Pengertian dan Tujuan Internalisasi Nilai Dalam Pembelajaran

Pengertian dan Tujuan Internalisasi Nilai Dalam Pembelajaran
0 29.363

Pengertian dan Tujuan: Internalisasi (internalization) adalah suatu proses memasukkan nilai atau memasukkan sikap ideal yang sebelumnya dianggap berada di luar, agar tergabung dalam pemikiran seseorang dalam pemikiran, keterampilan dan sikap pandang hidup seseorang. Internalisasi dalam pengertian dimaksud, dapat pula diterjemahkan dengan pengumpulan nilai atau pengumpulan sikap tertentu agar terbentuk menjadi kepribadian yang utuh.

Internalisasi pada hakikatnya adalah upaya berbagi pengetahuan (knowledge sharing). Internalisasi dengan demikian, dapat pula diterjemahkan sebagai salah satu metode, prosedur dan teknik dalam siklus manajemen pengetahuan yang digunakan para pendidik untuk memberikan kesempatan kepada anggota suatu kelompok, organisasi, instansi, perusahaan atau anak didik agar berbagi pengetahuan yang mereka miliki kepada anggota lainnya atau kepada orang lain.

Tiga Momen Dalam Proses Membangun Pengetahuan

Berger dan Luckmann (1966) menyebut tiga momen dalam proses membangun pengetahuan dalam organisasi, termasuk dalam proses pembelajaran di dalam kelas. Ketiga momen dimaksud adalah: Eksternalisasi, Obyektifikasi dan Internalisasi. Atas asumsi seperti itu pula, penulis memandang bahwa internalisasi adalah suatu model, suatu cara, suatu metode bahkan secara teknis, internalisasi adalah bagian dari upaya berbagi pengetahuan.

Secara konseptual, eksternalisasi pengetahuan adalah proses di mana terjadi pertukaran pengetahuan personal, sehingga pengetahuan dikomunikasikan di antara anggota yang ada. Obyektifikasi pengetahuan adalah proses di mana pengetahuan menjadi realitas obyektif, sehingga pengetahuan tersebut diakui organisasi (komunitas). Sedangkan internalisasi pengetahuan adalah proses di mana pengetahuan yang terobyektifikasi tersebut digunakan personal tertentu dalam mensosialisasikan sikap tertentu atau dari apa yang disebutnya dengan nilai. Internalisasi pengetahuan dilakukan melalui kegiatan pencarian dan menemukan kembali pengetahuan yang tersimpan.

Ada dua kerangka teori yang dapat dijadikan alat analisis dalam mengkaji teori internalisasi. Kedua teori dimaksud adalah psikoanalisis dan psikologi. Kajian psikologi, menyebut bahwa internalisasi, tidak lebih dari sebuah cara membangun dan mengembangkan dimensi-dimensi kejiwaan. Dengan bahasa lain, psikologi mendorong kesadaran kebathinan terhadap nilai-nilai tertentu agar diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam bahasa Achmad Sanusi, internalisasi tidak lain merupakan pengejawantahan perilaku (overt behaviour)  dari pengetahuan yang dimiliki atau harus dimiliki seseorang (covert behaviour). Kajian psikologi melihat internalisasi sebagai aspek-aspek dunia (khususnya aspek orang) di dalam diri rupa agar terjadi internalized yang diambil dari fungsi-fungsi eksternal.

Psikoanalisis, melihat bahwa internalisasi adalah transformasi nilai yang dimiliki kelompok tertentu misalnya dari orang tua kepada generasi sesudahnya. Internalisasi model demikian, akan mendorong pembentukan superego seseorang.

Tujuan Internalisasi

Metode internalisasi, menurut A. Tafsir, memiliki tiga tujuan. Ketiga tujuan dimaksud adalah:

  1. Agar peserta didik tahu atau mengetahui (knowing). Di sini tugas guru ialah mengupayakan agar peserta didik mengetahui sesuatu konsep. Peserta didik diajar agar mengetahui menghitung luas bidang. Guru mengajarkan bahwa cara yang paling mudah untuk mengetahui luas bidang segi empat ialah dengan mengalikan panjang (p) dengan lebar (1) guru menuliskan rumus: luas = panjang x lebar (l = p x 1). Guru mengajarkan ini dengan cara memperlihatkan beberapa contoh bidang. Untuk mengetahui apakah peserta didik telah memahami guru sebaiknya memberikan soal-soal latihan, baik dikerjakan disekolah maupun dirumah. Akhirnya guru yakin bahwa peserta didiknya telah mengetahui bahwa cara menentukan luas bidang segi empat. Selesai aspek knowing.
  2. Agar peserta didik mampu melaksanakan atau mengerjakan yang ia ketahui itu (doing). Dalam hal mengetahui luas bidang seharusnya peserta didik dibawa kealam nyata yaitu menyaksikan bidang (bidang-bidang) tertentu, lantas satu persatu peserta didik (dapat juga dibagi menjadi kelompok-kelompok) mengukur secara nyata dan menentukan luas bidang-bidang itu. Bila semua peserta didik (sekali lagi: semua peserta didik) telah menghitung dengan cara yang benar dan hasil yang benar maka yakinlah guru bahwa peserta didik telah mampu melaksanakan yang ia ketahui itu (dalam hal ini konsep dalam rumus itu tadi). Sampai disini tercapailah tujuan pembelajaran aspek doing.
  3. Agar peserta didik menjadi orang seperti yang ia ketahui itu. Konsep itu seharusnya tidak sekedar menjadi miliknya tetapi menjadi satu dengan kepribadiannya. Dalam hal ini setiap ia hendak mengetahui luas, ia selalu menggunakan rumus yang telah diketahuinya itu. Inilah tujuan pengajaran aspek being.

Pembelajaran Bebas Nilai

Dalam pengajaran yang tidak mengandung nilai buruk-baik (seperti pengajaran matematika itu) proses dari knowing ke doing, dari doing ke being itu akan berjalan secara otomatis. Artinya, bila peserta didik telah mengetahui konsepnya, terampil melaksanakannya, secara otomatis ia akan melaksanakan konsep itu dalam kehidupannya. Nanti dalam kehidupannya, ia akan selalu mengalikan panjang dengan lebar bila mencari luas. Jika ia kurang baik akhlaknya, paling jauh ia menipu angka mungkin ia menipu dalam mengukur panjang atau lebar, tetapi rumus itu tidak mungkin di selewengkannya. Karena itu dalam pengajaran yang tidak mengandung nilai (maksudnya: konsepnya bebas nilai) proses pembelajaran untuk mencapai aspek being tidaklah sulit. Hal itu, menurut A. Tafsir akan sangat berbeda dengan apa yang diajarkan guru dalam bidang sosial, termasuk dalam mata pelajaran agama.

Internalisasi nilai dalam proses pembelajaran, pun dalam soal pendidikan agama dan ilmu-ilmu sosial lainnya, impelementasinya setidaknya membutuhkan motivasi dari seluruh elemen pendidikan. Tidak hanya guru, atau dosen, tetapi, juga pemimpin lembaga pendidikan dimaksud.

Secara teoretik, implementasi motivasi untuk melakukan internalisasi nilai itu, setidaknya membutuhkan tiga pendekatan, yaitu; 1) isi (content), 2) proses, 3) dan pengetahuan. Teori dengan pendekatan isi lebih banyak menekankan pada faktor apa yang membuat individu melakukan suatu tindakan dengan cara tertentu atau nilai tertentu. Tergolong kedalam kelompok teori ini masuk misalnya teori jenjang kebutuhan dari Maslow, yang sepintas terkesan secular karena menjauhkan dimensi keberagaman.

Oleh: Dr. H. Djono

Komentar
Memuat...