Pentingnya Internalisasi Nilai Bagi Perkembangan Sosial Budaya

0 101

Pentingnya Internalisasi Nilai Bagi Perkembangan Sosial Budaya: Internalisasi muncul untuk mengantisipasi meningkatnya gejala perilaku hedonis yang tidak hanya merubah masyarakat umum, tetapi, juga kalangan remaja termasuk anak-anak pelajar dan mahasiswaGejala tersebut secara sederhana dapat terlihat dari penampilan anak remaja mulai dari penggunaan potongan rambut yang fungki, junkies, lurus ala koboi jalanan dengan tempelan cat-cat tertentu layaknya bulu-bulu burung yang beraneka ragam.

Gejala dimaksud, sering pula dianggapnya modern. Anggapan tersebut diperkuat oleh suatu asumsi bahwa sesuatu yang bergaya Barat atau dapat ditahbiskan seperti orang Barat, dianggapnya baik. Padahal, secara hakikiyat belum tentu sesuai dengan nilai dan moral masyarakat Indonesia, terlebih nilai agama yang menjadi anutan mayoritas masyarakat.

Gaya hidup hedonis ditambah dengan aksesoris perilaku yang cenderung konsumeris. Genggaman handphone (HP) ala eksekutif muda, dan tampilan pakaian yang belum tentu mencerminkan adat masyarakat beragama, menambah pola hidup yang hedonis.

Gaya-gaya dimaksud, sekilas tampak wajar. Iklim masyarakatpun seolah-olah mendorong hal itu terjadi. Namun, bila gejala-gejala tersebut ditelaah (diobservasi) lebih dalam,  sebenarnya ada tendensi di mana manusia mulai jatuh ke dalam homogenitas global budaya pop. Di letak ini, kaum remaja yang dituntut menjadi menjadi homo significans, sebagai bekal perjalanan kehidupannya, malah jatuh ke dalam pendangkalan sisi kemanusiaan itu sendiri.

Homogenitas budaya pop yang menjadi anak kandung dari teknologi informasi yang menglobalkan dunia, telah menyebabkan manusia menjadi berubah. Manusia dengan segala budaya hasil akal budinya, terus berkembang, semakin mengkokohkan kedudukannya di muka bumi yang ujungnya seolah-olah tidak ada satu God’s creature lain yang mampu menyaingi kreativitas manusia, selain manusia itu sendiri, bila perlu termasuk usaha melakukan alienasi terhadap peran Tuhan.

Manusia dalam budaya pop global dimaksud, kini telah beralih yang kontradiksional dengan fase-fase sebelumnya. Disebut kontradiksional karena fase ini berbeda jauh dari fase-fase sebelumnya. Fase ini oleh para ahli sosiologi disebut dengan globalisasi.

Arus Globalisasi

Globalisasi, di satu sisi, terus berkembang menuju arah yang lebih baik, baik dari segi fisik maupun non-fisik. Sistem politik, kekuasaan, dan hukum semakin disempurnakan. Bahkan, demokratisasi dan transparansi begitu nyata dan dirasa sangat berguna bagi kehidupan umat manusia. Teknologi bidang komunikasi dan transportasi mengatasi batas-batas wilayah dan membuat Bumi terasa sempit.

Ilmu hayat dan kedokteran semakin meningkatkan tingkat kesejahteraan manusia. Namun, tidak boleh dilupakan bahwa hasil perkembangan ilmu pengetahuan teknologi yang “diciptakan” manusia ini pun, ternyata ambivalen. Salah satu pengaruh negatif tersebut adalah berubahnya kodrat manusia yang dalam kasus tertentu terasa mendangkal.

Konsekwensi berubahnya karakter manusia tadi, dapat juga dilihat dari maraknya bacaan novel-novel ringan, komik yang arahnya tidak lagi mendorong esensial kemanusiaan. Bacaan-bacaan dengan analisis yang mendalam dan bermutu kini malah menjadi minoritas kalau bukan tidak ada sama sekali. Buku-buku serius dengan analisa yang tajam, umumnya, hanya tersentuh jika terpaksa, misalnya saat melaksanakan tugas akademis.

Begitu pula dengan musik. Musik-musik klasik yang rumit masih menjadi barang yang asing. Bahkan, penghayatan musik malah jatuh dalam pragmatism, musik-musik Mozart yang dipercaya mengandung Mozart effect dinikmati dan dihayati bukan karena keindahannya, melainkan hanya karena ingin lebih cerdas. Bahasa daerah ditinggalkan, digantikan dengan bahasa yang ngepop, meskipun mungkin semua itu tidak bagus. Gejala-gejala di atas dianggap sebagai adaftasi dan rasionalisasi, padahal semua itu mengandung tendensi yang berkaitan dengan masalah gengsi dan penghayatan hidup. Televisi adalah bukti lain bergesernya budaya remaja. Layar kaca segi empat ini telah menjadi “narkoba” bagi banyak manusia. Padahal televisi sesungguhnya sedang menciptakan manusia menjadi lebih dangkal.

Bila pendangkalan ini terus dipelihara dan dibudidayakan, makna dan penghargaan terhadap manusia akan terus semakin jatuh. Hasilnya adalah tidak adanya bentuk-bentuk penghargaan terhadap manusia sebagai manusia. Munculnya perang di berbagai lapisan daerah, terorisme, pemboman, pembunuhan, pemerkosaan dan tawuranadalah contoh paling nyata adanya kehancuran kebudayaan manusia.

Internalisasi Sebagai Pintu Masuk Homo Significant

Internalisasi dengan demikian, adalah salah satu pintu masuk agar manusia dapat menjadi homo significans, yakni sekelompok makhluk Tuhan yang diciptakan untuk mencipta dan memberi makna terhadap kehidupan. Kenyataan yang ada, manusia-manusia pasca-modern ini terjebak dalam pendangkalan hidup. Tendensi mereka mengarah kepada homogenitas budaya pop, bertolakbelakang 180 derajat dari hakikat manusia yang sesungguhnya. Karena itu, diperlukan usaha-usaha untuk menetralisir kecenderungan negatif ini tanpa menghilangkan unsur-unsur positif globalisasi.

Jurus paling ampuh dalam mengatasi gejala homogenitas budaya pop semacam itu adalah pengendapan; yang terminologi terbaru sering disebut internalisasi untuk mengantisipasi arah pendangkalan, yang solusinya adalah pendalaman. Internalisasi merupakan suatu proses memaknai kembali -secara mendalam, tentunya- makna-makna hidup. Makna hidup yang tadinya dihargai secara dangkal, kali ini digali dan diselami.

Memang keistimewaan manusia ialah karena ia adalah mahluk berpikir atau berakal, sedangkan berpikir atau menggunakan akal itu diperintahkan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Para ahli baru dapa menjelajahi sebagian kecil saja  dari rahasia-rahasia yang berkaitan dengan berpikir itu. Namun dapat diterima sebgai aksioma bawa berpikir bermutu terkait erat dengan nilai-nilai bermutu dan keahlian-keahlian bermutu, selanjutnya dengan pengetahuan dan sikapbermutu. Ini bersambung dengan kemampuan dan carakerja bermutu. Selanjutnya ia bersambung dengan kerja/ performance dan output  bermutu, dan dengan kehidupan masa depan yang bermutu.

Sesuai dengan aksioma di atas, maka terlebih-lebih dalam lingkungan pendidikan khususnya, berpikir dan belajar berpikir bermutu itu sama pentingnya bagi para siswa, para guru, dan para penegak pendidikan lainnya disekolah dan dikantor-kantor pengelola pendidikan. Belajar yang bermutu sama dengan belajar dengan menggunakan metode berpikir yang tepat.

Pola Pikir Empiric-Kontekstual

Selama beberapa malam di bulan puasa beberapa tahun yang lalu, penulis pernah berspekulasi bahwa, selain dibatasi atau dipengaruhi atau diwarnai  oleh sistem nilai dan kepercayaan yang menjadi rujukan hidupnya, cara berpikir seseorang itu dipengaruhi juga oleh kondisi-kondisi empirick-kontekstualnya. Jadi berpikir itu, pada aspek mental dan spiritual maupun fisiknya. Tidaklah statis tanpa variasinya, yang dengan demikian menghadapkan “PR” (pekerjaan rumah) kepada kita untuk terus belajar berpikir, bersikap, bersikap slektif dan dinamik.

Dalam banyak ayat dan suratnya, kitab suci Al-Qur’an memerintahkan kita selain melakukan zikrullah (zikir kepada Allah) dengan menggunakan pikiran dan akal. Sekurang-kurangnya dapat ditemukan 19 hadis Nabi Muhammad SAW. Yang memerintahkan kita menggunakan pikiran dan akal. Hanya saja hingga saat ini penulis belum menemukan banyak kepustakaan mengenai metode atau cara berpikir dan bersumber langsug perintah-perintah  syar’iah itu.

Disamping unsur jasmani Imam al-Ghajali  membagi potensi mental-spiritual manusia dalam empat unsur, yakni ruh, aqal, nafs, dan qalb. Menurut faham beliau, bimbingan mental-spiritual berpusat pada qalb. Qalb itu harus selalu diperindah dengan zikrullah, sebab ialah yang menempatkan tuduhan dan langka-langkah etik paling mendasar dari perilaku manusia.

Qalb di bantu oleh aql yang pungsinya memberi imformasi atau input, merangkan dan memberi pertimbangan tentang kadar logika dari dari tujuan dan langkah etik. Jadi aktivitas aql tidak boleh lepas dari aktivitas qalbNafs  berfungsi mendorong atau memberi kadar kemauan atau semangat dalam membantu aql dan qalb. Jelas juga disini bahwa nafs tidah boleh lepas dari qalb dan aql.

Sebegitu jauh, aplikasi metode Imam al-Gazali umumnya lebih berfokus pada pengendalian fungsional qalb dalam urusan ibadah mahdhah dan ghoer-mahdhah. Beliau tidak memberi kunci-kunci pas untuk mengendalikan qalb dalam memerjuni perilaku amal muamalah secara luas, atau khususnya perilaki kerja, jabatan atau profesi dalam masyarakat serba etnik dan antar bangsa dengan tingkat kapitalisme dan teknologi canggih seperti dewasa ini.

Dzikrullah Dalam Pendidikan

Tetap dengan zikrullah kita coba berusaha melirik kesudut-sudut lain. Karya para ahli dari berbagai belahan bumi ini penting dikaji, mungkin ditarik manfaatnya bahkan sampai sebesar-besarnya. Begitu banyak karya para ahli sebagai hasil bertahun-tahun penelitian mereka tentang brain, mind, spirit, soul, thinking, knowling, feeling, emotion dan willing.

Akan tetapi kita tidak boleh lupa daratan, terbius oleh hasil-hasil penelitian empirik maupun eksperimental, betapapun ia layak dikagumi, jika itu sampai kuasa mempengaruhi mata hati kita untuk tidak lagi mau bersyukur, beribadah, berdo’a dan beriman kepada Yang Maha Pencipta.

Di IKP dan lembaga-lembaga pendidikan guru lain sudah barang tentu teori-teori atau konsep-konsep pedagogi atau andragogi, didaktik, metodik dan metodik khusus yang bersumber pada kepustakaan Barat sering dipaparkan dan dibahas secara keritis.

Demikian juga berbagai metode belajar pada umumnya. Metode-metode belajar pada khas untuk anak maupun remaja dan orang tua yang dasar orientasinya humanistik, kognitf, konstruk-tivistik, behavioristik atau lainnya. Menurut versi barat sering juga dipresentasikan dalam diskusi kelas atau forum seminar.

Dalam banyak kajian deskriptif-analitik, kelemahan mutu output belajar maupun manajemen itu biasanya dijelaskan seiring dengan kekurangan infrastruktur, fasilitas, kualifikasi dan kompetensi tenga kependidikan, sistem insentif dan gaji.

Dalam hal ini deskripsi dan analisis itu dihadapkan pada masalah-masalah medan seumpama gunung es, dimana data empi-rik dan pertalian korelasional atau kausal antara berbagai variabel yang tampil di permukaan itu bukanlah yang mendasar atau mengakar. Seringkali sumber-sumber yang merupakan faktor penyebab yang lebih signifikan itu, yang disini disebut basic values, justru tidak tampak kepermukaan dan tidak terungkapkan, oleh karena ia berada di bawah/dalam gunung es itu sendiri.

Lemahnya Visi Pendidikan

Salah satu analisis kualitatif menjelaskan bahwa akar masalahnya, dapat dikembalikan pada masih lemahnya visi kita sendiri, yang mencakup (a)  basic values, (b) mision,  dan (c)  objectives yang nyata mengenai pendidikan dasar dan menengah khususnya. Rincian dari semua itu belum hidup dengan manta, belum dapat dijadikan rujukan dengan tangguh, dan belum mampu berperan sebagai pedoman pengendalian.

Di sisi lain, kita tidak mampu apalagi mempunyai komitmen yang tinggi untuk mengidentifikasikan unsur-unsur strategik dalam memanfatkan peluang yang ditawarkan oleh high-touch and high-tech, padahal ia merupakan faktor-faktor percepatan.

Di tengah-tengah makin derasnya pengaruh negatif dari perubahan sosial yang pasti tidak kecil dampaknya terhadap dunia pendidikan. Kini adalah saatnya yang tepat pada bidang pendidikan untuk menemukan vektor-vektor yang mampu berperan mengendalikan percepatan mutu.

Pendidikan sendiri, dalam arti proses belajar mengajar dan sistem manajemennya, harus mengambil prakarsa untuk menyisipkan unsur reformasi yang strategi, atau reformasi yang mendasar.

Meskipun unsur-unsur high touch and high tech itu dirumuskan sebagai sisipan terhadap kebijakan yang ada, namun jika dikerjakan secara sungguh-sungguh dengan budaya mutu (quality culture), meskipun tidak disebut reformasi apalagi revolusi, namun hasilnya diam-diam “insya Allah” akan menakjubkan.

Oleh: Dr. H. Djono, MA

Bahan Bacaan

Francis Fukuyama. The Great Disruption. Human Nature and the Reconstitution of Social Order. London: Profile Books, 2000. Hlm. 28-29

Bambang Joko Susilo. Jangan Main-main dengan Tuhan. Jakarta: Republika, 2009. hlm. 1-20

Max Webber. The Protestan Etich and the Spirit of Capitalisme. London: Allen and Unwin, 1930. Hlm. 45

AC. Ewwing. The Fundamental Quistion of Philoshopy. New York: Collier Books, 1962. hlm.  76.

Jack R. Fraenkel. How to Teach abou Values: An Analytic Aproach. USA: Prentice Hall, tt. hlm. 31

Fritjof Capra. Titik Balik Peradaban: Sains Masyarakat dan Kebangkitan Kebudayaan. Terj. M. Thoyibi. Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya, 1997. hlm. 11

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.