
    siti nurkhamidah berkata

    Nilai sendiri sebagai pedoman pendorong,.tingkah laku manusia dalam hidup. Prinsip umum tingkah laku abstrak pada anggota2 kelompok. Modal dasar dalam etika adalah perilaku, sedang perilaku manusia dipengaruhi oleh pikiran dan hati (perasaan) maka nilai dan etika itu berkaitan sebab tindakan baik / buruknya manusia dalam menggapai kebahagiaan di nilai daai tingkah laku manusia sendiri dalam kehidupan nya.

  3. Nidyanitania berkata

    etika adalah cabang filsafat yang mambahas tentang nilai dan norma pada kehidupan manusia yang menentukan atau yang dianggap baik ataupun buruk. saya juga setuju dengan pendapat yang menyatakan bahwa etika adalah salah satu unsur penting yang terdapat dalam teori nilai. etika dengan nilai pada dasarnya sesuatu yang tidak dapat dipisahkan karena didalam etika terdapat nilai-nilai yang objektif.
    Nidya nitania
    1415104077
    Tadris IPS C
    semester 3

  4. ryan darmawan berkata

    Etika adalah cabang aksiologi yang banyak membahas tentang nilai baik dan buruk. Etika dapat menjadi ilmu bila kemungkinan etis (asas-asas dan nilai-nilai tentang yang dianggap baik atau buruk) yang begitu saja diterima dalam suatu masyarakat. Etika dalam konteks ini sering disamakan dengan filsafat moral.
    Tadris Ips C
    Semester 3

  5. Nuvi Dianasari berkata

    Etika berbeda dengan akhlak dan moral. Etika adalah kemampuan orang untuk memilih moral/akhlak tertentu. Dalam bahasa lain etika itu ilnu tentang pergaulan mengatur untuk bergaul benar dan bertindak benar.

  6. kiki berkata

    Etika adalah salah satu unsur penting yang terdapat dalam teori nilai. Dalam kehidupan sehari-hari pun, etika merupakan hal yang sangat erat kaitannya dalam unsur kehidupan sehari-hari. Nilai merupakan hal yang sangat penting yang tercipta dari hasil sebuah ‘etika’. Dan nilai sendiri sangat erat kaitannya dengan sudut pandang pribadi akan sesuatu. Nilai bagi masing-masing individu akan berbeda dengan individu lainnya. Namun, itu bukanlah sebuah persoalan. Dengan beragamnya nilai yang tercipta, makin terbuka dan makin bertambah lah cara pandang serta wawasan kita akan sesuatu.

  7. Aldi Nurcahya berkata

    Saya setuju dengan pendapat diatas yang mengatakan bahwa “…..nilai sebagai ruhnya ilmu. Ilmu tanpa nilai dengan demikian diibaratkan seperti tubuh tanpa ruh (mati) yang berarti tidak berguna”. Menurut pandangan saya, nilai sebagai benteng yang membatasi gerak dan tingkah manusia yang memiliki ilmu, bisa juga nilai sebagai the control of science agar tidak terjadi kebebasan yang dapat merusak ilmu pengetahuan itu sendiri.

  8. Hendri setiawan berkata

    Nilai itu bersifat objektif, tapi kadang-kadang bersifat subjektif. Dikatakan objektif jika nilai-nilai tidak tergantung pada subjek atau kesadaran yang menilai. Tolak ukur suatu gagasan berada pada objeknya, bukan pada subjek yang melakukan penilaian. Kebenaran tidak tergantung pada kebenaran pada pendapat individu melainkan pada objektivitas fakta. Sebaliknya, nilai menjadi subjektif, apabila subjek berperan dalam memberi penilaian; kesadaran manusia menjadi tolak ukur penilaian. Dengan demikian nilai subjektif selalu memperhatikan berbagai pandangan yang dimiliki akal budi manusia, seperti perasaan yang akan mengasah kepada suka atau tidak suka, senang atau tidak senang.
    Bagaimana dengan objektivitas ilmu? Sudah menjadi ketentuan umum dan diterima oleh berbagai kalangan bahwa ilmu harus bersifat objektif. Salah satu faktor yang membedakan antara peryataan ilmiah dengan anggapan umum ialah terletak pada objektifitasnya. Seorang ilmuan harus melihat realitas empiris dengan mengesampingkan kesadaran yang bersifat idiologis, agama dan budaya. Seorang ilmuan haruslah bebas dalam menentukan topik penelitiannya, bebas melakukan eksperimen-eksperimen. Ketika seorang ilmuan bekerja dia hanya tertuju kepada proses kerja ilmiah dan tujuannya agar penelitiannya berhasil dengan baik. Nilai objektif hanya menjadi tujuan utamanya, dia tidak mau terikat pada nilai subjektif

    Hendri Setiawan
    1415104041
    Tadris IPS-b
    Semester 3

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.