Pengenalan Kearifan Lokal pada Anak-anak

0 182

LINGKUNGAN keluarga dan sekitarnya merupakan awal pengenalan pendidikan pada anak-anak dalam usia dini. Mereka mulai belajar berbicara, bermain, menggambar, bermusik dan menulis sesuai dengan naluri dan bakat alamnya. Di sini kearifan lokal menjadi penting, karena anak dikenalkan dengan lingkungan apa adanya.

Keberagaman suku, tradisi dan lingkungan, terutama pada daerah urban (perkotaan) merupakan kearifan lokal yang secara tidak sadar dipahami anak-anak sebagai arena pergaulan. Demikian pula dalam komunikasi berbahasa daerah, seperti Jawa, Cirebon, Sunda, Padang dan sebagainya membangunn rasa empati anak untuk memahami dan menghormati keberadaan masing-masing.

Permainan tradisional anak-anak, seperti gobag sodor, engklek, rakumpet, humpimpah dan sebagainya sudah sangat jarang dilakukan anak-anak. Mereka, anak-anak kita, lebih suka bermain tembak-tembakan dengan senapan mainan modern. Mereka juga kurang belajar secara kreatif dalam membentuk keterampilan, seperti yang dilakukan anak-anak pada masa lalu, seperti membuat senapan dari pelepah pisang, kereta-keretaan dari kulit jeruk Bali atau bermain kapal terbang dari kertas yang dilipat.

Komik dan Kearifan Lokal

Pada sekira tahun 1960an terbit sebuah komik pendidikan berjudul “Taman Firdaus”. Doa tokoh hitam putih dalam kisah tersebut, yaitu Saleh dan Karma. Sesuai namanya Saleh, maka ia pun belajar kesalihan yang ada di sekitarnya. Seperti kreatif dalam membuat alat-alat bermain yang ada di lingkungannya. Saleh pun digambarkan sebagai sosok penyayang binatang, hormat kepada orang tua dan memiliki tingkat pendidikan menengah yang lumayan – saat itu setara SMEA (Sekolah Memengah Ekonomi Atas).

Setelah lulus SMEA ia dengan segala kreativitasnya membangun usaha sendiri dan memiliki sebuah toko kelontong yang lumayan besar. Saleh bisa hidup mandiri dengan menekuni usahanya, di samping ia pun hidup secara agamis dan saat dicabut arwahnya berlaku tenang dan pasrah kepada Allah. Sedangkan tokoh antagonis dalam cerita itu diwakili sosok bernama Karma. Ia anak orang kaya, berperilaku kebendaan dan tak pernah diajarkan kearifan lokal oleh orangtunya. Ketika Saleh bermain dengan kulit jeruk Bali, justru Karma bermain dengan mobil-mobilan buatan pabrik modern. Ia pun berperilaku kasar terhadap sesama manusia dan hewan. Pengemis yang datang dihardiknya dan hewan-hewan peliharaan, seperti kucing, anjing tak segan-segan dianiaya.

Sekolahnya pun ambruradul dan ia menjadi pecandu alokohol serta kemaksiatan. Singkat cerita Karma merasakan sakit yang luarbiasa ketika malaikat Izrail mencabut nyawanya. Di alam kubur ia disiksa dan ketika disidang di pengadilan Allah, Karma tak termasuk salah satu penganut agama yang ada, sehingga ia kebingungan masuk ke dalam kelompok agama mana. Akhir cerita Saleh masuk surga Firdaus, sedangkan Karma menjadi penghuni tetap neraka Jahanam.

Kisah komik tersebut rupanya ingin mengenalkan suatu kearifan lokal yang sejak dini harus dipahami anak-anak. Seperti kasih sayang terhadap sesama makhluk Tuhan, saling hormat menghormati, menjunjung perintah agama dan belajar secara tekun serta bergaul dengan sesama anak-anak yang salih. Kini komik semacam itu sudah tidak ada lagi dan berganti menjadi cerita sinetron lewat layar televisi yang kadang tak sepadan dengan kearifan yang diterima anak-anak usia dini.

Kearifan Lokal Pada Anak Usia Dini

Pendidikan atau ilmu pengetahuan hendaknya diberikan pada anak di usia dini, karena pada usia dini otak berkembang sangat cepat. Dan pada usia tersebut otak menerima dan menyerap berbagai informasi. Tidak melihat baik atau buruk, pada masa-masa itulah perkembangan fisik, mental maupun spritual anak mulai terbentuk. Sebagai orang tua hendaknya memanfaatkan masa anak dalam usia dini tersebut dengan memberikan pendidikan karakter yang baik bagi anak.

Ada tiga komponen yang diperlukan dalam pendidikan anak usia dini. Yaitu secara fisik, mental dan spiritual, seperti berpikir, (akal pikiran). Dan hendaknya pendidikan anak di usia dini dititikberatkan dengan memberikan dan pengenalan agama yang baik. Tekanan lainnya adalah kasih sayang, didiklah anak dengan penuh cinta dan kasih sayang dan ketiga berupa pendalaman agama. (NMN)

**-**


Penulis   : Nurdin M. Noer – wartawan senior, Peminat Masalah Pendidikan

Komentar
Memuat...