Inspirasi Tanpa Batas

Pengaruh Sikap Intoleransi Terhadap Aspek Sosial Generasi Z

0 19

Konten Sponsor

Generasi Z merupakan generasi yang menghargai keberagaman. Namun, meskipun mereka memiliki karakteristik demikian, generasi Z tetap terpengaruhi oleh bibit intoleransi. Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta melakukan identifikasi bibit intoleransi dari sikap keberagamaan Gen Z melalui survey nasional. Survey tersebut dilakukan di sekolah dan universitas. Megambil presepsi siswa, mahasiswa, guru dan dosen terhadap PAI, persoalan toleransi di Indonesia, dan hubungan antara Negara dan agama. Jumlah sample yang diambil ialah sebanyak 2.181 orang, terdiri dari 1.522 siswa, 337 mahasiswa, dan 264 guru di 34 provinsi di Indonesia.

Survei PPIM menunjukan 48,95% siswa dan mahasiswa merasa bahwa pendidikan agama memiliki peran dan pengaruh besar untuk mereka agar tidak bergaul dengan pemeluk agama lain. Ini adalah hasil survey untuk presepsi mengenai PAI. Alih-alih yang seharusnya berperan sebagai media belajar menghargai perbedaan, pendidikan agama seakan-akan berpotensi membuat siswa harus menjauhi mereka yang berbeda agama. Hasil survey ini sangat mengkhawatirkan. Sepanjang tahun 2016 tercatat 208 peristiwa pelanggaran kebebasan beragama atau berkeyakinan di Indonesia, menurut laporan Setara Institute.

Sebagai generasi masa depan, lebih baiknya Gen Z dibekali pendidikan yang menyadarkan mereka akan buruknya sikap diskriminasi. Menurut PPIM, pembelajaran PAI harus memperkuat civic values yaitu kebebasan, persamaan, keadilan, toleransi dan persatuan yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

Menurut salah satu Gen Z yang bernama Alif (21 th) asal Aceh yang merantau untuk kuliah di UI menyatakan bahwa PAI yang ia ikuti di SMA tak banyak membantu dalam memahami isu-isu sosial keberagamaan. “Pelajaran yang paling banyak diambil oleh saya dari PAI ialah berupa cara doa, cara solat dan ibadah lainnya. Sedangkan pelajaran agama yang melibatkan kehidupan sosial dan dapat diterapkan dalam kehidupan sosial sangat sedikit sekali. Tidak ada pembahasan mengenai agama lain. Seperti, pelajaran apa yang dapat kita ambil dari kelompok agama lain” ujar Alif kepada Tirto dikutip Inten Cahya (26/11).

Mengenai materi tata cara shalat, puasa, berdo’a dan wudhu memang sangat diperlukan sebagai ritual ibadah dan kurikulum PAI. Namun PAI juga dapat dikembangkan sebagai jalan bagi siswa dan mahasiswa untuk mempelajari Islam secara luas agar hidup secara damai dalam perbedaan.

Problem mengenai PAI di institusi pendidikan bukanlah satu-satunya. Pengetahuan Gen Z terhadap akses internet juga memuka akses pandangan intoleransi yang menyempitkan pentingnya nilai keberagaman. Lebih dari separuh siswa dan mahasiswa mendapatkan pengetahuan mengenai agama melalui internet. Seperti blog, google maupun situs berita lainnya, menurut survey PPIM. Sehingga ilmu yang mereka dapatkan dapat ditelan mentah-mentah tanpa adanya bimbingan secara langsung dari orangtua atau tokoh agama.

Dari hasil survey yang lain, ditemukan presepsi negative dari siswa/mahasiswa dan guru/dosen. Salah satunya anggapan terhadap aliran minoritas seperti Ahmadiyah dan Syiah. Sebanyak 30,99% siswa dan mahasiswa menyebut bahwa Syiah ada dalam urutan pertama sebagai kelompok yang ditentang. Sedangkan 64,66% guru dan dosen menyatakan bahwa Ahmadiyah yang berada di urutan pertama.

Untuk memahami gejala intoleransi ini, pernyataan kelompok minoritas Gen Z perlu untuk kita ketahui. Derril, Gen Z (19th) kuliah jurusan Ilmu Ekonomi UI, menceritakan pengalamannya sebagai korban dari intoleransi teman-temannya. “Jadi kalo saya lagi baik-baik aja sama dia, ya enggak ada masalah, tapi sekalinya kita berantem atau adu mulut, dia langsung bawa-bawa fakta kalau saya orang Cina. ‘Dasar Cina’ gitu” jelas Derril kepada Tirto dikutip penulis (26/11).

Kejadian yang dialami Derril banyak ditemukan di kehidupan sehari-hari. Apalagi dikalangan Generasi Z. Dari kejadian Derril pun dapat dilihat bahwa terjadinya intoleransi bukan hanya karena beda agama, tetapi juga perbedaan ras, etnic ataupun suku.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar