Pengemis Harusnya bukan Profesi | Sebuah Kritikan untuk Cirebon

1 33

Berbicara tentang Cirebon dengan hiruk pikuknya tidak akan lepas dari proses pembangunan yang saat ini semakin pesat perkembangannya. Hampir di setiap tahunnya, lahan yang tadinya kosong telah disulap menjadi gedung-gedung bertingkat dan mewah.  Kota cirebon kini dengan segala fasilitas yang hampir menyaingi kota-kota besar di Indonesia. Semakin berkembangnya kota Cirebon dari segi pembangunan yang luar biasa, Namun ada saja hal yang menurut  penulis tidak selaras dengan pemandangan yang sering kita lihat. Pengemis misalnya, yang seolah-olah kini menjadi profesi bagi sebagian masyarakat. Diberbagai tempat dan berbagai sudut kota Cirebon sudah tak asing lagi dengan pengemis.

Cirebon yang terkenal objek wisata religiusnya, yang sering dikunjungi wisatawan lokal untuk berjiarah kini menjadi lahan para pengemis untuk mencari nafkah dan menjalankan profesinya. Tak hanya itu, setiap sudut lampu merah, terminal, pusat perbelanjaan bahkan kampuspun kini menjadi lapak mereka. Pemandangan seperti ini tentu sangat mengganggu keindahan dan ketertiban dari kota Cirebon. Kurangnya kreatifitas, kerja keras, tak punya kemampuan dan tanggungan hidup menjadi alasan klasik para pengemis. Pengemis saat ini tak hanya datang dari kalangan bawah. Namun, penghasilan yang dapat dibilang lumayan membuat sebagian orang dari kalangan menengahpun lebih tertarik untuk mengemis. Berbicara kinerja pemerintah terhadap penanggulangan gepeng di kota Cirebon harusnya lebih ditegaskan lagi. Peraturan yang kurang tegas dan tidak adanya penanganan dari pemerintah membuat pengemis dikota Corebon semakin merajalela. Hal ini tentu membuat citra buruk untuk kota Cirebon sendiri. Mengkritis kinerja pemerintah memang tak akan ada habisnya.

Membiasakan Untuk Tidak Memberi

Oleh karena itu, sebagai masyarakat kota Cirebon harus ikut andil terhadap penegakan peraturan di kota Cirebon juga melakukan penanganan sekecil apapun itu untuk hal yang positif. Pertanyaannya sebagai masyarakat biasa, apa yang bisa dilakukan untuk kasus pengemis ini?. Sederhana tentu saja, bukan berarti kita sebagai masyarakat tidak mempunyai kepedulian terhadap sesama dengan tidak memberikan beberapa rupiah untuk pengemis. Akan tetapi membiasakan untuk tidak memberi apapun kepada peminta-minta merupakan salah satu upaya untuk mengurangi banyaknya pengemis berkeliaran. Kebutuhan yang mendesak, akhirnya memaksa mereka untuk bekerja dan karena profesi pengemis tak menjanjikan lagi mereka harus mencari pekerjaan yang lain untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Jadi, pada intinya adalah permasalahan apapun harus dicari solusi pemecahannya yang kemudian didukung oleh komponen-komponen lainnya.

Sebagai masyarakat biasanya kita hanya mampu mengkritik tanpa ada tindakan Pemerintah sebagai pembuat kebijakan dan masyarakat sebagai pelaksana harusnya saling mendukung. Tak hanya sekedar mengkritik dan menyimpulkan permasalahan yang akhirnya hanya memperpanjang masalah tanpa ada solusi dan saling menyalahkan atar pemerintah dan masyarakat. ***Yayu H Aspandi

  1. Muhamad Farhan berkata

    Assalamu’alaikum.. iyah mengenai masalah “Pengemis Itu Bukan Profesi”
    sebelumnya saya mau bertanya apa itu profesi?
    kenapa bisa pengemis itu dikatakan bukan profesi?
    apa perbedaannya antara profesi pengemis dengan profesi yang lain? dan
    Bagaimana Cara/upaya yang dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat?
    sedangkan Bagaimana cara merubah menseeg (pola pikir) para pengemis itu?

    terimaksh..
    wassalamu’alaikum….

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.